
"Alvin lagi ngapain ya? Gak kangen sama aku? Udah dua tahun gak pulang. Setahun lalu dia gak jadi pulang. Hilang komunikasi gitu aja. Sekarang juga gak ada kabar sama sekali. Padahal Kak Rasya hari ini juga udah pulang lagi. Udah kecantol bule kali di sana sampai lupa sama aku." Rili duduk di kursi sendiri. Hanya memandang langit cerah yang terhalang dedaunan.
Dia kini duduk di kursi taman belakang sekolah dengan seragam putih yang sudah penuh dengan coretan pilox dan tanda tangan dari sahabat-sahabatnya. Ya, hari itu adalah hari pengumuman kelulusan Rili. Harusnya dia bahagia tidak bermuram durja seperti ini. Bahkan dia sampai tidak ikut makan bersama teman-temannya hari itu karena hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Sumpah, miss you like crazy.
Rili mengambil ponselnya lagi. Masih berharap ada chat yang terbalas tapi tetap sama hanya centang dua abu sejak kemarin. Sebulir air mata tiba-tiba lolos dari matanya yang semakin lama semakin terisak.
"Jangan menangis. Please..."
Suara itu dan rengkuhan tangan kokoh yang menariknya ke dalam pelukan benar-benar hampir membuat napas Rili seolah terhenti.
Rili mendongakkan kepalanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Alvin..."
"Jangan sedih. Maafin aku..."
Rili mendorong Alvin cukup kuat hingga membuat pelukan itu terlepas. "Kamu kemana aja sih? Lupa sama aku?"
"Kalau lupa aku gak bakal ada di sini nemuin kamu."
"Tahun kemarin kamu kemana gak pulang? Udah gitu gak ngasih kabar aku sama sekali sampai satu minggu lebih. Dan sejak saat itu bisa dihitung dengan jari chat dari kamu. Boro-boro vc, telpon aja gak pernah diangkat. Kak Rasya masih bisa loh rutin vc sama keluarga."
"Kan kamu bisa tanya sama Rasya."
"Tanya? Kamu sekongkol sama Kak Rasya. Pasti tiap aku tanya Kak Rasya jawabnya kamu lagi keluar sama miss ini, miss itu. Jangan-jangan kamu memang punya miss di sana."
Alvin justru tertawa kecil mendengar kecerewetan Rili yang sangat dia rindukan.
Rili kini membuang muka dan memunggungi Alvin. "Kamu tahu gak, aku itu kangen sama kamu. Miss you like crazy. Tapi kamu jarang banget komunikasi sama aku. Paling gak kamu ngasih kabar sama aku kalau kamu memang udah..." Rili kembali menangis. "Kalau kamu udah gak sayang sama aku itu bilang." suara Rili terdengar serak.
"Nih." Alvin menyodorkan tisu yang langsung diambil Rili untuk menyeka air matanya. "Kamu minum dulu untuk mengembalikan cairan yang terbuang." Alvin kini menyodorkan sebotol pocari sweat yang telah terbuka sealnya. Awalnya dia memang ingin memberi kejutan Rili dengan membawa segebok bunga. Tapi sepertinya bunga tidak terlalu dibutuhkan. Dia bisa menebak hal apa yang akan terjadi saat dia pertama kali bertemu dengan Rili. Pasti Rili akan langsung mencurahkan segala emosinya yang terpendam selama dua tahun ini.
Setelah Rili meminumnya, Alvin kini mulai berbicara. "Sekarang aku boleh bicara?"
Rili hanya mengangguk.
"Kamu salah. Aku selalu sayang sama kamu. Dan soal miss itu, gak ada. Itu hanya sebutan buat dosen-dosen di sana."
Alvin menghela napas panjang. "Kamu tahu, aku juga sangat merindukan kamu. Iya, aku salah gak ngasih kabar kamu. Maaf, aku salah."
Rili kini sedikit memutar badannya hingga berhadapan dengan Alvin. "Tapi kenapa kamu gak chat aku?"
"Karena aku mau ngasih surprise kamu."
"Terus yang tahun lalu?"
__ADS_1
"Oh, itu. Aku ikut audisi master chef. Tapi sayang aku cuma masuk 10 besar. Tapi gak papa, aku dapat banyak pengalaman dan sejak saat itu banyak tawaran buat ngisi di youtube chef-chef di sana yang sedang review masakan Indonesia, jadinya aku..."
"Sibuk sampai lupa ngasih kabar." potong Rili. "Harusnya kamu bilang dong sama aku."
"Iya, maaf. Aku lakuin ini biar kamu gak terlalu kepikiran sama aku di sana yang nyatanya gak hanya kuliah tapi malah cari uang tambahan buat modal."
Rili tersenyum getir. Dia kini meraba wajah Alvin, menelusuri rahang yang lebih terlihat menonjol. "Kamu sekarang kurusan ya."
"Iya, capek nahan rindu sama kamu."
"Gombal." Rili mencibir.
"Serius. Tapi kamu tambah cantik ya. Dua tahun gak ketemu udah kelihatan semakin dewasa."
"Kamu juga, dua tahun gak ketemu udah kayak bapak-bapak."
"Masak sih?"
"Bercanda."
"Hah, kirain. Belum juga punya anak masak udah kayak bapak-bapak."
Tangan Alvin kini terulur untuk mengusap pipi Rili. "Jangan nangis lagi ya. Apalagi nangisin aku. Kamu harus tahu, aku gak akan berhenti mencintai kamu."
"Buktinya?"
"Al, itu bukan bukti."
"Oke. Tunggu aku ya. Suatu saat nanti aku akan buktiin, bahwa aku benar-benar ingin memiliki kamu selamanya."
Rili kini tersenyum lalu mereka berpelukan dengan erat.
"Rili, di sini masih ada cctv gak?" tanya Alvin.
"Udah gak ada, kena petir."
"Syukurlah."
"Mau apa?" Rili merenggangkan pelukannya walau kedua tangan mereka masih sama-sama memeluk.
"Melepas rindu."
Rili hanya tersenyum. Yeah, you know what they will to do.
Mereka saling mendekat. Tidak ada rasa ragu lagi. Dengan pasti dan penuh perasaan mereka menyatukan diri. Hangat, lembut dan sangat bergelora. Melepas rindu yang selama dua tahun tertahan. Menyalurkan rasa cinta yang tidak cukup dengan kata-kata.
__ADS_1
Mereka saling menuntut dan seolah enggan untuk melepaskan. Saling berbalas hisapan serta gigitan-gigitan kecil yang membuat aliran darah terpompa semakin cepat.
Semakin dalam dan semakin membara.
Alvin menyudahinya dengan satu hisapan yang cukup kuat.
Rili kini menyentuh bibirnya yang terasa tebal dan berdenyut. "Ih, Alvin."
Alvin hanya tersenyum sambil mengatur napasnya. "Udah. Ampun. Aku bisa mati kesetrum di sini. Tegangannya benar-benar tinggi hampir meledak."
"Ih.." Rili memukul perut Alvin lalu sedikit menjauhkan dirinya. "Ini bengkak?"
"Dikit." Alvin mengambil alih tangan Rili lalu mengusap lembut bibir Rili yang terlihat merah karena ulahnya. "Sorry." Setelah itu tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Rili. "Aku antar kamu pulang terus jalan yuk. Aku udah dapat izin resmi dari Papi."
"Beneran? Kamu di sini berapa hari? Yang lama ya?"
"Cuma seminggu."
"Yah."
"Sabar. Aku bakal cepat nyelesaiin study aku di sana. Oiya, aku sama Rasya ada rencana mau adain reoni di rumah kamu lusa sekalian buat ngerayain kelulusan kamu."
"Pasti seru."
"Iya. Udah yuk pulang." Mereka berdua berdiri lalu berjalan sambil bergandengan tangan. "Kamu mau jalan kemana? Taman? Mall? Atau nonton bioskop aja. Jangan ajak ke hotel ya, belum boleh."
Rili mendaratkan cubitannya di pinggang Alvin sambil mencibir. "Ih, siapa yang mau ajak ke sana. Kamu kali yang omes."
Mereka tertawa bersama sambil bersentuhan mesra. Bahagia. Ya, semoga selalu bahagia.
💞💞💞
.
.
Aduh, cctvnya rusak jadi aku gak bisa lihat.. 🙈
Tangan ini udah gatel pengen lanjutin si Alvin..
.
Duh, sabar dulu ya Alvin..
__ADS_1
Sempat berpikir mau ganti cover pake ini tapi gak bisa.. 🤔 Simpan sini ajalah buat kenangan.. 😔