Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Just A Good Boy


__ADS_3

Angin malam itu begitu sejuk menerpa badan seseorang yang sedang melamun di lantai dua sebuah restoran. Tak butuh makan atau minuman, tak juga sungkan walau duduk berjam-jam karena dia adalah anak pemilik restoran itu. Hanya saja di setiap pikirannya yang sedang kalut, selalu saja makhluk tak kasat mata itu seolah muncul berjamaah. Ada yang menertawakannya, ada yang menggodanya bahkan ada yang berbisik-bisik di telinganya.


"Udah jangan nertawain nasib sial gue...." Kalau orang yang tidak tahu mungkin mereka mengira Alvin sudah gila berbicara sendiri. "Apa? Lompat? Gila, gue gak punya pikiran kayak gitu. Lo lompat sendiri aja sana."


Alvin membuang napas kasar. Sebenarnya dia ingin menyibukkan dirinya agar tidak berlarut memikirkan masalahnya yang membuat hal negatif terus mendekat seperti ini tapi di restoran sudah tidak ada pekerjaan lagi. Bisa-bisa dia kerasukan atau kemakan hasutan setan untuk bunuh diri atau bahkan berbuat nekat lainnya.


Satu tepukan kini didapat Alvin yang membuatnya sedikit terperanjat.


Dia menoleh ke sisi kiri. "Papa..."


Pak Iwan hanya tersenyum simpul. Dia sudah tahu jika Alvin memang bisa melihat makhluk tak kasat mata. "Sudah malam, lebih baik kamu pulang. Pekerjaan di restoran kan gak terlalu banyak."


Alvin hanya menghela napas.


"Kamu ada masalah apa? Jangan bicara sendiri di sini. Papa jadi merinding."


"Iya, Pa. Ada sedikit masalah."


"Masih soal putrinya Pak Rizal?"


Alvin mengangguk pelan.


"Ada apa? Hubungan kamu dilarang?"


Alvin menggelengkan kepalanya. "Aku udah buat kesalahan besar, Pa."


Wajah Pak Iwan berubah menjadi sangat serius. "Kesalahan apa? Kamu udah hamili pacar kamu??"


"Eh, bukan Pa. Bukan." Sudah dua kali orang salah paham dengan kalimatnya. Walau memang tidak bisa dipungkiri jika saat itu dia meneruskan adegannya bisa-bisa dia juga akan menyicil membuat anak sebelum waktunya.


"Lalu apa?"

__ADS_1


Alvin hanya menghela napas panjang. Dia juga tidak tahu harus cerita bagaimana pada Papanya.


"Apapun masalah kamu pasti semua akan ada jalan." Pak Iwan menepuk pundak Alvin. "Papa cuma mau mengingatkan kamu, kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus bisa jaga dia. Jangan malah kamu rusak."


Perkataan Pak Iwan begitu mengena di hati Alvin. Seketika hatinya terasa sesak. Walau memang yang dia lakukan hanya sebatas ciuman, tapi itu ciuman yang beda. Ciuman penuh nafsu yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri bahkan tangannya sudah berani menyusup dan memegang apa yang seharusnya tidak dia pegang.


"Iya Pa, Alvin salah."


"Sudah mengerti kan kalau salah. Mulai sekarang kamu perbaiki diri kamu. Kamu fokus apa yang ada sekarang. Meskipun mungkin kamu sekarang akan kehilangan cinta tapi kamu masih bisa berjuang nanti di titik terakhir saat kamu sudah siap secara lahir dan batin baik materi maupun non materi."


Alvin kembali menghela napas panjang setelah mendengar sedikit wejangan dari Papanya. Ya, yang terpenting sekarang memang hasil akhirnya. Sedikit beban di hatinya kini menguar.


"Ya sudah. Kamu pulang saja sudah malam. Jangan sampai kamu di gangguin lagi sama preman dekat ruko kosong itu."


"Kalau itu Papa tenang aja. Preman itu udah pada takut. Anak Papa kan jagoan."


"Jagoan dalam segala hal ya." Pak Iwan tersenyum sambil menepuk pundak Alvin sekali lagi.


Saat melintasi ruko-ruko kosong itu, Alvin mendapati seorang preman yang pernah mengganggunya sedang mengambil paksa sebuah ponsel dari mangsanya.


Saat korban akan merebutnya kembali preman itu justru kabur.


Alvin segera menghentikan motornya dan mencekal tangan preman itu lalu merampas ponsel itu.


"Bang, kemarin gue lepasin sekarang berbuat ulah lagi. Mau babak belur lagi!!"


Preman itu melebarkan matanya ketika melihat Alvin. Beberapa minggu lalu dia memang berniat memalak Alvin tapi sayang itu justru merupakan kesialan karena Alvin berhasil membuat preman itu babak belur.


"Gua lagi butuh uang."


"Nih, nih, kalau butuh uang." Alvin justru mengeluarkan selembaran uang 50rb. "Dikit aja, gue masih sekolah. Kalau butuh kerja, tuh di restoran ujung jalan ini lagi butuh tukang parkir. Nanti bilang aja temannya Alvin."

__ADS_1


"Makasih Bang. Makasih. Gak nyangka masih ada yang berbuat baik sama orang yang jahat seperti saya."


"Jangan sia-siakan kesempatan kedua ini."


"Baik Bang, baik." Lalu preman itu berlalu dengan senyum mengembang.


Alvin akan mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya tapi tiba-tiba pemilik ponsel itu menyambar dengan cepat dan langsung membawa kabur ponselnya.


"Woy!!! Sial!!! Jadi elo!!!"


Pemilik ponsel itu berlari dengan cepat saat Alvin mengejarnya. Baru kali ini dia menyesal telah menolong seseorang. Tidak! Tidak boleh berpikir seperti itu bukan. Seorang lelaki baik tak peduli dengan siapa yang dia tolong. Tapi kali ini beda. Andai saja dia tahu bahwa ponsel itu milik Zaki, dia tidak akan memberikannya lagi pada pemiliknya.


"Zaki!" Alvin semakin mempercepat langkahnya berniat merebut ponsel Zaki kembali dan menghapus video dirinya.


Zaki menyeberang jalan pertigaan tanpa melihat terlebih dahulu jika ada sebuah truk dengan kecepatan yang lumayan tinggi berbelok ke arahnya.


"Zaki!!" Dengan cepat Alvin menarik tubuh Zaki hingga membuat dirinya jatuh dan dahinya terbentur trotoar. Meskipun tidak terlalu keras tapi sudah mampu membuat goresan di dahi Alvin.


"Woy, kalau nyeberang lihat-lihat!!" teriak sopir truk itu sambil berlalu.


Alvin mengusap dahinya yang terasa sakit.


Hal itu memberi kesempatan Zaki untuk kabur. Zaki segera menuju motornya dan beberapa detik kemudian dia meninggalkan Alvin yang masih duduk di trotoar sambil memegang dahinya. Dasar pria jahat tidak punya hati.


"Kenapa gue mesti nyelametin setan kayak Zaki. Gak punya hati ya tuh anak. Kenapa gak gue biarin mati aja. Shits!!!" Alvin mengusap dadanya berusaha meredam emosinya.


"Hp itu udah di tangan gue. Harusnya masalah gue udah selesai." Alvin terus saja mengumpat kesal. Dia kini berjalan gontai menuju motornya. Baru kali ini dia menyesal telah berbuat baik.


💞💞💞


Kalau udah ke pov nya Alvin, duh, bikin hati ini greget.

__ADS_1


__ADS_2