Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Kehilangan


__ADS_3

"Ra, kamu beneran ninggalin aku." Rasya masih saja meneteskan air matanya menatap gundukan tanah yang masih basah dan dipenuhi bunga. "Aku gak minta kamu buat balas cinta aku, tapi gak kayak gini caranya kamu menjauh dari aku."


"Udah, Sya. Udah. Semua orang pasti pernah merasakan kehilangan. Kamu harus ikhlas ya." Rizal merengkuh pundak putranya berusaha untuk menenangkannya.


Di samping mereka berdua ada Rili yang juga masih menangis di pelukan Maminya. Lalu di depan mereka ada Dewa dan Karin yang masih berpelukan sambil menatap nanar pusara putrinya tanpa berkata apapun.


"Om, maafin saya. Saya gak bisa jaga Dara selamat sampai rumah." kata Rasya yang kini bersitatap dengan Dewa.


Dewa menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salah kamu. Ini sudah kehendak-Nya." Ini ketiga kalinya Dewa merasakan kehilangan. Masih sama sakitnya. Apalagi sekarang buah hatinya yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dia berusaha untuk ikhlas walau sebenarnya sangat tidak rela. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Karin karena masih saja merasakan isak tangis Karin di dadanya. "Ma, udah jangan terlalu sedih biar Dara tenang di sana." Dewa mengusap punggung Karin agar sedikit lebih tenang. "Kita ikhlaskan ini semua."


Karin mengangguk lemah. "Ternyata mimpi-mimpi aku selama ini benar Pa, kalau Kak Dewi akan mengajak Dara pergi."


"Sudah. Sudah. Jangan bilang seperti itu. Kita do'akan semoga mereka tenang di alam sana."


Tak jauh dari mereka, ada Alvin yang sedang berdiri. Dia beberapa kali memejamkan mata sambil menekan ujung matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dengan keadaan saat ini. Banyak makhluk tak kasat mata yang berseliweran. Bahkan dia beberapa kali melihat Dara dan Dewi yang muncul lalu hilang kembali.


Baru kali ini aku ngerasain kehadiran mereka yang tidak biasa seperti ini. Tenaga aku seolah di sedot sama mereka. Apa sebaiknya aku pulang saja.


Alvin berjalan pelan lalu berjongkok di belakang Rili.


"Rili..." panggil Alvin pelan.


Rili menoleh sambil mengusap sisa air matanya.


"Aku pulang dulu ya."


"Kamu kenapa? Kamu kok pucat?" Perkataan Rili membuat Maminya juga ikut melihat Alvin.


"Iya, kamu pucat banget. Kamu sakit? Bisa pulang sendiri?"

__ADS_1


Alvin menggelengkan kepalanya. "Tidak tante. Cuma di sini banyak..." Alvin mengedarkan pandangannya lagi. Semakin sore rasanya tempat itu semakin dipenuhi makhluk itu. Dia semakin merasa sesak dan seolah kehabisan oksigen.


"Iya, aku ngerti. Gak papa kamu pulang dulu aja." kata Rili. "Aku antar ya ke depan." Kata Rili yang kini mengikuti Alvin berdiri.


"Mami antar juga ya..." Lisa berdiri lalu membisikkan sesuatu pada suaminya yang hanya dibalas anggukan.


"Dewa, Karin. Yang sabar ya. Aku mau ke depan dulu." pamit Lisa yang hanya dibalas anggukan samar dari mereka berdua.


Setelah mereka bertiga berlalu, keadaan sunyi beberapa saat.


Rizal masih terus menguatkan putranya dengan usapan di bahunya karena Rasya masih belum juga menghentikan tangisnya.


"Udah ya. Kita pulang?"


Tiba-tiba Rasya teringat pesan terakhir Dara tentang cincin itu. Dia kini membuka tas selempangnya lalu mengeluarkan kertas yang terlipat dimana ada sebuah cincin di dalamnya. "Pi, ini pesan terakhir dari Dara." Rasya menyerahkan kertas itu pada Papinya.


Rizal menerima kertas itu lalu membukanya. "Cincin ini lagi?" Dahi Rizal mengerut lalu dia membaca isi kertas itu.


Perkataan Rasya berhasil membuat kedua orang yang masih berpelukan ini menatapnya.


Rizal menghela napas panjang. "Masih soal cincin ini lagi?"


"Iya, itu pesan terakhir Dara."


Rizal menunduk beberapa saat untuk berpikir. "Ya sudah. Mungkin dengan cara ini, masalah ini akan berakhir."


Rizal berdiri lalu berjalan beberapa langkah menuju makam Dewi yang memang tak jauh dari makam Dara. Dia kini berjongkok dan menatap tanah yang telah hampir rata dan mengering. Hanya batu nisan sebagi penanda.


Dia mencari ranting pohon untuk mengorek tanah. Lalu memasukkan cincin itu bersama dengan kertas yang membungkusnya, lalu menutupnya kembali dengan tanah.

__ADS_1


Dewi, kamu tenang ya di sana. Maaf aku gak bisa wujudin keinginan terakhir kamu. Cincin ini sekarang sudah menjadi milik kamu. Tidak akan ada seorang pun yang akan memilikinya...


Rizal menekan ujung matanya. Keheningan yang tercipta seolah mampu menyentuh relung hatinya. Begitu banyaknya kejadian hanya karena kisah cintanya di masa lalu.


Satu tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya. Dia kini menatap seseorang yang ikut berjongkok di sampingnya.


"Maaf dengan semua kejadian yang telah menimpa keluarga kamu."


Rizal menggelengkan kepalanya. "Gak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah di sini."


Kini Dewa memeluk sahabat lamanya yang sebenarnya sudah sangat dia rindukan kedekatannya seperti dulu.


"Jangan menghindar lagi. Kita masih bisa bersahabat seperti dulu." Satu tepukan dari Rizal di punggung Dewa seiring dilepaskannya pelukan itu.


"Iya..."


💞💞💞


🤧🤧🤧


Mau nyapa pembaca setia dulu.. 😘 Walau pop belum jadi ember gak papa kan berasa pemes.


Kisah misteri ini akan segera berakhir ya seperti kata Alvin.. 🤧 Beberapa episode lagi akan tamat. 🤧


tapi tenang saja masih akan dilanjut ke seasion 3, genre romance ya. 😆😆 makanya gak aku sambung di sini.. Jangan sampai kisah misteri tercampur aduk sama mesumnya Alvin after marriage. 🤭🤭 masih penasaran juga kan Mas Rasya akhirnya sama siapa?? hihihi..


Tapi setelah novel Andini tamat ya...


Bisa mampir dulu ke sini.. Ada Pak Eza yang bucin parah betz.. 👇👇👇

__ADS_1



__ADS_2