Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Mas Alvin?


__ADS_3

Alvin hanya mampu menatap Rili saat Rasya terus menggandeng tangan adiknya agar tidak menghampirinya. Dia hanya terdiam dan berjalan pelan beberapa meter di belakang mereka berdua. Hatinya sangat sakit padahal dia sendiri yang menggores luka itu. Dia tidak sanggup membayangkan jika dia harus mengakhiri hubungan ini.


Rili beberapa kali menoleh Alvin. Tak biasanya Alvin diam seribu bahasa. Bahkan wajahnya sangat kusut, tampilannya tidak rapi seperti biasanya. Dia seperti seseorang yang sudah kehilangan semangat hidup. Aura kerennya tiba-tiba menghilang.


"Alvin..." panggil Rili saat mereka sudah berada di tempat parkir.


Alvin hanya menatapnya sayu lalu dia mengunci sepeda motornya.


"Rili udah. Mulai sekarang jauhi Alvin!!" kata Rasya dengan tegas sambil menatap tajam Alvin beberapa saat.


"Kak Rasya apaan sih?! Masalahnya kan udah selesai. Udah, aku gak akan lakuin itu lagi."


"Udah selesai? Pokoknya aku gak mau tahu, mulai sekarang kamu gak boleh dekat sama Alvin!" Rasya menaiki motornya.


Rili hanya menekuk wajahnya sambil melihat Alvin yang masih saja berekspresi sama. Diam dan menatapnya sayu.


"Al..."


"Rili, udah ayo pulang! Jangan buat masalah lagi!"


Rili akhirnya naik ke boncengan Rasya dan Alvin hanya mampu menatap Rili yang kian menjauh. Rasa sesal itu semakin terasa.


...***...


"Kak Rasya udah dong jangan marah-marah." Mereka masuk ke dalam rumah masih tetap dengan keributan yang sama.


"Rili, aku bilang jauhi Alvin ya jauhi, aku gak mau kamu dapat masalah yang lebih besar."


"Kak Rasya, aku janji gak akan lakuin itu lagi."


Mendengar keributan, Lisa keluar dari dapur dan menuju ruang tengah dimana ada kedua anaknya yang sedang beradu argumen.


"Kenapa? Pulang-pulang kok langsung ribut?"


Mereka berdua terdiam lalu mencium tangan Maminya.


"Rili, tadi Papi telepon katanya kamu dapat masalah di sekolah. Ada apa kamu sama Alvin? Ketahuan pacaran?"


"Lebih dari pacaran Mi. Bilangin sama Rili suruh jaga diri jangan asal mau aja dirayu sama cowok." kata Rasya yang mulai menaiki anak tangga.


"Kak Rasya!!"


"Rili??"


Rili kini memeluk Maminya. "Iya Mi, Rili salah. Rili gak akan ulangi lagi."

__ADS_1


"Sayang, kamu boleh pacaran. Tapi ada batasnya ya. Kalau sudah gini yang kena masalah juga kamu kan."


"Iya, Mi."


"Ya sudah, untuk sementara kamu jaga jarak dulu sama Alvin biar suasana gak semakin memanas." Lisa mengusap lembut rambut putrinya.


Rili hanya mengangguk. Lalu dia melepaskan pelukannya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Setelah sampai di dalam kamarnya dia mengambil ponselnya dan membuka dinding chat dengan Alvin.


Alvin kamu kenapa? Kak Rasya marah sama kamu?


Pesan terkirim dengan centang dua abu. Sampai beberapa menit masih tetap sama. Sampai sore hari masih saja sama. Bahkan sampai malam hari Alvin seolah tidak menyentuh ponselnya sama sekali.


"Alvin kamu kenapa sih?" Rili mencoba menghubungi Alvin tapi tidak juga dia angkat. Sekali, dua kali. "Alvin ayolah angkat."


...***...


"Mas Alvin?" seorang gadis belia masuk ke dalam kamar kakaknya karena dia beberapa kali mengetuk pintu tidak ada sahutan. "Mas Alvin, jam segini kok udah tidur sih." Dia semakin berjalan mendekat lalu menggoyang pundak Alvin pelan.


"Mas Alvin, bangun dong bantu aku ngerjain PR. Mas..."


"Hemm.." Alvin justru menarik gulingnya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Alvin kini justru tersenyum sendiri dalam tidurnya. "Hmm, Rili kamu kok manggil Mas sih. Jadi makin, makin..."


Dea mengernyitkan dahinya. Dea adalah adik Alvin yang masih kelas 2 SMP. "Rili?" Ingin dia membangunkan Alvin lagi tapi urung saat mendapati ponsel Alvin berbunyi.


"My Rili?" Dea memang suka jahil, persis seperti kakaknya. Dia mengangkat panggilan dari Rili yang merupakan panggilan video call itu. Terlihat Rili diseberang sana. "Ssstt, Mas Alvin lagi tidur." ucap Dea pelan. Lalu dia mengarahkan kameranya pada wajah Alvin yang sesekali masih terlihat tersenyum. Entahlah, dia sedang bermimpi apa.


"Mas Alvin.." panggil Dea lagi. Tapi ekspresi Alvin tetap sama. Dia tersenyum sambil mengigau. "Mas..."


"Rili, kalau kamu panggil aku Mas berasa udah jadi suami kamu aja. Suka."


Di seberang sana terlihat Rili menahan tawanya. Sedangkan Dea, dia langsung tertawa dengan keras yang membuat Alvin akhirnya terbangun.


"Dea, ngapain kamu ada di sini. Jangan masuk kamar aku sembarangan."


"Habis Mas Alvin jam segini kenapa udah tidur? Sini dong bantuin aku ngerjain tugas."


"Aku capek tadi habis bantu Papa."


"Alasan aja. Ayolah Mas. Besok dikumpulin."


"Itu hp aku ngapain kamu pegang." Alvin mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan Rili. Alvin segera mematikan panggilannya. "Hei, jangan seenaknya aja lihat hp aku."

__ADS_1


"Tadi hpnya bunyi, ya aku angkatlah. Soalnya yang manggil My Rili, pasti pacarnya Mas Alvin ya?"


"Ih, sok tahu banget jadi anak kecil."


"Halah, ngaku deh. Tadi aja sampai ngigau, Rili suka deh kalau kamu manggil Mas. Padahal yang manggil itu aku." Dea semakin tertawa jahil.


"Tuh kan, kamu rese' banget. Udah nyelonong masuk kamar. Ganggu privasi."


"Untung momen itu udah dilihat sama, My Rili."


"Apa?"


Dea langsung kabur saat Alvin beranjak dari ranjangnya. Dia kini mengejar Dea. "Dea, awas ya kalau kamu main masuk gitu aja ke kamar aku."


"Hei, hei, ini kenapa sih? Udah malem jangan berisik."


Dea menghentikan langkahnya di dekat tubuh Mamanya. "Ini Ma, Mas Alvin. Gak mau bantu aku ngerjain tugas."


Alvin kini duduk di sofa depan tv. "Bukannya gak mau. Aku ngantuk."


"Tuh kan, sama aja. Tinggal dua soal nih yang gak bisa."


"Duh. Sini! Tapi awas jangan masuk kamar aku sembarangan!" Alvin mengambil buku Dea lalu mulai membaca tugas Dea.


"Iya, iya, My Rili."


"Eh, eh, udah jangan bahas itu lagi."


Mama kedua kakak beradik ini mencebik. "Hmmm, pacaran teros. Nanti langsung mama nikahin aja kalau kamu masih bandel. Awas ya kalau sampai dapat laporan dari sekolah lagi!"


"Iya Ma, Iya. Gak akan lagi." jawab Alvin. Anak kedua dari Pak Iwan dan Bu Gita. Dia juga mempunyai seorang Kakak perempuan yang 4 tahun lebih tua darinya dan sudah menikah.


Sedangkan di kamar Rili, dia masih saja senyum-senyum mengingat igauan Alvin yang sempat tertangkap kamera ponselnya. Mas Alvin. Duh, lucunya. Rili merasa geli sendiri membayangkan ketika dirinya harus memanggil Alvin dengan embel-embel Mas.


"Fiuhh.. Panteslah dari tadi chat aku gak dibalas dari tadi kamu sibuk." Rili menarik selimutnya. "Berusaha menyibukkan diri untuk menghindar atau apa sih sebenarnya..."


💞💞💞


.


.


.


Aduh duh, Mas Alvin sampai mimpi-mimpi segala... Awas loh dilarang keras macam-macam sekarang... Hhihihi..

__ADS_1


__ADS_2