
Setelah pulang dari rumah sakit, Rizal terus menemani Lisa dalam kamarnya. Sedari tadi Lisa tak banyak bicara. Bahkan sekarang dia hanya duduk bersandar di headboard sambil menunduk.
"Sudah siang. Kamu makan dulu ya. Sebentar ya aku ambilin." Rizal keluar dari kamar untuk mengambil makan.
Sedangkan Lisa, hatinya semakin terasa sesak. Baru sehari saja dia seolah menjadi manusia yang tidak berguna. Bagaimana jika selamanya dia hidup dalam kegelapan pasti hidupnya hanya akan merepotkan Rizal, itulah yang ada dipikiran Lisa saat ini.
Beberapa saat kemudian Rizal masuk ke dalam kamar dan sudah membawa sepiring nasi serta segelas air putih. Dia duduk di sisi ranjang dan mulai menyuapi Lisa.
"Makan dulu ya..."
Lisa hanya terdiam tapi dia mau menerima suapan dari Rizal. Dada Rizal terasa diremat saat melihat raut wajah Lisa yang sangat menyedihkan. Dia berusaha untuk kuat walau sebenarnya dia juga tidak sanggup menahan kesedihannya sendiri.
Saat nasi tinggal setengah piring, tiba-tiba ponsel Rizal berbunyi. Dia hiraukan tapi ponsel itu berbunyi lagi untuk kedua kalinya.
"Angkat dulu aja." suruh Lisa.
Akhirnya Rizal meletakkan piring itu di atas nakas dan beralih meraih ponselnya. Rupanya asisten pribadinya yang telepon. "Iya, ada apa? .... Ya sudah, kamu saja yang langsung ke lokasi proyeknya .... Iya, nanti kirim lewat e-mail biar aku cek .... Belum tahu, istri saya masih sakit nanti kalau sudah sembuh baru saya ke kantor. Untuk sementara kamu handle semuanya dulu .... Iya ...." Rizal mematikan panggilannya lalu meletakkan ponselnya.
"Sayang, makan lagi ya.."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku udah kenyang." Setelah itu Lisa membaringkan badannya dan memunggungi Rizal. Dia benar-benar merasa dirinya hanya merepotkan saja saat mendengar Rizal terpaksa meninggalkan pekerjaan demi menemani dirinya.
"Kalau gitu minum dulu ya terus minum obat."
"Iya, nanti." Suara Lisa terdengar serak.
__ADS_1
Rizal tahu, istrinya sekarang sedang menahan tangis hingga terlihat punggungnya bergetar. Lisa, kenapa ini semua terjadi sama kamu. Aku benar-benar gak sanggup lihat kamu kayak gini.
Rizal mengusap wajahnya, dia harus bisa menahan tangisnya walau dadanya terasa sangat sesak. "Sayang, jangan sedih ya. Kamu sekarang harus fokus dengan kesembuhan kamu. Aku yakin, kamu bisa melihat."
"Kata dokter peluangnya berapa persen?"
Pertanyaan Lisa tidak mampu Rizal jawab.
"Kenapa gak jawab? Pasti peluangnya sangat kecil kan?"
Rizal membungkukkan badannya dan menempelkan dagunya pada lengan Lisa. "Kamu masih ingat gak, waktu aku koma di rumah sakit. Hanya keajaiban yang membuat aku bisa kembali dan hidup bahagia bersama kamu sampai sekarang. Kamu percaya kan dengan keajaiban itu. Kalau kamu yakin dengan diri kamu sendiri, keajaiban itu akan datang dan mewujudkan semua harapan kamu."
Lisa hanya terdiam. Bukan dia tidak percaya dengan kuasa Tuhan tapi untuk saat ini dadanya bagai dihantam ribuan palu dan masih cukup berat menerima keadaannya sekarang.
"Tapi sekarang, aku cuma merepotkan Papi aja."
Lisa kini membaringkan tubuhnya yang membuat Rizal menegakkan dirinya.
"Minum obat dulu ya, biar lukanya cepat kering."
Lisa menganggukkan kepalanya lalu dia kembali duduk bersandar dengan bantuan Rizal.
Rizal mengambilkan obat dan gelas yang berisi air putih.
Setelah selesai minum obat, Lisa kembali merebahkan dirinya yang disusul oleh Rizal di sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu istirahat ya. Aku temenin. Udah lama aku gak tidur siang." Rizal meraih tubuh istrinya dan mengikis jarak di antara mereka.
"Makanya kalau hari Minggu Papi jangan lihat laptop terus. Sekali-kali tidur siang gitu."
"Iya, ini kan sekarang mau tidur siang sama Mami."
Sedikit senyum akhirnya terukir di bibir Lisa saat merasakan pelukan hangat itu dan aroma tubuh Rizal yang bagai aroma terapi bagi Lisa.
"Sayang, kakinya jangan gerak-gerak. Nanti kalau pengen gimana?"
"Dalam keadaan apapun Papi masih bisa mesum ya."
Rizal tersenyum, ya setidaknya sekarang Lisa sudah bisa lebih tenang. Dia kini mengecup puncak kepala Lisa berkali-kali.
Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat dirinya bagai tersengat listrik. "Sayang tangannya nakal ya. Nanti kalau turn on butuh proses loh buat turn off."
Lisa malah tersenyum tanpa menghentikan gerakan tangannya.
"Sayang udah. Kamu lagi sakit nanti kamu capek."
"Sayang, bawahnya gak sakit kok."
"Jadi Mami nantangin. Hah, gak jadi tidur siang kan jadinya...."
💞💞💞
__ADS_1
ðŸ¤
Lah, aku terjebak dalam obrolan dewasa..