Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Mencari Info


__ADS_3

Sampai di rumah, Rili berjalan dengan cepat dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamarnya cukup keras. Tak peduli ada Rasya yang mengikutinya dan terus memanggilnya.


"Rili, aku minta maaf.." Rasya berhenti di depan pintu kamar Rili yang tertutup dengan keras. "Rili, iya aku salah udah terlalu kasar sama kamu." Rasya mengetuk pintu kamar Rili beberapa kali. Tapi tetap tidak ada sahutan.


"Rasya ada apa? Berantem sama adik kamu?" Mendengar keributan, Lisa mendekati Rasya yang ada di dekat pintu kamar Rili.


"Iya Mi. Rasya yang salah."


"Memang ada masalah apa?"


Rasya hanya terdiam. Dia tidak bisa menceritakan masalah Rili pada Maminya.


Lisa mengusap bahu Rasya sesaat. "Ya udah, biarin dulu. Nanti kalau Rili udah mulai tenang kalian bicara baik-baik ya."


Rasya menganggukkan kepalanya. Dia kini masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan di kamar Rili, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang jauh. Apa sebenarnya di balik semua cerita ini? Apa Dewi memang masih belum bisa terima Papi dan Maminya hidup bahagia.


"Gue gak akan biarin siapapun merusak kebahagiaan Mami dan Papi." Rili kini duduk di sisi ranjang lalu dia melihat cincin yang masih saja tersemat di jari manisnya.


Cincin itu dari Bu Maya, Ibunya Om Dewa.


Rili teringat kata-kata Maminya tentang cincin itu. Dia membulatkan matanya. Jangan-jangan dia bisa melihat Dewi karena cincin yang dipakainya.


"Cincin ini..." Rili mencoba melepas cincin itu tapi masih tetap sama, cincin itu melekat dengan erat di jarinya. "Kenapa masih gak bisa dilepas. Jangan-jangan memang benar. Ini semua ada hubungannya dengan cincin ini."


Perasaan Rili semakin gelisah. Keringat mulai mengalir di pelipisnya. "Ini cincin apaan sih? Apa cincin keramat? Apa cincin ini sebenarnya milik Dewi. Gak beres. Nanti gue coba cari informasi lagi sama Mami. Tapi harus terkamuflase biar Mami gak curiga."


...***...


Malam itu, Rasya keluar dari kamarnya. Dia melihat pintu kamar Rili yang terbuka. Meski sebenarnya ragu, tapi kali ini Rasya harus menyelesaikan masalahnya. Dia berjalan masuk ke dalam kamar Rili. Terlihat Rili sedang berdiri melamun di balkon kamarnya.


"Rili." panggil Rasya saat sudah berdiri di samping Rili.


Rili hanya menoleh sesaat Rasya lalu dia kembali meluruskan pandangannya.


"Maafin aku ya. Aku terlalu kasar sama kamu."


Rili hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia memang masih kesal dengan Rasya.


"Harusnya kamu jujur sama aku. Gak perlu bohong."


"Emang kalau aku jujur, Kak Rasya ngebolehin aku pergi sama Alvin?"


Pertanyaan Rili tak mampu Rasya jawab.

__ADS_1


"Gak boleh kan?" sambung Rili lagi.


"Memang sebenarnya ada masalah apa sampai kamu harus ke rumah Dara? Masih menyangkut soal hantu itu lagi?"


Rili kini menatap Rasya. Jangan-jangan Rasya tahu sesuatu tentang Dara atau keluarganya.


"Aku mau bicara sama Kakak. Sebentar biar aku tutup pintu dulu." Rili berjalan cepat untuk menutup pintu agar Mami atau Papinya tidak mendengar percakapannya dengan Rasya. Setelah itu, dia kembali menghampiri Rasya yang masih berada di balkon kamarnya.


"Mau ngomong apa? Serius banget."


"Kak Rasya tahu kalau Dara itu anaknya Om Dewa?"


"Iya tahu. Dari kemarin-kemarin malahan. Dulu kan aku pernah ketemu sama Dara."


"Kenapa Kak Rasya gak bilang."


"Kamu kan gak tanya. Mana Kakak tahu."


Rili menghela napas panjang. "Kak Rasya gak cerita kan sama Mami dan Papi kalau Om Dewa kembali ke kota ini."


"Nggak."


"Jangan cerita ya."


Rili melipat tangannya lalu mulai bercerita pada Rasya. "Iya aku ceritain tapi Kakak harus percaya sama aku. Iya, aku tadi ke rumah Dara mau cari tahu tentang hantu itu. Karena sebelumnya Alvin pernah melihat wujud asli hantu itu di foto keluarga Papanya Dara yang ternyata Om Dewa."


"Terus?"


"Dan nama hantu itu adalah Dewi, Kakak dari Om Dewa. Katanya dulu Mami pernah diteror juga sama Dewi dan ternyata dia itu masa lalu Papi."


Rasya menautkan alisnya. Ini masalah diluar akal sehat yang baru dia dengar. "Jadi maksud kamu mantannya Papi."


"Iya, bisa jadi."


"Kenapa semuanya bisa begitu kebetulan gini?"


"Kak, aku punya firasat kalau sebenarnya yang diincar hantu itu adalah Mami sama Papi."


"Diincar? Rili ini gak masuk akal loh."


"Memang iya. Jadi tolong jangan cerita apapun sama Mami dan Papi soal ini semua ya."


"Tapi kamu baik-baik aja kan?" Sebenarnya Rasya juga cukup khawatir dengan Rili. Setelah melihat tatapan tajam Dara yang penuh amarah, dia yakin kalau Dara sedang dikendalikan oleh makhluk lain.


Rili mengangguk. "Alvin akan bantu aku. Dia punya indera ke enam."

__ADS_1


Mendengar nama Alvin lagi, Rasya kembali kesal. "Kenapa harus Alvin? Mungkin aku bisa bantu kamu."


"Emang Kak Rasya bisa lihat hantu. Nggak kan?"


Pernyataan Rili memang benar. Rasya sama sekali tidak bisa melihat hantu dan sejenisnya itu. "Oke. Gak papa kalau Alvin mau bantu kamu. Sebatas bantu gak termasuk ciuman kayak tadi."


Mengingat ciuman itu lagi, pipi Rili terasa memerah. Dia jadi malu sama Rasya. Kenapa juga Rasya harus melihat ciuman pertamanya itu. Alvin jadi kena tonjok kan. "Kak Rasya, udah lupain soal tadi. Iya, aku khilaf."


Rasya menghela napas panjang. Dia sekarang tahu, Rili dan Alvin saling mencintai. Alvin memang tidak terlalu buruk untuk Rili, sebenarnya dia baik. Hanya saja dia adalah saingan Rasya.


"Makan yuk, Mami sama Papi udah nungguin."


"Iya." Mereka berjalan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Terlihat kedua orang tua mereka sedang mengobrol sambil sesekali tertawa. Selama ini, mereka memang hampir tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar. Ya, memang ada pertengkaran kecil yang beberapa saat kemudian langsung akur.


"Udah baikan? Katanya tadi ada yang berantem?" tanya Papi Rizal saat melihat kedua anaknya kini duduk berdampingan.


"Udah Pi. Cuma salah paham saja."


"Soal apa? Rili mulai nakal ya di sekolah?" tanya Papi Rizal sambil tersenyum menggoda putrinya.


Rili memanyunkan bibirnya. "Papi, Rili gak nakal."


"Gak cuma nakal Pi. Tapi udah kepincut sama cowok."


Satu cubitan kini didapat Rasya. "Kak Rasya!!"


Rasya hanya tersenyum kecil sambil menghindari cubitan lainnya yang datang.


"Rili, kamu beneran suka sama Alvin?" tanya Mami Lisa sambil menatap Rili sedikit menyelidik.


Rili berusaha tenang. "Hmm, nggak. Emang Rili gak boleh ya pacaran kayak Papi sama Mami dulu?"


Pertanyaan Rili membuat kedua orang tuanya saling lirik dan tersenyum. "Bukannya gak boleh, tapi lebih baik kamu fokus dulu ya sama sekolah kamu."


Rili masih saja berusaha mengulik informasi. Mumpung yang dibahas bertemakan pacaran masa SMA. "Pi, apa Mami dulu cinta pertamanya Papi?"


💞💞💞


.


.


.


Jangan lupa like dan komen ya.. 😉

__ADS_1


__ADS_2