Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)

Rili (Tak Ingin Melihatmu, Lagi!)
Di Bawah Pengaruh


__ADS_3

Rili masih saja berusaha mengulik informasi. Mumpung yang dibahas bertemakan pacaran masa SMA. Rili ingin memastikan bahwa Dewi lah mantan Papi Rizal. "Pi, apa Mami dulu cinta pertamanya Papi?"


Kedua orang tuanya justru tertawa dan saling menatap lagi. "Mi, kita sama-sama cinta yang kedua kan ya?"


"Iya dan cinta yang terakhir."


Cinta yang kedua. Itu berarti Mami sama Papi sama-sama punya mantan. Rili berusaha mengorek informasi lagi. "Jadi Mami sama Papi punya mantan. Jadi pengen tahu kayak apa mantannya Mami sama Papi."


"Eh, mantannya Mami itu youtuber terkenal. Sampai sekarang masih sering kok ngecover lagu. Namanya Rey."


Satu tatapan tajam kini didapat Rizal dari Lisa. "Papi, dia itu gak terhitung mantan."


Rizal kini justru beralih menatap istrinya sambil tersenyum menggoda. "Gak terhitung mantan tapi baper parah ya, Mi."


"Papi, kayaknya dulu yang lebih galau siapa ya waktu ditinggal Dewi. Papi kan sampai nangis-nangis."


"Mami, tapi kan itu beda ya. Yang penting kan..." Rizal membisikkan sesuatu pada Lisa yang membuat mereka sama-sama tersenyum kecil.


Dewi? Jadi benar mantan Papi itu Dewi. Ingin Rili bertanya lagi tapi Rasya menyenggol tangannya dan menggelengkan kepalanya. Rili mengerti maksud Rasya. Ya, mereka tidak mau merusak kebahagiaan kedua orang tuanya.


"Ya udah, jangan bahas masa lalu lagi. Kita makan dulu ya."


Mereka berempat masih sesekali mengobrol dan bercanda selama makan malam. Rili berharap semoga keluarganya selalu bahagia seperti ini.


...***...


"Nana, kenapa jam olahraga kita harus jam pertama? Males banget gue. Harusnya pelajaran olahraga itu gak ada." Rili membawa seragam olahraganya keluar dari kelas untuk berganti di toilet. Rili memang sangat tidak suka pelajaran olahraga dari dulu sampai sekarang.

__ADS_1


Nana hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. "Kebiasaan banget sih lo. Ya udah buat alasan datang bulan aja biar gak ikut olahraga."


"Ih, dikira gue punya penyakit kalau pakai alasan itu terus."


Nana tertawa. "Habisnya lo dari dulu gak pernah berubah."


"Semoga aja ada sesuatu yang buat gue semangat ikut pelajaran olahraga, biar jadi olahjiwa juga."


Nana masih saja terkekeh. Dia kini berhenti di depan toilet bersama Rili karena toilet masih antri. "Do'a lo bener-bener ampuh. Lo gak tahu ya, kalau jam pelajaran olahraga kita itu bareng sama Kak Alvin dan..." Nana tersenyum. "Kak Rasya."


Bagaimana bisa Rili melupakan hal ini. Padahal dia tahu sendiri Kakaknya juga membawa seragam olahraga. Rili menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa gue bisa lupa."


"Ssstt.. ssstt.."


Rili menoleh suara itu. Ternyata ada Alvin yang memanggilnya dengan kode di samping tembok.


Rili menggelengkan kepalanya.


"Udah sana. Kan masih antri. Siapa tahu baterainya langsung penuh dan langsung semangat olahraganya." Nana menyenggol Rili agar menghampiri Alvin.


Rili akhirnya berjalan mendekati Alvin. Dengan cepat Alvin menarik Rili agar bersembunyi di balik tembok.


"Alvin ngapain?" Tanya Rili dengan suara pelan.


"Kangen."


Walau hanya satu kata tapi sudah mampu membuat dada Rili berdebar-debar. Tapi dia juga tidak mau terlalu terbuai dengan perkataan buaya Alvin.

__ADS_1


"Gombal banget. Udah ah, nanti diliat sama Kak Rasya."


"Biarin. Palingan Kakak lo marah juga kayak kemarin. Gue sih udah paham sifat Rasya."


Rili kini menyandarkan dirinya di tembok sedangkan Alvin masih saja menatap Rili.


"Lo hati-hati ya. Untuk sementara jangan dekat-dekat sama Dara."


Rili menganggukkan kepalanya. Dia kini menatap Alvin yang cukup dekat dengannya hingga membuat Rili bergeser satu langkah. "Jangan dekat-dekat."


"Gak mau ulangi yang kayak kemarin?" Alvin tersenyum menggoda.


"Nggak. Jangan buat gue khilaf lagi Alvin!" Rili memutar dirinya lalu melangkah pergi.


Alvin masih saja menyunggingkan senyumnya. Khilaf? Yang akan menjadi candu.


"Gara-gara Alvin gue jadi ditinggal Nana." Rili mendumel sendiri sambil masuk ke dalam bilik toilet yang telah kosong. Hanya ada satu yang tertutup. Rili mempercepat dirinya berganti baju sebelum tertinggal. Setelah selesai, dia keluar dari bilik toilet.


"Dara.." Hal tak terduga terjadi. Dia kini justru berpapasan dengan Dara. Mereka saling lihat beberapa saat sebelum tatapan Dara akhirnya berubah sangat tajam. "Dara, kenapa?" Suara Rili bergetar. Dia bergidik ngeri melihat tatapan Dara.


Dara berjalan mendekati Rili, bahkan kini Dara telah meletakkan seragamnya di dekat wastafel.


Langkah Rili terasa sangat berat tapi dia harus segera berlari. Rili keluar dari toilet yang diikuti oleh Dara dengan langkah cepat.


"Dara, lo mau ngapain?" Entah kenapa Rili seolah tidak ada cukup tenaga untuk berlari. "Dara!!!" Dengan kuat Dara mendorong tubuh Rili dari belakang yang membuatnya terjatuh dengan kepala yang terbentur pagar tembok dekat toilet. "Auuww.." Rili meringis kesakitan. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit karena benturan itu bahkan dahinya sampai mengeluarkan darah.


Rili membulatkan matanya saat melihat Dara mengambil balok kayu dan kini bersiap untuk memukulnya. "Dara, lo mau apa?!!" Suara Rili bergetar karena takut. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah tidak sanggup untuk berdiri. "Dara jangan!!" Rili hanya mampu menutup kepalanya saat Dara melayangkan kayu itu.

__ADS_1


💞💞💞


__ADS_2