
Pagi itu, Rasya masih terdiam seribu bahasa sambil menikmati sarapan sebelum berangkat ke sekolah meski sebenarnya dia sangat tidak nafsu makan.
Rili hanya bisa melirik Kakaknya beberapa kali.
"Papi antar ke sekolah ya?" Tawar Papi Rizal karena dia tahu Rasya masih dalam keadaan bersedih. Dia takut jika nantinya Rasya tidak fokus mengendarai motornya. Semalam saja Rizal sendiri yang mengambil motor putranya di tempat parkir yang ditunjukkan oleh Alvin.
Tapi Rasya justru menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Pi. Rasya gak papa."
"Ya sudah. Kamu hati-hati."
Setelah selesai sarapan, mereka segera menuju sekolah. Di boncengan Rasya, Rili masih sibuk dengan ponselnya. Ada banyak pesan di grup kelasnya tentang ucapan bela sungkawa pada Dara dan ada beberapa video yang terkirim yang menampilkan detik-detik memilukan itu. Walau wajah Dara sudah di blur tapi tangisan Rasya masih sangat jelas begitu menyayat hati.
Tanpa sadar air mata itu kembali menetes di pipi Rili meski buru-buru dia seka agar Rasya tidak melihatnya.
Sesampainya di tempat parkir ada Alvin yang tengah menunggunya. Dia langsung tersenyum pada Rili lalu beralih menatap Rasya yang kini sedang mengunci motornya.
"Eh, kirain lo gak masuk."
"Hem.." jawab Rasya dengan raut wajah yang masih tetap sama. Sedih dan tanpa semangat hidup.
Alvin kini berjalan di sisi Rasya lalu merangkul pundaknya. "Udahlah, ikhlas biar hati plong."
"Gue belum bisa."
Rili berjalan di belakang mereka. Dia bisa menangkap beberapa pasang mata yang sedang melihat Rasya dengan rasa iba walau tanpa komentar atau sekedar bertanya. Mungkin dia tidak mau mengusik hati Rasya yang memang masih sangat kelam.
"Udahlah, bentar lagi banyak simulasi UNBK. Lo mau kalah saing sama gue!!"
Telinga Rili masih bisa mendengar Alvin berbicara yang dilanjut dengan suara tawa sumbang dari Alvin. Mungkin seorang rival punya caranya sendiri untuk mendorong semangat hidup Rasya.
"Gak akan gue biarin. Meskipun lo pacar Rili sekalipun lo tetap jadi rival gue."
"Lo jadi ikut tes kuliah ke Amerika kan? Kalau lo mundur sih gak papa biar gue aja yang lolos."
__ADS_1
"Ya ikutlah. Heh, gue gak akan biarin ya lo lolos dengan mudah."
Rili tersenyum tipis mendengar obrolan mereka. Walau sarat dengan persaingan tapi tangan Alvin masih meraih kokoh sepanjang pundak Rasya seolah dia sedang menyalurkan semangatnya untuk Rasya.
Rili kini berbelok arah menuju kelasnya. Saat masuk ke dalam kelas, suasana tidak seperti biasanya. Kini dia mendapati beberapa temannya menangis sesenggukan sambil menatap layar ponsel.
"Gak nyangka Dara pergi secepat ini."
"Kasihan ya Kak Rasya."
Rili kini duduk di sebelah Nana yang juga sedang menangis.
"Hapus dong video itu, kasihan Kak Rasya."
"Iya, setelah kita lihat langsung kita hapus kok."
"Rili..." Nana sekarang justru berhambur ke pelukan Rili. "Kak Rasya gimana? Sedalam itu ya cinta Kak Rasya sama Dara."
...***...
"Dicariin di kantin ternyata di sini." Alvin kini duduk di sebelah Rili.
Saat itu Rili memang sedang duduk di taman belakang dengan pandangan menerawang jauh. Sendiri, sebelum Alvin datang.
"Aku ada kabar baik," ucap Alvin bersemangat.
Rili kini menoleh dan menatap Alvin. "Apa?"
"Aku udah tanya sama kakek, sepertinya kelebihan kamu bisa dihilangkan."
Rili kini semakin antusias menatap Alvin. Senyumannya juga mengembang. "Serius?"
"Iya, minggu depan kita ke rumah kakek ya? Nanti biar aku izinin sama Papi kamu."
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa bebas dari beban itu." Rili menghela napas panjang. Andai saja tidak ada cctv, pasti Rili akan segera memeluk Alvin saat itu.
"Tapi kamu beneran yakin kan mau menghilangkan kelebihan kamu. Kamu jadi gak bisa lihat aku dong, apalagi sebentar lagi kita LDR. Kamu gak takut kalau..." Alvin menghentikan perkataannya karena sudah mendapatkan tatapan mematikan dari Rili.
"Alvin!!" satu pukulan keras mendarat di lengan Alvin. "Emang kamu mau duain aku di sana! Heh!!" Rili kembali memukul Alvin yang hanya dibalas tawa lebar dari Alvin.
"Gak ada niat dan gak akan terjadi. Aku cuma bercanda." Alvin mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Kamu itu kayak habis bawa aku terbang tinggi terus kamu jatuhin gitu aja. Sakit tapi gak berdarah."
Alvin masih saja tertawa. Sayang mereka terpantau cctv, kalau tidak tangan Alvin pasti sudah mengenggam Rili atau mungkin merengkuh dirinya.
"And finnally, aku juga akan tutup mata batin aku. Sudah cukup aku tahu tentang kehidupan mereka."
"Serius?"
Alvin mengangguk yakin. "Iya. Biar kita bisa melanjutkan kisah cinta kita tanpa misteri."
Rili tersenyum kecil. Dia masih saja menatap lekat netra Alvin yang juga menatapnya.
"Coba gak ada cctv. Huh!!" Alvin justru meniup wajah Rili hingga membuat Rili menyipitkan matanya.
"Jangan macam-macam."
"Nanti yuk? Yuk?" Alvin mengerlingkan matanya menggoda Rili.
Walau Rili sebenarnya menginginkan hal yang membuatnya ketagihan itu tapi dia coba hilangkan pikiran kotornya. "Alvin, ih, gak ada kapoknya ya.. Katanya mau jadi yang lebih baik."
Alvin semakin tertawa. "Bercanda.. Bercanda . Gitu aja udah merah pipinya." Alvin sedikit mencubit pipi Rili.
"Ih, Alvin. Udah ah aku mau ke kelas." Rili berdiri dan melangkahkan kakinya yang diikuti oleh Alvin.
Alvin masih saja menggoda Rili yang sesekali terdengar tawa mereka berdua.
__ADS_1