
Rasya menghentikan motornya di depan Dara yang sedang berdiri di dekat gerbang. Ya, setelah satu jam rapat OSIS Rasya ingin segera pulang. Tapi niatnya terhenti saat melihat Dara.
Rasya membuka kaca helmnya lalu bicara dengan Dara. "Gak dijemput sama Om Dewa?"
Dara menggelengkan kepalanya. "Papa masih kerja." Dara tak juga menatap Rasya. Pandangannya masih fokus pada ponselnya.
"Aku antar yuk?"
Ajakan Rasya membuat Dara menatapnya. Dia terdiam. Sebenarnya dia sudah berniat memesan ojek online tapi sedari tadi belum juga ada yang mengonfirmasi permintaannya.
"Yuk!" ajak Rasya sekali lagi. Berharap kali ini Dara mau menerima ajakannya.
Meski masih terdiam, akhirnya Dara mengangguk pelan lalu naik ke boncengan Rasya. Beberapa saat kemudian motor Rasya mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Mereka sama-sama terdiam. Hanya sesekali Rasya yang bertanya petunjuk rumah Dara.
Ra, mungkin kamu udah lupa semua kenangan kita. Aku pernah berharap, suatu saat nanti kita bisa bersama...
"Di sini rumah kamu?" Rasya mengurangi kecepatannya saat Dara menunjuk rumahnya.
"Iya."
Rasya menghentikan motornya tak jauh dari motor Alvin. "Rili.. Alvin!!" Rasya terkejut saat melihat Rili dan Alvin sedang saling tatap di depan rumah Dara. Apa yang sedang mereka lakukan di sini?
Rili dan Alvin tak kalah terkejut dengan mereka berdua. Mereka kini menatap kedatangan Rasya dan Dara dengan kaku. Seperti tertangkap basah sudah melakukan sesuatu.
Dara turun dari motor Rasya dan menatap tajam Alvin dengan Rili. "Kalian ngapain di depan rumah gue?"
"Hmm, kita..." Alvin bingung harus menjawab apa. Sama halnya dengan Rili yang hanya mampu meremas tangannya sendiri.
Dara hanya membuang napasnya kasar lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah dan menutup kembali pintunya cukup keras.
Kini Rili mendapat tatapan dari Rasya. Rasya turun dan langsung menarik tangan Rili. "Rili, kenapa kamu bohong sama aku?! Katanya kamu ada kerja kelompok di rumah Nana. Jadi ini gojek kamu. Aku gak nyangka kamu berubah gini. Aku udah bilang jauhi Alvin. Dia itu bawa pengaruh buruk buat kamu!" Rasya memarahi Rili. Tak peduli ada Alvin yang terus menatapnya tajam.
__ADS_1
Rili berusaha melepas tangannya. "Kak, lepasin aku bisa jelasin."
"Mau jelasin apa lagi. Mulai dari pagi kamu berbuat ulah terus sama Alvin. Sampai berani bohong. Sekarang ayo kita pulang!" Rasya menarik Rili cukup kuat karena Rili terus berontak. Rasya sangat marah dengan Rili.
"Kak Rasya tahu apa sih masalah aku. Kak Rasya cuma nilai mentah-mentah apa yang dilihat." Suara Rili mulai bergetar. Jujur saja dia cukup kecewa dengan sikap kakaknya yang terlalu over protektif padanya.
"Rili, udah! Jangan cari alasan lagi! Ayo pulang! Dan awas kamu kalau diam-diam masih dekat sama Alvin." Rasya masih saja membentak Rili.
"Emang kenapa Kak? Mami sama Papi aja gak pernah marahin aku kayak gini." Mata Rili berkaca-kaca, memang selama ini mereka selalu memanjakan Rili karena Rili sendiri tahu batasan kenakalannya. Hanya Rasya yang berani memarahinya seperti ini tapi sebenarnya apa yang dilakukan Rasya itu karena dia sangat sayang dengan Rili.
"Itu karena Mami sama Papi gak tahu tingkah laku kamu."
Rili menarik tangannya cukup kuat hingga terlepas. Lalu dia membalikkan badannya dan berdiri di dekat motor Alvin. Dia kini menangis. Dia paling rapuh jika sudah dimarahi Rasya.
Alvin hanya terdiam. Jika saja dia bukan Kakak kandung Rili, mungkin dia sudah menghajar Rasya. "Sya, gue hargai lo sebagai kakak Rili. Kalau gak, mungkin lo udah gue hajar. Lo jangan terlalu keras sama adik lo. Ini bukan salah Rili. Lo bisa kan tanya baik-baik?"
Rasya kini berusaha meredam emosinya.
Alvin beralih mendekati Rili. Dia menghapus air mata Rili perlahan dengan jempol tangannya. "Udah jangan nangis. Lo pulang sama Kakak lo ya."
Alvin menggelengkan kepalanya. "Hei, dia Kakak lo. Hargai dia. Udah gak papa, lo pulang sama Rasya ya." Alvin tersenyum berusaha menghangatkan hati Rili.
Rasya kini baru menyadari, ternyata pemikiran Alvin jauh lebih dewasa dari perkiraannya.
Rili menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman Alvin. Satu lagi sisi yang membuat Rili merasa semakin jatuh hati pada Alvin.
Setelah Rasya naik ke atas motornya yang diikuti oleh Rili, motor mereka segera melaju meninggalkan rumah Dara.
Di dalam rumah, sedari tadi dia mengintip. Dara menghela napas panjang seiring kepergian mereka. Dia membalikkan badannya dan sudah Mamanya di belakangnya yang sedang menatapnya.
"Dara kamu kenapa?"
Dara menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Karin masih saja mengikuti putrinya. Dia mengerti, sepertinya Dara sedang patah hati. Bahkan sampai masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi ranjang, Karin masih mengikuti putrinya. "Kamu lagi ada masalah? Sini, cerita sama Mama." Karin duduk di samping putrinya sambil merengkuh tubuhnya.
Dara sedang menatap kosong tapi pertanyaan lain justru terlontar dari mulut Dara. "Alvin sama Rili ngapain Ma ke sini?"
Karin terdiam beberapa saat mencari jawaban yang tepat. "Dara, Rili itu ternyata anaknya tante Lisa dan Om Rizal, sahabat Mama."
"Iya, Dara tahu." jawab Dara dengan flat. "Lalu, ada perlu apa sama Mama? Karena mereka ke sini gak mungkin cari Dara."
"Hmm, gak ada apa-apa sayang. Rili cuma penasaran aja sama Mama dan Papa kamu. Karena kita kan sahabat orang tua mereka dan sudah lama juga kita tidak memberi kabar sama mereka."
Dara terdiam. Dia berusaha percaya dengan ucapan Mamanya.
"Dara kamu masih mikirin Alvin?"
Pertanyaan Mamanya tak di jawab Dara. Hanya saja Dara kini menyandarkan kepalanya di pundak sang Mama.
Karin kini mengusap lembut rambut putrinya. "Jangan terlalu dipikirkan ya. Suatu saat nanti kamu pasti juga akan mendapat cinta sejati kamu. Perjalanan kamu masih panjang. Lebih baik sekarang fokus dulu sama sekolah kamu."
"Iya Ma."
Karin masih terus mengusap lembut rambut Dara, berusaha memberi kenyamanan padanya. Walau sebenarnya dia masih kepikiran dengan cerita Rili. Apa iya Dewi mengikuti Dara?
Dia teringat kembali, dulu saat Dara masih balita Karin pernah bermimpi tentang Dewi. Padahal Karin tidak pernah sama sekali bertemu dengan Dewi. Di mimpi itu terlihat Dewi sedang menemani Dara bermain. Bercanda dengannya bahkan mengajaknya berceloteh. Bahkan ada satu kalimat yang masih Karin ingat sampai saat ini.
Nanti kalau sudah besar kamu temani bude ya..
Mengingat mimpinya saja membuat Karin merinding. Dia tidak mau hal buruk terjadi lagi terutama pada Dara. Hanya bisa berharap, semoga semua baik-baik saja.....
💞💞💞
.
.
__ADS_1
Bisa kali tinggalin like dan komen, apalagi 🌹 atau ☕. Jangan jadi temennya Dewi ya... 🤭🤭🤭 maaf bercanda.. ✌️
Yang pengen tahu ceritanya Dewi, cus mampir dulu ke Aku Melihatmu