
Begitu sangat menggoda, begitu sangat disayangkan jika dilewatkan tanpa memberi sebuah kecupan. Seperti ada magnet dari kutub utara dan kutub selatan yang saling tarik menarik. Wajah yang awalnya berjauhan itu saling mendekat. Semakin dekat hingga membuat kedua bibir yang dingin itu saling bersentuhan.
Rili hanya mampu memejamkan matanya. Ada gelora dalam diri yang semakin menghangatkan tubuhnya. Ciuman lembut yang selalu tidak bisa dia tolak. Sesapan dan gigitan kecil itu semakin membuatnya terasa sesak bagai kehabisan oksigen. Tangan Rili kini berpindah ke pinggang Alvin saat tengkuk lehernya ditahan dengan usapan-usapan lembut dari jemari Alvin.
Alvin semakin memperdalam ciumannya. Melu mat habis bibir tipis itu. Semakin menuntutnya agar membalas lebih dan mempertemukan indera pengecap mereka untuk saling bertukar saliva.
Cukup lama, sampai napas Alvin terasa sangat berat. Dia lepas ciumannya sesaat untuk sekedar memenuhi kebutuhan oksigen yang berkurang tanpa menjauhkan dirinya.
Rili membuka matanya. Dia kini menatap Alvin yang hanya berjarak beberapa centi di depannya. Dia rasakan kini kedua tangan Alvin berpindah dan terselip di antara kedua lengan Rili. Menarik Rili dalam pelukannya dengan dada yang saling bersentuhan.
Masih tetap tanpa kata, hanya isyarat mata yang seolah berkata, once again.
Alvin kembali mendekatkan dirinya. Mulai menjelajah lagi di dalam bibir Rili. Bahkan tangannya sudah berani mengusap punggung Rili.
Ada sedikit lenguhan yang tertahan di bibir Rili. Dia benar-benar merasa dibawa Alvin terbang ke angkasa. Dia tarik ujung rambut belakang kepala Alvin saat Alvin semakin memberinya sensasi yang membuat terlena dan di mabuk kepayang. Andai saja saat itu tidak hujan, pasti suara decapan mereka akan terdengar cukup keras.
Once again up to 60 seconds.
Mereka melepaskan ciumannya. Rili menundukkan pandangannya dengan napas yang sama beratnya dengan Alvin.
"Al, udah. Tangan kamu jangan gitu."
Seketika Alvin melepas tangannya dari punggung Rili. Dia sedikit menjauh lalu bersandar dan memejamkan matanya untuk mengatur napas dan meredam gelora yang hampir saja meledak.
"Maaf ya..."
__ADS_1
"Kita pulang yuk, hujannya udah reda." Rili berdiri.
Alvin menatap Rili. Rupanya Alvin masih belum puas juga. Dia kini berdiri dan dengan cepat tapi perlahan mendorong tubuh Rili hingga bersandar di tembok lalu memenjarakannya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tembok
"Alvin, udah ah. Mau apa lagi?"
"Once again?"
"No!"
"Just this once. Yes?"
Memang, setiap dekat Alvin iman Rili terasa sangat lemah. Dia tidak mampu menolaknya karena tidak dipungkiri semua yang dilakukan Alvin sudah membuat candu baginya.
Rili merasa sudah tidak sanggup menahan getaran-getaran aneh di dadanya. Apalagi saat Alvin semakin menempelkan dirinya hingga terasa sesuatu yang....
"Al..." Rili sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Alvin yang sudah memerah dengan sorot mata yang diselimuti gairah. "Udah ya..."
Alvin tak juga melepas pelukannya. Dia malah menenggelamkan wajahnya di bahu Rili. Berusaha mengatur napasnya yang sangat tersenggal. "Maaf ya, hampir aja aku kebablasan." Alvin melepas tangannya dari pinggang Rili dan kembali merapikan seragamnya. Lalu memberi jarak satu langkah di antara mereka.
Rili menundukkan pandangannya. Sebenarnya dia penasaran dengan sesuatu yang dia rasakan di bawah sana itu. Oh, no. Buru-buru Rili mengalihkan pandangannya saat mampu menangkap bayangan yang berada di balik celana abu itu.
"Iman aku lemah banget tiap dekat kamu. Merasa berdosa banget hari ini."
Alvin tersenyum simpul sambil merapikan rambutnya yang sempat di acak-acak oleh Rili. "Maaf ya... Aku gak bisa nahan diri tiap dekat kamu. Kali ini aja deh. 60 detik di kali 3."
__ADS_1
"Ih, udah ayuk pulang. Takut aku lama-lama sama kamu. Apa kamu mau ke toilet dulu?"
"Ngapain?"
"Kirain biar gak sesek aja yang di dalam." kata Rili sambil berlalu meninggalkan Alvin yang berpikir beberapa saat.
Alvin tertawa setelah paham dengan maksud Rili. Lalu dia segera mengikutinya. "Eh, kamu udah ngerti sekarang soal solo karir itu..."
"Ih, Alvin. Udah ayo cepet pulang!! Nanti kalau gerbangnya udah di tutup gimana?"
"Ah, gampang ntar tinggal kasih Pak Satpam aja uang rokok." Alvin berjalan di samping Rili. Mereka masih saja mengobrol sambil sesekali terdengar suara tawa Alvin.
Bahagia ya...
Jangan lupa dengan kata-kata Alvin tadi, bahagia diawal menyesal di akhir..
Don't let it happen...
💞💞💞
Area 17+
Sebenarnya adegannya biasa sih cuma authornya aja yg keterlaluan... 😆😆
Gini nih kalau gak ada yang ganggu jadi kebablasan... 🤧
__ADS_1