
"Hah!!!" Dara tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia usap pelipisnya yang berkeringat. Lalu mengambil napas dalam untuk menstabilkan detak jantungnya. Lagi-lagi dia bermimpi buruk.
Dia kini beralih duduk di tepi ranjang, menatap nyalang jendela yang masih tertutup tirai. Awan hitam masih menyelimuti pagi hari itu.
Dia teringat lagi akan mimpinya barusan. Dewi mengajaknya pergi entah kemana. Yang jelas saat Dewi mengajaknya, tubuhnya terasa ringan dan tanpa beban pikiran lagi. Dia melambung tinggi seolah tidak ingin kembali lagi.
"Apa karena cincin ini?" Dara beralih memandang cincin yang dia pakai. Dia kini melepasnya. Mengangkatnya dan menggantung tepat di depan wajahnya. "Aku harus kembalikan cincin ini sama Kak Rasya. Karena aku bukan cinta sejatinya..."
Dara menatap keruh cincin itu. "Aku gak bisa mencintai kamu, dan seharusnya cinta kamu bukan buat aku tapi seseorang yang mungkin akan kamu temui suatu saat nanti."
Dara berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya. Dia mengambil robekan kertas buku diary Dewi yang masih tersimpan. Membukanya dan membaca kembali tulisan itu. Dewi sangat menginginkan cincin itu.
Dara menghembuskan napas panjang. Dia memikirkan sesuatu. Sepertinya memang harus Om Rizal yang melakukannya.
Dia meletakkan cincin itu di atas kertas lalu melipatnya dan memasukkan ke dalam tas. Dia meraih ponselnya dan membuka layar chat dengan Rasya.
Kak Rasya, hari ini ada acara? Bisa bertemu di taman kota jam 9 pagi?
Pesan terkirim dengan centang dua abu.
"Aku harus jujur sama Kak Rasya tentang perasaanku. Aku gak mau Kak Rasya terus berharap seperti ini."
Cukup lama baru akhirnya Dara mendapat balasan dari Rasya.
__ADS_1
Iya bisa. Aku jemput ya..
Buru-buru Dara membalasnya.
Gak usah Kak. Aku langsung ke sana saja soalnya aku mau ke Gramedia juga.
Oke, aku tunggu ya.. Balas Rasya menyetujui janjiannya hari ini.
Dara meletakkan kembali ponselnya. Dia kini berdiri dan membuka tirai jendela. Menatap langit yang mulai memancarkan sinarnya.
Dia hirup dalam udara pagi hari itu yang begitu sejuk. Berkali-kali, seolah esok dia tidak akan merasakannya lagi.
...***...
"Mi, Kak Rasya dimana?" tanya Rili dengan sangat panik.
"Kak Rasya udah berangkat barusan. Kan ada ekskul basket tiap minggu."
Rili kini beralih menatap ponselnya yang masih menunjukkan pukul 7 pagi. Dia segera mengirim pesan pada Rasya.
Kak, nanti pulang dari ekskul langsung kemana? Bisa gak antar aku?
Entahlah pesan itu akan dibaca Rasya jam berapa yang penting dia sudah mengirimnya. Sebenarnya pesan itu hanya untuk mengantisipasi saja.
__ADS_1
"Ada apa? Serius banget? Kamu yang bangunnya kepagian jadi ketinggalan Rasya." Seloroh Papi Rizal yang tengah menghabiskan sarapannya.
Rili hanya tersenyum. Ya tentunya semalam dia berpacaran secara virtual dengan Alvin. Entahlah sampai berapa jam ngobrol ngalor-ngidul tak karuan dari cerita masa kecil sampai obrolan 17 plus. Yeah, if you know what they mean.
Satu jam, dua jam, Rasya tak juga membalas pesannya. Dia kini menunggu kabar dari Rasya dengan cemas. Dia berdiri di rooftop kamarnya sambil tetap memegang ponselnya. Berjalan kesana kemari seperti setrikaan.
Beberapa saat kemudian pesan dari Rasya masuk ke ponselnya.
Aku sekarang ada di taman kota gak bisa antar kamu. Minta antar Papi saja.
"Taman kota?" Rili segera menghubungi Rasya. dan beberapa kali nada sambung Rasya sudah mengangkat panggilannya.
"Kak Rasya di taman kota sama siapa? Sama Dara?"
Iya, aku janjian di sini sama Dara. Kenapa sih kamu panik banget.
"Kenapa Kak Rasya gak jemput Dara?"
Dia maunya langsung ketemuan di sini. Memang kenapa?
"Pokoknya pasti kan Dara baik-baik saja sampai pulang ke rumah."
Rili memutuskan panggilannya. Dia sangat cemas. Dia tidak bisa berdiam diri seperti ini. Dia harus memastikannya sendiri bahwa mimpi itu tidak benar. Dan mimpi itu tidak boleh terjadi.
__ADS_1