
Bab pembuka cerita Alvin dan Rili udah up ya. Yuk, cus ke profil atau langsung cek pencarian..
...✨✨✨✨✨✨✨✨✨...
"Will you marry me?"
Sebuah pertanyaan yang seharusnya disambut oleh Rili dengan penuh kebahagiaan karena kekasih yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan dengannya kini melamarnya. Bukannya dia tidak mau atau dia tidak cinta. Tapi ada satu hal yang membuatnya meragu menerima lamaran itu segera.
Alvin berlutut di hadapan Rili dengan mengulurkan sebuah cincin. Berharap gadisnya berkata ya. Rili yang telah menemani perjalanan hidupnya mulai dari SMA sampai dia sukses dan memiliki sebuah cafe. Hanya dia tempat labuhan terakhir hidupnya.
"Rili, say yes please..."
Perkataan itu membuat Rili membuyarkan tatapan kosongnya. "Maksa?"
"Iya, udah pegal lutut aku." Suasana yang romantis seketika ambyar.
Rili tertawa, karena memang sedari tadi dia sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri. Dia kini meraih tangan Alvin lalu membantunya berdiri. "Tunggu ya, sebentar lagi. Bukannya aku gak mau tapi..."
__ADS_1
Satu tangan kini mengusap lembut di puncak kepala Rili. "Aku tahu apa yang ada di pikiran kamu. Rasya kan? Kamu ingin Kakak kamu menikah dulu. Oke, aku akan menunggu tapi jangan sampai tua, karena aku gak mau jadi perjaka tua."
Alvin selalu saja bisa membuatnya tertawa. "Makasih ya..."
"Sama-sama. Kamu aja bisa nunggu aku sampai 4 tahun waktu aku tinggal kuliah diluar negri, masak aku nunggu kamu gak bisa." Alvin meraih jemari Rili lalu memakaikan cincin itu. "Cincinnya kamu pakai saja. Karena pernikahan kita hanya menunggu waktu bukan karena penolakan dari kamu."
Rili tersenyum lalu menatap cincin indah yang kini telah melekat di jari manisnya.
"I love you..." Alvin meraih tubuh itu dalam peluknya.
"I love you too." Rili membalas pelukan Alvin dengan erat.
"Rasya, kenalin sama teman kuliah kamu gitu, biar es kutub mencair."
"Udah, tapi tetap aja dingin kayak gitu. Udah hampir 8 tahun Kak Rasya masih belum bisa move on dari Dara."
"Memang berat melupakan seseorang apalagi..." Alvin menghentikan perkataannya, dia teringat lagi kejadian tragis itu, dimana Dara menghembuskan napas terakhirnya dalam pelukan Rasya.
__ADS_1
"Iya, memang sulit melupakan semua itu."
"Hmm, apa Rasya gak tahu kalau adiknya ini udah kebelet kawin?"
"Ih, siapa yang kebelet kawin. Mas Alvin kali."
"Benar 200 persen. Biar gak lakuin khilaf yang disengaja kayak gini." Alvin menatap kedua netra Rili begitu dalam.
Selalu saja Rili tersihir dengan tatapan itu. Tatapan yang seperti magnet yang mampu menariknya untuk semakin mendekat.
Sudah tidak ada jarak di antara kedua wajah mereka. Kedua bibir yang menyatu dengan lembut menghantarkan sebuah rasa cinta yang teramat besar.
"Bos, ada apa katanya mang...." Kedatangan Aksa yang tiba-tiba ke taman cafe membuat bos yang sedang memagut cinta itu menjauh.
............
...x x x x x x...
__ADS_1
...x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x...