
^^^“Sesulit apapun, tetap menjemput rezeki yang halal dan baik saja, sesibuk apapun tetap belajar agama. Sekesal apapun, tetap saling dukung dalam ibadah dan taqwa. Sejauh apa pun jarak, tetaplah berbakti kepada orang tua ”^^^
...[ Ustadz Arif rahman lubis ]...
“ Gimana masakan Nay, enak gak Bah ? ”
^^^tanya ku setelah selesai menyuapi satu sendok nasi pada Abah.^^^
“ Enak Nay ” kata abah dengan tersenyum.
...Detik selanjutnya Abah Berkata ...
“ Nay, sudah makan? ”
^^^“ Alhamdulillah sudah, tadi bareng Caca dan Blue ” Jawab ku yang diakhiri senyuman.^^^
Abah hanya tersenyum. Kemudian aku kembali menyuapi Abah makan lagi. Setiap makan malam. aku yang selalu menyuapi abah makan di dalam kamarnya. Bukannya Ummi tidak sayang dengan Abah hanya saja Ummi sedang melayani pembeli di warung nasi.
Tidak hanya itu, selain kedua kaki Abah juga tidak di gerakan. Kedua lengan abah juga tidak bisa digerakkan.
Sebenarnya dulu kemampuan berbicara abah juga terganggu. Menjadi sangat kacau dan tidak jelas di setiap kalimat yang abah ucapkan, Bahkan menelan makanan pun susah, tetapi setelah melakukan terapi bicara dengan Dokter Azhar.
Alhamdulillah kemampuan berbicara Abah kembali normal. Namun, kedua lengan dan kaki Abah sampai sekarang tidak bisa digerakan.
“ Nay, besok antar Abah ke puskesmas, ya? ”
^^^“ Loh Bah, kok ke puskesmas? Bukannya minggu depan, Abah kontrol ke dokter Azhar di rumah sakit? ”^^^
“ Kata ummi ada dokter umum dari jakarta, lagi tugas dinas di puskesmas sini, ada warga yang cocok berobat sama dia. Besok antar ya, Nay ”
__ADS_1
^^^“ Apa tidak sebaiknya ke Dokter Azhar saja, Bah? ”^^^
“ Nay, kalau ke dokter Azhar. Jarak ruumah kita ke rumah sakit sangat jauh. Coba dulu ya, kita ke dokter yang dari Jakarta itu. Kalau gak cocok, nanti Abah kontrol ke Dokter Azhar saja lagi ”
Apa yang Abah bilang barusan itu benar. Jarak antara rumah dengan rumah sakit sangat jauh. Kalau naik angkutan umum bisa sampai tiga kali.
^^^“ Yasudah Bah, nanti Nay antar ” Ucap ku diakhiri senyuman manis.^^^
Keesokan harinya, sebelum mengantar Abah berobat ke puskesmas. Aku pergi untuk mengajar di Rumah Senja terlebih dahulu.
Tidak terasa waktu mengajar di rumah senja telah usai. Melirik ke arah jam tangan yang sudah menunjukan pukul 10.30. Lantas membuat ku langsung mengambil tas dan berpamitan pada A Hisyam.
“ A Hisyam, Nay duluan ya. Assalamualaikum ” pamitku.
Baru saja hendak menaiki sepeda. A Hisyam menghampiri ku.
“ Kamu mau kemana Nay? Kelihatanya, buru buru sekali ”
...“ Mau ke Puskesmas, A “...
...“ Ketemu Riska ?? ”...
...“ Bukan, mau nganter Abah periksa ”...
...“Jadi kamu naik angkot kesana? ”...
Aku pun mengangguk. Mana mungkin aku mengantarkan abah menaiki sepeda ? walaupun jarak ke puskesmas hanya 500 meter dan aku bisa saja mendorong kursi roda milik abah. Akan tetapi, aku tidak mau abah kepanasan karena cuaca hari ini begitu sangat panas.
“ Yasudah kalau gitu A Hisyam antar ya? ” ucapnya yang di akhiri senyuman.
__ADS_1
...“ Emm..... tapi, A ”...
Belum selesai aku berbicara. A Hisyam memotong ucapan ku.
“ Udah hayu Nay, mumpung Aa bawa mobil ” katanya.
Aku melihat ke arah mobil kijang yang terparkir di dekat mushola. Aku mengira itu bukanlah mobil A Hisyam. Karena biasanya A Hisyam selalu membawa sepeda motor.
...“ Hayu Nay “ bujuknya lagi....
...“ Tapi A, sepeda Nay gimana? ”...
A Hisyam memanggil seorang anak laki laki yang ada di rumah senja. Anak itu sedang duduk didepan teras mushola.
“ Asep !! Kadieu ! ”
[ “ Asep !! Kemari !“ ] . panggil A Hisyam.
Asep segera menghampiri aku dan A Hisyam.
“Aya naon, A ?”
[ “ Ada apa, A ? ” ]. tanya Asep.
“ A Hisyam, bade miwarang ka asep wios?”.
[ “ A Hisyam, mau nyuruh ke Asep. Boleh ? ” ].
“ Mirawang naon, A? ”
__ADS_1
[ “ Nyuruh apa, A ” ]