
Aku mulai bergeming. Rasanya malu jika harus memungkapkan perasaan ini kepada Ummi.
“ Iya pastilah, siapa ccoba yang gak cinta sama dokter Arfan? Udah pasti teh Nay cinta, Umi ”
^^^jawaban itu di jawab oleh Caca yang berjalan hendak ke kamar mandi.^^^
“ Apa apaan si Ca!!, Sudah sana mandi ”
^^^jawab ku dengan kesal.^^^
Sedangkan Caca sangat puas untuk meledek ku, Kemudian berjalan menuju kamar mandi.
...“ Nay ” ...
Pangggil ummi sambil mematikan kompor yang kemudian menghampiri ku.
“Jadilah Istri yang salihah buat dokter Arfan “
^^^ucap Ummi yang mengelus pundak ku.^^^
“ InsyaAllah Ummi ”
^^^balas ku diakhiri senyuman.^^^
" Pesan Ummi kalau nanti Nay sudah menjadi Istri dari dokter Arfan. Nay harus taat kepada suami, Selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat Islam, Jangan sekali kali keluar rumah tampa minta Izin kepada suami. Ingat Nay harus menjaga harta suami dan Qanah ”
__ADS_1
...Ucap ummi yang tersenyum pada ku....
“ InsyaAllah Ummi, Nay minta doa dari Ummi. Agar nanti setelah menikah dan menjadi istri dokter Arfan, Nay menjadi seorang istri yang salihah, menjadi istri penyabar dan setia seperti ummi ”
^^^balas ku diakhir senyuman sembari memeluk Ummi.^^^
“ Tampa kamu minta, Ummi selalu mendoakan yang terbaik buat anak anak Ummi ” Ujar Ummi.
Sedangkan aku hanya mampu membalasnya dengan senyuman. Lalu kami kembali melanjutkan aktivitas memasak.
Setelah selesai membantu ummi. Aku berpamitan kepada Ummi dan Abah untuk pergi mengajar.
Tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di Rumah Senja dengan mengayuh sepeda.
“Ayo.... Adek adek siapa yang berani maju kedepan untuk membaca cerpen hasil karya sendiri? “
tanya A Hisyam pada anak anak senja.
Anak anak di rumah senja baru saja diberikan tugas oleh A Hisyam untuk membuat cerpen.
Pasalnya sekarang adalah jadwal pelajaran Bahasa Indonesia.
Aku melihat satu satu kearah mereka yang masih terdiam. Membuatku dan A Hisyam bingung.
“Jadi, gak ada yang berani nih maju kedepan ”
__ADS_1
^^^tanya ku pada mereka.^^^
...“ Cerpennya belum siap Teh Nay ” ...
sahut seorang anak perempuan berumur 8 tahun, yang ku tahu namanya adalah Lisa.
“ Selain Lisa, apa ada yang sudah selesai membuat cerpen ” tanya A Hisyam.
Seorang anak berusia 10 tahun mengangkat tangannya. Aku pun tersenyum kearah anak perempuan yang bernama Ana, begitu menggemaskan, Memiliki mata yang bulat, hidung yang mancung dan pipi yang chubby dia jugga pintar.
Namun sayang nya ia anak yatim piatu yang hanya tinggal bersama kakek dan nenek.
“ Kemari Ana, Ayo maju ke depan. Yang lain kasih semangat buat Ana ”
kata ku yang sembari tersenyum kepada Ana.
“ Tapi teh Nay, Ana takut. Cerpen nya jelek gimana kalau nanti di ketawain? ”
katanya dengan raut wajah yang sedih.
“ Adik adik semuanya dan kamu, Ana dengerin teteh yah. Kita itu harus (PD) Percaya Diri itu penting. Jangan malu kalau nanti hasilnya tidak seperti yang kita mau. Kita memperbaiki ulang setiap kesalahan yang kita lakukan dan terus belajar. Nah sekarang Ana sudah bisa membuat Cerpen, kalau Ana hobi menulis terus membuat cerpen bisa jadi nanti Ana menjadi seorang penulis. Intinya Jangan pernah Pesimis sebelum mencoba kita harus Optimis ”
2 detik selanjutnya aku berseru kepada seluruh anak anak senja.
“ Ayo Anak anak kasih semangat buat Ana. Sini syang maju, semangat !".
__ADS_1