Romansa Islami

Romansa Islami
[ Halaman - 21 ]


__ADS_3

Tidak lama setelah acara lamaran malam ini, Dokter Arfan beranjak untuk pulang, Dia berdiri serta berpamitan kepada Abah dan Ummi termasuk kami semua.


Saat dokter Arfan hendak keluar rumah. Ummi menyuruhku untuk menemani dokter Arfan berjalan keluar. Lalu aku dan Kedua adik ku mengantarkan dokter Arfan yang berjalan keluar dari rumah, berjalan beriringan menuju mobil dokter Arfan yang terparkir di depan warung nasi Ummi sementara kedua adik ku hanya berdiri di depan pintu rumah.


“ Maaf ya, saya jadi ngerepotin Mba Nayla, Pakai harus dianterin segala “


^^^Katanya dengan tertawa renyah.^^^


...“ Enggak papa kok Dok “...


Ucap ku yang diakhiri senyuman.


...“ Dok, Dokter masih ingat gak sama Caca? ”...


^^^Tanya Caca yang berjalan menghampiri kami. Membuat ku bigung.^^^


“ Sebentar..” Jawab Dokter Arfan yang mencoba mengingat, Detik selanjutnya ia mengingat.


“ Jadi, kamu ini temannya Dilla, ya? “ ujarnya.


“ Iya dok, hihiihi... Caca gak nyangka sebentar lagi dokter bakalan jadi kakak ipar Caca. Kalau Dilla tau kabar ini pasti hatinya potek potek ”


Ucap Caca yang membuat ku semakin malu.


“ Saya juga enggak nyangka. Kakak kamu mau jadi calon Istri saya “ Balas Dokter Arfan yang tertawa bersama Caca.


“ Jangan diragukan kalau Teteh mah pasti mau, Secara dokter itu kriteria suami idaman nya Teteh ”

__ADS_1


^^^Ucap Caca yang membuat ku semakin malu hingga akhirnya aku mencubit Caca.^^^


“ Dasar Adik nyebelin kamu !” ujar ku, sementara Blue sedah sedari tadi masuk kedalam rumah.


...“ Mba Nayla “...


Panggil dokter Arfan dengan lembut.


...“ Iya Dok ? ” Balas ku....


“Makasih ya, kamu Udah mau jadi istri saya. Ana Uhibukki Fillah “ katanya diakhir senyuman.


^^^Aku merasa bigung harus berkata apa. Membalas perkataan yang barusan di ucap oleh dokter Arfan. Jantung ku tiba tiba kembali berdegup kencang tidak hanya itu kedua pipi ku terasa panas saat itu.^^^


“ Cie.. Teh, Pipi Teteh merah itu “ ucap Caca yang segera ku cubit tangannya hingga meringis kesakitan.


“ Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum “ Ucapnya sembari pamit.


Setelah mobil dokter Arfan sudah berlalu pergi. Caca kembali meledek ku.


“ Hahaha.... teh Nay. Pipih teh merah lagi “


ledeknya. Saat aku hendak ingin mencubitnya. Caca berhasil kabur malarikan diri semakin membuat ku kesal.


“ Ya Allah hanya satu pinta ku. Semoga engkau meresui serta meridhoi kami untuk segera beribadah bersama menggapai ridho – Mu ”


💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟

__ADS_1


Fajar di ufuk timur belum juga menampakkan dirinya. Seusai shalat subuh, aku segera bergegas menuju dapur.


Menyiapkan segala bahan makanan kemudian memasaknya. Beginilah kegiatan ku setiap pagi, membantu ummi memasak untuk hidangan sarapan di warteg dan juga sarapan untuk ku, Abah,Ummi dan kedua adik perempuan ku. Sedangkan jika mengajar di Rumah Senja itu pukul delapan pagi, Aku tidak memiliki banyak waktu.


Melihat Ummi yang sedang sibuk menggoreng ikan, Sementara aku sedang memotong sayuran.


“ Nay ” Ummi yang memanggil ku tampa menoleh ke arah ku, Ummi sedang fokus memasak.


...“ Iya Ummi ? ” tanya ku....


“ Nay, kamu menerima lamaran dari dokter Arfan tampa terpaksa bukan? “


^^^ tanya Ummi.^^^


Seketika aku menghentikan kegiatan memotong sayuran dan menjawab pertanyaan dari ummi


...“ Kenapa Ummi bertanya seperti itu ? ”...


“ Tidak Ummi, Nay nerima lamaran dokter Arfan atas kemauan Nay ”


^^^jawab ku yang melanjutkan acara potong sayur yang sempat tertunda oleh ummi.^^^


“ Alhamdulillah, berarti kalau begitu Nay cinta sama dokter Arfan? ”


pertanyaan ummi lagi lagi membuat ku malu.


Aku mulai bergeming. Rasanya malu jika harus memungkapkan perasaan ini kepada Ummi.

__ADS_1


...⛔...


[ Sebuah Pernikahan itu terkadang tak seindah yang kita lihat. ]


__ADS_2