
...“ Terus kamu lebih milih dokter Arfan ? “...
“ Nay, sudah menerima lamaran dari dokter Arfan, Sebentar lagi Nay akan jadi istri orang lain, A Hisyam Nay mohon sama Aa jangan mengharapkan Nay lagi, A “
Ucap ku yang mulai tidak bisa menahan air mata yang mulai membanjiri kedua pipi ku.
...“ Tapi Nay --- “...
Belum selesai A Hisyam berbicara aku memotong pembicaraan nya.
...“ Tolong, A Iklasin Nay “...
...“ Assalammualaikum “ ...
Pamit ku yang meninggalkan A Hisyam.
Aku berlari meninggalkan A Hisyam tampa mendengarkan apa yang akan diucapkan A Hisyam pada ku.
Segera mengambil sepeda yang sempat ku sandarkan di samping mushola dengan cepat mengayu nya. Sepanjang perjalanan air mata ku terus mengalir, aku tidak bisa menahan kesedihan ini.
Mungkin sikap ku tadi membuat A Hisyam kecewa, lantaran aku menerima lamaran dari dokter Arfan.
Tapi disisi lain A Hisyam juga salah karna terlalu berharap lebih kepada seorang hamba seperti ku.
Seharusnya dia sudah tahu. Bahwasanya Allah akan mencemburui hambanya. Apabila dia berharap lebih selain berharap kepada – Nya. Karena berharap kepada Allah, tidak akan pernah membuat kita kecewa.
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
...RUMAH SENJA...
^^^Mentari pagi bersinar terang hari ini^^^
Aku bersemangat untuk memberikan pelajaran kepada anak anak senja.
Aku melihat Ummi yang sedang mendorong kursi roda Abah di depan rumah yang sedari tadi sudah berjalan jalan pagi. Lantas aku segera menghampiri Ummi dan Abah untuk berpamitan.
“ Nay, Sudah mau berangkat mengajar Nay ? “
^^^tanya Abah dan Ummi.^^^
__ADS_1
...“ Iya Abah, Ummi “ ...
detik selanjutnya aku berbicara kepada Ummi dan Abah.
“ Emm... Abah, Ummi nanti malam keluarga dari Dokter Arfan mau datang kerumah “
^^^ucap ku.^^^
“ Ya, Allah Nay. Kenapa baru bilang sekarang ? “
“ Kalau saja kamu bilang dari sore kemarin, sedari subuh Ummi sudah pergi untuk belanja ke pasar “
^^^Ucap Ummi yang kesal.^^^
Bagaimana bisa aku ingat, Jika sedari kemarin aku pulang dari rumah A Hisyam membuat ku tidak ingat tentang keluarga Dokter Arfan yang hendak datang ke rumah. Melainkan sekarang perasaan ku tidak karuan memikirkan perasaan A Hisyam yang masih menyimpan perasaan.
“ Yasudah Ummi kalau begitu, setelah selesai mengajar Nay temeni Ummi ke pasar “
Lantas Ummi mengganguk tanda setuju, lalu aku melanjutkan untuk berangkat setelah berpamitan kepada Abah dan Ummi bergegas menuju rumah senja.
...🏫🏫🏫...
...“ Apa dia masih marah ? “ ...
^^^ujar ku dalam hati.^^^
Seperti sekarang, dia lebih fokus memperhatikan anak anak yang sedang mengerjakan tugas. Sedangkan aku melirik jarum jam terlihat bahwa limat menit lagi pelajaran selesai.
“ Anak Anak tugasnya sudah ada yang selesai belum ? “
^^^tanya ku sambil berdiri ke arah mereka.^^^
...“ Belum “ ...
jawab mereka dengan serempak, Sementara A Hisyam sekilas melihat kearah ku kemudian segera memalingkan wajahnya.
“ Yasudah kalau begitu jadiin tugas rumah saja. Berhubung lima menit lagi, waktunya pulang, kalian sudah bisa merapikan alat tulis dan buku ke dalam tas “
^^^Ujar ku.^^^
__ADS_1
Anak anak bersorak senang. Kemudian dengan cepat mereka merapikan alat tulis dan buku kedalam tas.
Setelah semuanya rapi. Kami semua berpamitan untuk pergi. Saat anak anak senja sudah keluar dari kelas.
A Hisyam menghampiri ku.
...“ Nay “ ...
^^^Panggilnya.^^^
...“ Iya, A ? “ ...
tanya ku pada nya.
“ Apa, Nay yakin. Nay mau nikah sama Dokter Arfan ? “
^^^A Hisyam memastikan kembali.^^^
Sementara aku hanya mengangguk anggukan kepala sembari tersenyum kepada A Hisyam.
“ Nay, soal kemarin sore. A Hisyam minta maaf. A Hisyam sadar kalau Nay bukan jodoh buat Aa “
Aku tersenyum ketika mengetahui bahwa A Hisyam telah meyadari itu dan berkata.
“ Sebelum A Hisyam minta maaf. Nay sudah maafin Aa duluan “
^^^jawab ku di akhir senyuman.^^^
...“ Hatur nuhun Nay “...
...[ “ Terimakasih Nay “ ] ...
Balasnya diakhir senyuman.
“ Muhun A. Yasudah kalau gitu, Nay pamit duluan “
...“ Assalamualaikum “ ...
Pamit ku .
__ADS_1
...“ Waalaikumussalam “...