Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 9 : Plester Cinta


__ADS_3

Kawa menurunkan kardus yang berisi air kemasan dan juga beberapa snack yang sudah ditata dari toko, hari ini toko mendapatkan pesanan dari yayasan untuk mengirimkan makanan ringan dan minuman ke sekolah TK. Tak disangka, Kawa bertemu dengan Zahra. Di mana Zahra tengah sibuk dengan anak-anak kecil, mereka


mengerubungi Zahra. Sesekali dia mencuri pandang melihat Zahra yang terlihat bahagia dengan anak kecil di sekelilingnya.


Hari masih pagi, marahari terlihat cerah, panggung sudah tertata dengan apik dengan hiasan bunga warna warni, ada tulisan Family Gathering di atas panggung. Rupanya hari ini memang ada acara di sini.


Kawa sudah hampir selesai menurunkan barang-barang dari mobil bak terbuka tersebut, pagi-pagi sekali Pak Broto sudah memberikan mandat agar Kawa mengantar barang tersebut ke sekolah ini.


“Kamu sudah move on kan?” pertanyaan yang dilontarkan tadi malam oleh Rendra, kembali terngiang di telinganya. Sedikit mengusiknya.


“Sudah saatnya, dan aku rasa dia wanita yang baik” ujar Rendra serius, jarang-jarang sahabatnya itu ngomong serius. “Dan entah mengapa aku melihat kamu berbeda saat melihat dia, entah hanya perasaanku atau memang begitu keadaannya” imbuhnya.


Kawa hanya mematung mendengar semua perkataan Rendra, ada benarnya, meskipun tidak pernah berbicara layaknya seorang teman akrab, tapi dia merasa nyaman jika melihat Zahra.berbicara tentang move on, mungkin dia sudah lama melupakan Nadin dan segala cerita yang pernah terlewati dengan gadis itu. Hanya saja, masih ada rasa enggan untuk memulai hubungan yang baru.


“Entahlah” akhirnya Kawa berucap.


“Aduh” pekik Kawa, lengan tangan kanannya tanpa sengaja tergores besi yang agak koyak di mobil bak terbuka, sehingga menimbulkan luka dan berdarah, hingga menetes. Kawa mengusap lengan kirinya tersebut, mencoba menghentikan darah yang mengalir.


“Ih Omnya terluka” ucap seorang anak perempuan dengan seragam warna kuning, di mana dia tadi melihat banyak siswa yang memakai seragam yang sama.


“Iya” jawab anak yang satunya sambil menunjuk luka Kawa.


“Bunda….Bunda…ada yang terluka!” teriak anak yang pertama tadi. Zahra menoleh ke sumber suara, takutnya jika anak didiknya yang terluka. Zahra mendekat.


“Kenapa? Siapa?” tanya Zahra gugup. Anak perempuan tadi menunjuk Kawa, Zahra melihat ke arah telunjuk anak perempuan itu.


Mata Zahra tertuju pada lengan kiri Kawa yang masih berdarah. Zahra segera berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan, mengambil peralatan p3k, lalu kembali menuju Kawa berada.


Zahra menarik sebuah kursi plastic berwarna hijau, memberikan isyarat kepada Kawa agar duduk di sana. Kawa menuruti perintah Zahra walau tanpa suara.

__ADS_1


Dengan cekatan, Zahra membersihkan luka Kawa dan mulai mengobatinya sebelum membebat dengan plester. Kawa hanya terdiam melihat apa yang dilakukan Zahra.


“Nanti di rumah dibersihkan lagi dan diganti plesternya” ucap Zahra setelah selesai membebatkan plester luka di lengan Kawa.


“Terima kasih” ucap Kawa.


Zahra hendak bangkit dan meninggalkan Kawa setelah tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya pada Kawa sebagai jawaban dari ucapan terima kasih Kawa.


“Jadi kamu mengajar anak-anak TK di sini?” tanya Kawa lagi, mengurungkan niat Zahra melangkah lebih lanjut.


“Iya” jawab Zahra singkat, dan bersiap kembali melangkah.


“Namaku Kawa” ucap Kawa memperkenalkan diri tanpa bersalaman, entah mengapa kata itu yang muncul. Tak ada jawaban dari Zahra, dia menoleh sesaat lalu meninggalkan Kawa. Dia kembali ke dalam ruangan dan mengembalikan kotak yang tadi dibawanya.


Zahra duduk di dekat lemari, dia meremas kedua tangannya.


“Anak-anak?” tanya Tania lagi, Zahra menggeleng pelan.


“Lalu siapa?” Tania penasaran, kemudian dia melongok lagi, dari kejauhan terlihat sosok laki-laki yang tak asing di pandangannya sedang berjalan masuk ke dalam mobil. Terlihat lengannya terbebat plester.


“Ohhh” ucap Tani sembari kembali masuk ke ruangan dan duduk di depan Zahra. “Mas itu” ucapnya sambil tersenyum.


“Mari kita keluar mendampingi anak-anak” ajak Zahra sambil menarik pergelangan tangan Tanis.


“Masnya ganteng” ujar Tania, Zahra melirik Tania. Tania terkikik.


            Bukan perkara mudah, tapi degup jantung tidak bisa berdegup dengan normal. Zahra duduk di tepi ranjang, tanpa bicara intim mengapa ada perasaan berbeda saat berdekatan dengan laki-laki itu, laki-laki yang menyebutkan namanya pagi tadi. Ya, Kawa namanya. Tak melihat wajahnya dengan jelas meskipun sering bertemu tanpa sengaja, entah di warung Mak Irah, di minimarket dan puncaknya tadi pagi saat dia mengobati luka Kawa.


Buru-buru Zahra menepis perasaannya, perasaan yang tidak boleh tumbuh. Lagi-lagi cincin yang melingkar di jari manis menjadi pengingat agar dirinya tetap berada di jalurnya, sesuai permintaan Ayahnya.

__ADS_1


Zahra menghela nafas panjang, “Ya Allah….berilah petunjuk, mengapa aku mulai lelah?” lirihnya sambil mengusap wajahnya.


Jika kesatuan tugas suaminya sudah menginformasikan bahwa suaminya meninggal dan tidak dapat ditemukan jasadnya, sudah ada terima surat. Akan tetapi ayahnya bersikukuh bahwa suaminya masih hidup dan akan pulang.


Zahra tak bisa berbuat apa-apa, di satu sisi dia mempercayai kesatuan tugas yang menaungi suaminya berdinas, tapi di sisi lain dia juga harus percaya pada ayahnya. Tapi sampai kapan? Hidup tanpa kepastian.


“Bunda….” Teriak Dira dari balik pintu yang dibukanya. Lamunan Zahra menguap saat gadis kecil itu menghambur ke arahnya.


“Bunda lagi apa?” gadis kecil itu duduk di samping Zahra dengan agak susah payah naik ke ranjang, Zahra membantunya.


“Nggak lagi apa-apa, Bunda baru saja selesai sholat terus duduk-duduk, Dira sudah makan?” tanya Zahra sambil mengusap pipi gembul gadis kecil yang ada di dekatnya.


Dira mengangguk tanpa menjawab.


“Nenek kemana?” tanya Zahra, sedari tadi dia tidak melihat Ibunya.


“Owh Nenek? Keluar nggak tau kemana” jawabnya enteng.


Zahra menatap gadis kecil itu dengan gemas, gadis yang selalu membuat hatinya riang, selalu memberi keceriaan dalam hidupnya.


“Ayok tidur yuk” ajak Zahra.


“Di kamarku ya Bun?” pinta Dira, diikuti anggukan dari Zahra. Dia beringsut dari ranjang, lalu menggendong gadis kecil itu menuju kamarnya.


Zahra menepuk nepuk bantal warna pink itu sebelum Dira merebahkan badannya. Zahra juga menyiapkan guling dengan warna senada.


“Terima kasih bunda” ucap Dira.


“Sama-sama sayang” jawab Zahra, dilihatnya gadis itu sudah merebahkan tubuhnya, Zahra ikut merebahkan tubuhnya di samping Zahra, tangan kanannya menepuk-nepuk Zahra agar gadis itu segera tertidur. Angin dari jendela kamar terasa sepoi-sepoi masuk ke dalam kamar, membuat sejuk suasana kamar. Zahra melihat Dira yang nampak sudah tenang tertidur, namun Zahra masih menepuk-nepuk Dira agar tidurnya semakin nyenyak. Tak berapa lama Zahra ikut memejamkan mata dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2