Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 48 : Menjelang Hari Bahagia


__ADS_3

Detik-detik menjelang pernikahan semakin terasa kental. Acara siraman baru saja selesai dilakukan, selangkah telah usai. Keluarga Kawa memanfaatkan untuk bercengkerama dengan sanak family yang jarang sekali berkumpul.


Ganis tengah bercengkerama dengan Carolina, mereka memiliki anak yang usianya hampir sebaya. Sedangkan Oma Rima juga tengah sibuk bercengkerama dengan Oma Sarah. Karena meskipun jarak rumah mereka sebenarnya tidak jauh, hanya saja karena kesibukan, mereka jarang sekali bertemu.


Malam ini benar-benar dimanfaatkan sebagai momen temu kangen, mereka bercanda, tertawa, dan bertukar kabar. Wajah-wajah mereka nampak sumringah dan bahagia.


Kawa sedang berbicang dengan Rendra di tepi kolam renang hotel mewah tersebut.


"Berani dia datang?" tanya Rendra. Kawa mengangguk. "Gila juga, mentalnya benar-benar, urat malunya sudah putus. Awas saja kalau sampai macam-macam nanti" Rendra geram.


Keluarga Zahra belum datang, direncanakan akan datang esok hari menjelang subuh. Karena acara akad nikah akan dilaksanakan jam 9 pagi di hotel ini juga.


"Woiiii, gimana ayang?" goda Rendra setelah melihat Biru yang sedang berjalan, sebenarnya dia berjalan ke arah meja yang lain, hanya saja Rendra memanggilnya, maka Biru pun mendekat sambil berkacak pinggang.


"Apa ayang-ayang?" sungutnya. "Gara-gara kamu Mario sering marah-marah sama aku" Biru menarik sebuah kursi lalu menghempaskan dirinya di sana, dia duduk di antara Kawa dan Rendra. Rendra terkekeh mendengar Biru ngomel.


"Lagian, masih aja mertahani Mario. Cowok playboy itu"


"Hish...diem, tau apa tentang dia?" Biru melirik ke arah Rendra. Begitulah Biru, dia tak akan benar-benar marah. "Kalian memang sekongkol ya..." Biru menunjuk ke arah Rendra, lalu beralih ke abangnya.


Keduanya tertawa melihat Biru.


"Idih...Mario nggak ada apa-apanya sama Dipa" Rendra bangga dengan temannya.


"Jauuuuuh, Mario kemana-mana" Biru mencebik, membanggakan pacarnya itu.


"Besok datang nggak?" tanya Rendra.


"Pasti dooonkkk" Biru nampak bahagia, giginya yang putih itu terlihat.


"Hiiiisss.....diduain lagi baru tau rasa nanti"

__ADS_1


"Biarin, yang penting terakhirnya sama aku" Biru ngakak.


"Dasar bucin"


"Bodoh ah" Biru menyeruput minuman Kawa yang baru diminum sedikit itu, kini minuman itu tandas oleh Biru. Abangnya diam saja melihat tingkah adiknya.


"Heran sama dia, kenapa bisa gitu sih Wa" Rendra menggelengkan kepalanya. "Sekalian besok kawinin" Rendra menimpali.


Biru yang mendengar hal itu mengerucutkan bibirnya, kalau urusan menikah dia belum siap. Meskipun dia bucin setengah metong sama Mario, dia belum siap jika harus segera menikah.


"Jangan dulu lah. Uh udah lah, tuh aku sudah ditunggu sama teman-temanku" Biru menunjuk ke sebuah meja yang sudah ada penghuninya, para cewek cantik di sana.


"Dipa sekalian" Rendra berteriak. Biru acuh nggak menggubris, dia sudah nimbrung bersama teman-temannya.


Malam semakin larut, satu per satu keluarga memasuki kamar hotel masing-masing, sedangkan yang masih muda masih asyik menikmati malam itu. Tak terkecuali Rendra dan Kawa, dua sahabat itu nampak sibuk berbincang.


***


Kawa segera memasuki kamar mandi di kamarnya, baju pengantin sudah tergantung di sudut kamarnya. Baju yang akan dia kenakan saat akad nanti jam 9. Kawa membasuh tubuhnya agar terlihat segar meskipun hanya tidur sekitar 2 jam saja. Rasa grogi juga membuatnya agak susah memejamkan matanya.


Hampir 30 menit Kawa mandi dan menenangkan diri dengan air hangat, agar tubuh dan pikirannya rileks. Kawa mengusap rambutnya yang basah. Matanya menata baju pengantin yang sudah siap dia kenakan.


Kawa memilih untuk sarapan di kamar saja, dan pelayan membawa makanan kesana.


"Hoe...calon manten" Rendra melongokkan kepala di belakang pelayan yang sedang mengirim makanan.


"Hoee abangku yang sebentar lagi melepas masa lajang" Biru ikut mengekor, matanya berkedip.


"Ih ikut saja nih bocah" Rendra melihat ke belakangnya, Biru meringis.


"Saraaapaaaan" Biru berteriak, beberapa pelayan masuk membawakan sarapan untuk mereka. "Biar nggak tegang Bang, kita makan bareng-bareng" Biru duduk di kursi, meja makan hampir penuh dengan makanan yang dibawa pelayan tersebut.

__ADS_1


Kawa pun ikut saja, Biru menatakannya untuk Kawa.


"Aku enggak nih?" Rendra protes.


"Enggak, ambil sendiri" Biru cuek.


"Dipa nggak sekalian kamu ajak kesini?" Rendra senang sekali menjahili Biru yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.


"Please deh Bang Rendra....kenapa Dipa dibawa melulu sih? dia di rumahnya donk" Biru duduk dan bersiap makan pago. "Makan bang, nggak usah gubris nih bang Rendra, rese banget" Biru mengibaskan tangannya. Kawa tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


"Tapi dia datang kan nanti?"


"Baaaanggg....bisa diem nggak sih?" Biru merajuk, sendok yang hampir sampai di mulutnya pun kembali ke piringnya.


"Kamu undang nggak sih?" tanya Rendra ke Kawa.


"Iya" jawab Kawa.


Penting nggak sih, Biru benar-benar bete dengan Rendra.


Mereka sarapan bertiga. Biru dan Rendra bergantian meninggalkan Kawa, mereka sudah sama-sama kenyang dengan makanan masing-masing. Biru sudah ditunggu untuk di make up, begitu juga Kawa. Meksipun tak membutuhkan make up seperti perempuan, tapi dia tetap membutuhkan seseorang untuk menatanya agar lebih terlihat menawan di hari pentingnya.


Kawa mematut dirinya di depan cermin, baju berwarna putih itu sudah membalut tubuhnya. Nampak sangat gagah, tak lupa terakhir dia memakai peci warna senada. Hingga detik ini dia belum melihat keberadaan Zahra. Bagaimana dengan calon wanitanya itu?.


Ganis memasuki kamar Kawa, melihat putra sulungnya akan menikah. Teringat akan momen puluhan tahun yang lalu, saat dia berada di rumah Saga. Pernikahan yang sama sekali tak dia duga. Ganis nampak berkaca-kaca.


"Kamu tampan sekali" gumamnya sambil memegang kedua pipi putranya itu. "Bunda senang akhirnya kamu menemukan seseorang yang kamu cintai, dan begitu juga sebaliknya, semoga kamu bahagia nak" Ganis meneteskan air matanya. Wanita yang ada di depan Kawa itu nampak anggun dengan kebayanya, dan riasan tipisnya. Kawa memeluk tubuh wanita itu.


"Amiiiin Bun..." Kawa mengelus punggung wanita itu dengan lembut. Air mata semakin deras mengalir. "Bunda jangan nangis, nanti aku sedih" gumam Kawa. Ganis menarik dirinya dari tubuh Kawa yang gagah. Kawa menatap Bundanya lekat.


"Bunda nggak sedih, bunda sangat bahagia melihat kamu, anak bunda yang akan mengarungi ibadah terpanjangnya, semoga kamu bahagia nak. Bunda senang sekali"

__ADS_1


Seseorang mengambilkan tisu untuk Ganis, Kawa mengambil tisu tersebut dan mengusap pipi Ganis lembut. Momen emosional buat kedua insan itu.


__ADS_2