Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 42 : Biru Berbuat Ulah


__ADS_3

Baru saja Kawa masuk ke dalam ruang kerjanya setelah kegiatan hari ini bersama Pak Liun. Tumpukan map sudah menyambutnya. Kawa melepaskan jasnya dan meletakkan di tempatnya, tak jauh dari kursi kebesarannya. Kawa melipat lengan bajunya hingga sampai siku. Dan dia mulai membaca dokumen yang ada di atas meja kerjanya.


Baru membaca sekitar 2 map dokumen, ponsel Kawa berdering. Awalnya dia acuh, namun ponselnya kembali berdering. Kawa meraih ponsel yang ada di ujung mejanya, tertera nama Bunda di sana.


"Iya Bun?"


Pulanglah, bunda butuh bantuanmu


"Harus sekarang bun?" Kawa mencoba menawar, karena harus ada kerjaan yang kudu selesai hari ini juga.


Iya


Kawa bergegas memutuskan sambungan, kini dia memencet nomer Pak Liun. Agak cemas juga saat mendengar suara bundanya yang nampak cemas.


"Iya Tuan?" sahut Pak Liun setelah masuk ke dalam ruangan Kawa.


"Kita pulang sekarang, dan tolong nanti pekerjaan yang harus selesai hari ini suruh antar ke rumah"


"Siap Tuan"


Kawa mengambil jasnya dan membawanya begitu saja tanpa dia pakai, bergegas meninggalkan kantor.


Dilihatnya Ganis tengah duduk di ruang keluarga, di sana juga ada Biru yang sedang terlihat tidak baik-baik saja. Wajah Biru nempak lebam, membuat Kawa bergegas duduk di sebelah adiknya itu.


"Kenapa bun?" Kawa melihat Ganis yang terlihat habis menangis.


"Tanya sama adikmu" balas Ganis dengan lembut sambil menghela nafas. Tersangkanya nampak diam saja lalu senyum cengo di hadapan Kawa.


"Kenapa?" tanya Kawa pada adiknya. "Kamu bertengkar lagi?" Kawa geleng-geleng kepala, merasa heran dengan adik perempuannya yang suka adu mekanik jika bertengkar.


"Baaaang...." Biru mulai membela diri.


"Kamu senang membuat bunda khawatir? hah?" Kawa mulai tegas. "Pasti gara-gara pacarmu Mario itu lagi?" Kawa menebak, dan memang nggak salah. Biru yang sudah bucin akut pada Mario memang sering beradu mulut pada para fans Mario, dan tak jarang terjadi adu mekanik.


"Habisnya...." belum juga Biru menjelaskan alasan mengapa pertengkarannya terjadi, pandangan Kawa padanya semakin tajam, sehinggu Biru pun terdiam.


"Maafin Biru bun" ucap Biru akhirnya.


"Kalau Papamu tahu, bisa-bisa kamu dilarang keluar lagi" ancam Bundanya.

__ADS_1


"Gini saja bun, kasih bodyguard saja" usul Kawa.


"Noooo abang, No!" Biru menolak.


"Iya, kueserahkan padamu ya bang, carikan tuh buat adikmu" Ganis menghela nafas panjang, tak habis pikir anak gadisnya sungguh bar-bar sekali.


"Bundaaa...." Biru terlihat cemberut. Bagaimana nasibnya jika nantinya dia akan pakai bodyguard, dia nggak akan bisa dengan bebas keluar, nggak bebas main, nongkrong, dan lain-lain.


"Sekalian yang bisa nyopirin dia" usul Ganis. Kawa mengangguk. Biru semakin terpojok, seperti ayam sayur yang lemas dan nggak bisa lagi menolak. Biru menatap abangnya dengan tatapan meminta tolong agar membatalkan ide itu, tapi Kawa menolak. Dia akan segera mencarikan bodyguard yang cocok untuk adiknya.


"Sampai kapan?" Biru masih cemberut.


"Sampai sikap bar-barmu musnah" jawab Kawa.


"Abaaang" Biru merengek.


Ganis meraih baskom berisi air hangat dan handuk yang digunakan untuk mengompres rahang Biru yang lebah itu.


"Sekalian noh kalau adu mekanik, kamu bawa granat, biar makin nyahok" Kawa membumbui. Bukannya marah, Biru malah tertawa mendengar Kawa berbicara seperti itu.


"Lucu kali ya bang, terus itu para cewek-cewek yang rese aku lempar granat" Biru tertawa ngakak. Kawa semakin geleng-geleng dengan tingkah adiknya. Kawa menoyor dahi adiknya dengan satu jarinya. Dia harus memikirkan dan mencarikan bodyguard yang ebnar-benar tangguh untuk adiknya.


"Bodo amat dah" Kawa melihat adiknya gemas. Dia nggak peduli dengan Mario, karena dari penuturan Biru, Mario itu tukang selingkuh. Hanya saja saking bucinnya Biru, dia mau menerima kembali Mario. Dan itu pula yang membuatnya nggak suka dengan Mario.


"Serius bang"


"Terserah abang" Kawa segera meninggalkan Biru, dia masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.


Malam pun tiba, Pak Liun sudah sejak tadi mengantarkan berkas padanya. Kini Kawa sudah berada di ruang kerjanya. Dia sibuk membaca dokumen dan juga menandatanganinya dan harus segera mungkin dikirim kembali ke kantor. Para karyawan yang lembur pasti sudah sangat menunggunya. Kawa bekerja dengan cepat.


"Sudah selesai bang?" tanya Ganis masuk ke ruangan Kawa yang tidak ditutup pintunya.


"Sudah Bun, tinggal nunggu ini dikembalikan ke kantor"


"Siapa yang bawa?" Ganis duduk di kursi depan Kawa.


"Pak Liun, masih menunggu di depan" jawab Kawa.


"Owalah...kok nggak bilang kalau Pak Liun belum balik"

__ADS_1


"Sebentar ya bun, aku antar berkas ini dulu, nanti aku kembali ke sini" Kawa pamit keluar sebentar menemui Pak Liun dan menyerahkan berkasnya.


Setelah Pak Liun membawa berkas, Kawa kembali masuk ke dalam rumah. Dan Ganis sudah berpindah tempat ke ruang keluarga. Hari ini Saga sedang tidak berada di rumah, ada agenda ke luar kota hingga beberapa hari ke depan.


"Jangan bilang Papamu tentang adikmu" Ganis menatap anak sulungnya dengan lembut. Kawa pun memahaminya.


"Iya bun"


"Dan tolong segera carikan orang yang cocok untuk menjaga Biru, biar nggak bar-bar seperti itu lagi, untung saja nggak sampai ada laporan ke polisi atas tindak penganiayaan" Ganis nampak cemas.


"Iya bun" Kawa merogoh ponselnya di saku, dan memeriksa pesan yang dia kirimkan pada Rendra. "Nah ini bun, ada kabar dari Rendra, dia ada kenalan yang sekiranya bisa aku cek nanti. Apa cocok atau tidak"


"Bagus bang"


"Malam ini aku keluar bun"


"Iya, hati-hati ya nak"


Kawa nampak memperhatikan seisi cafe yang malam ini penuh pengunjung, Kawa mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari Rendra yang memberi kabar jika dia sudah berada di tempat ini. Terlihat seseorang mengangkat tangannya, memberikan kode jika dia berada di sana. Kawa pun segera mendekat ke meja tersebut.


Nampak Rendra dan seseorang yang berusia mungkin sebaya dengan Kawa.


"Kenalin nih, teman main" Rendra menunjuk ke arah pemuda yang duduk di samping Rendra.


"Dipa" pemuda itu memperkenalkan diri. Tatapannya tegas, dan cengkeraman tangannya begitu kuat saat bersalaman dengan Kawa.


"Kawa" Kawa membalas memperkenalkan dirinya. Dia pecaya jika Rendra tak akan salah memilih orang.


"Karateka, bisa nyetir, pokoknya sesuai dengan kriteria yang kamu ajukan" Rendra nampak bangga dengan kinerjanya.


"Ok, apa besok bisa mulai bekerja? dengan masa percobaan 2 minggu" tanya Kawa.


"Siap pak" jawab Dipa tegas.


"Panggil saja Kawa, nampaknya kita seumuran" balas Kawa cepat.


"Baik, besok siap bekerja"


        Pertemuan pertama cukup meyakinkan saat melihat calon bodyguard, dengan memberi masa percobaan dua minggu. Kawa akan mengevaluasi apakah dia akan melanjutkan kerjasama dengan Dipa atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2