Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 32 : Restu


__ADS_3

Pak Latif menatap laki-laki muda yang ada di depannya, laki-laki yang kesekian yang berani mengatakan akan memintang putrinya.


"Aku belum mengenalmu, bagaimana bisa aku akan percaya padamu, aku tidak kenal ayah ibumu? bagaimana aku mengenal bibit bebetmu" gumamnya. Zahra yang mendengar percakapan tersebut dari dalam seolah tercekat, dia selalu merasa deg-degan dan was-was. Jika sebelumnya dia bahagia saat ayahnya menolak banyak laki-laki yang hendak meminangnya, tapi kali ini berbeda, dia ingin ayahnya lembut dan menerima pinangan dari laki-laki itu. Harap Zahra.


"Tenanglah" ujar Bu Latif yang mengetahui gundah di hati Zahra. Zahra mencoba tersenyum. "Dia laki-laki yang baik kan? dia tak akan mengecewakan kamu kan nak?" Bu Latif memegang bahu Zahra yang duduk di sampingnya.  Hanna tersenyum manis, mencoba menanggalkan gundah yang ada di hatinya. Baginya, Kawa adalah cinta pertamanya, di mana dia bisa merasakan getaran cinta dan merasa nyaman meski tak terucap.


"Saya akan pulang ke kota setelah ini, tapi saya berjanji akan membawa kedua orang tua saya" imbuh Kawa dengan sungguh-sungguh, bahkan kedua orang tuanya pun belum mengetahui rencana Kawa yang meminang anak orang.


Pak Latif menangguk. "Aku sudah banyak terluka, terluka saat melihat anakku menderita, dan aku tak mau lagi melihat dia menderita" ujarnya sambil menatap Kawa. Tak ada rasa gentar yang dirasakan oleh Kawa.


Sementara Rendra yang diminta menunggu di teras nampak gusar, sesekali dia menengok ke dalam. Tak ada suara yang terdengar, hanya dia melihat gerak dari Pak Latif dan Kawa yang berbicara dengan serius, tak ada tawa di antara mereka.


"Saya berani meminang, berarti saya siap membahagiakan" Kawa meyakinkan Pak Latif.


"Jika kamu tak bekerja lagi di sini, lalu apa yang kamu lakukan? bagaimana kamu membahagian anak saya? karena membahagian bukan hanya sekedar cinta" Pak Latif terus saja menyelidik.


"Saya ada usaha Pak, jadi nanti Zahra akan baik-baik saja, saya janji"


Pak Latif menapat Kawa serius, pemuda itu memang sungguh nekat dan tak gentar.


"Zahra...." panggil Pak Latif. Mendengar namanya disebut, Zahra yang masih cemas duduk di dalam itu segera diminta Ibunya untuk keluar menemui ayahnya. Perlahan Hanna melangkahkan kakinya keluar dan menemui dua lelaki yang sedang ngobrol itu.


"Iya yah" Hanna menunduk.


"Duduklah" Pak Latif meminta Hanna duduk di sebelahnya.


"Iya yah" Hanna tak berani beradu pandang dengan Kawa.


"Dia, apakah kamu sudah mantap dengan dia?" tanya Pak Latif pada putrinya itu dengan nada tegas seperti biasanya. "Dia datang meminangmu, ayah minta jawaban kamu"


Hati Zahra semakin tak karuan, jantungnya berdegub kencang, dia mengangkat wajahnya, menatap ayahnya perlahan lalu sekilas melihat Kawa yang mencuri pandang ke arahnya sambil tersenyum. Datang kesini tanpa rencana membuat Zahra tak bisa menyiapkan jawabannya.


"Bagaimana Zahra?" ulang ayahnya. Selang beberapa lama, akhirnya Zahra mengangguk kecil, itu sudah lebih dari cukup untuk Kawa.

__ADS_1


Pak Latif yang akhirnya harus melepas masa lalu Zahra pun merasa agak khawatir, akan tetapi ini untuk kebaikan Zahra ke depannya. Jika dibilang berat, beratlah rasa hatinya.


"Masuklah" Pak Latif meminta Zahra kembali masuk ke dalam, Zahra pun menurutinya.


Setelah mendapatkan restu dari Pak Latif yang kata Rendra galaknya tujuh turunan, Rendra merasa sangat senang. Perjalanan pulang ke kota pun sangat menyenangkan, semua barang sudah mereka paketkan menuju rumah kembali. Dan Kawa bersiap untuk bekerja di salah satu perusahaan keluarganya.


"Lalu kapan kamu akan kembali? dia tahu kan kalau kamu sekarang sudah nggak di sana lagi?" Rendra mencecar.


"Iya" jawab Kawa singkat, dia sedang berkirim pesan dengan Zahra lewat ponsel.


"Cieee yang sudah dapat restu, akhirnya, selamat bro" Rendra senang.


Kawa sedang memikirkan bagaimana dia akan mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa dia sudah siap kembali bertunangan dengan kekasih hatinya. Semoga kejadian seperti dulu tak terulang.


Ganis, Bunda Kawa nampak sangat bahagia melihat Kawa kembali ke rumah. Ganis merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Kawa.


"Sore tante" sapa Rendra dengan sumringah.


"Sore juga Rendra" balas Ganis seusai memeluk Kawa. Rendra mengulurkan tangannya dan salim kepada Ganis.


"Bentar Bun, aku mau mandi dulu, gerah" Kawa menunjuk ke atas, di mana kamarnya ada di lantai dua. Ganis mengangguk. Sementara itu Rendra membanting tubuhnya duduk di atas sofa di ruang keluarga.


"Bagaimana perjalannya? menyenangkan?" Ganis duduk di salah satu sofa yang menghadap Rendra. Datanglah salah satu pelayan rumah yang membawakan minuman untuk Rendra, secangkir teh hangat di sore hari.


"Wah...seger nih, menghangatkan badan dan menyegarkan setelah perjalanan tadi" Rendra berbinar. "Terima kasih mbak" ucap Rendra.


"Sama-sama mas Rendra" jawab mbak pelayan karena dia sudah mengenal Rendra.


"Em...sangat menyenangkan tante" jawab Rendra dengan wajah berbinar.


"Nampak senang sekali" Ganis ikut tersenyum, kesetrum aura bahagia Rendra.


"Iya...karena tante akan segera dapat menantu" Rendra bebisik, lalu tergelak.

__ADS_1


"Ah kamu"


"Loh iya tante...Kawa baru saja berhasil meluluhkan pujaan hatinya beserta keluarganya" Randra memulai cerita.


"Ah..."


"Ih tante malah gitu ekspresinya" Rendra masih saja tersenyum bahagia. Sementara Ganis merasa takut, jangan sampai Kawa kembali terluka oleh perempuan seperti dulu.


"Kenapa tante? khawatir?" Rendra seolah mengetahui kegelisahan Ganis. Ganis tersenyum.


"Tenang tante...dia baik-baik, aku jamin begini" Rendra mengangkat kedua jempol tangannya sambil tersenyum mantap.


Percakapan mereka terhenti saat mendengar langkah Kawa mendekat, dengan memakai celana pendek dan kaos warna putih tanpa lengan, rambut Kawa yang dibiarkan masih agak basa itu mendekat ke arah Ganis dan Rendra.


"Hah...ngegosip aja kamu" sahut Kawa yang tak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya.


"Yuk ah makan dulu" ajak Ganis pada mereka berdua. Ganis sudah sangat hafal dengan kedua pemuda yang ada di hadapannya itu, mereka berteman sejak dulu, sehingga seakrab itu.


"Biru belum pulang Bun?" tanya Kawa, karena tak melihat adiknya itu. Dia sengaja tidak mengabari kedatangannya itu.


"Belum, dia sering pulang malam karena mulai sibuk dengan tugas-tugasnya.


"Aman kan Bun?" Kawa memastikan, karena dia tahu, adik perempuannya itu tergolong badung.


"Aman" Ganis tertawa.


"Ih masakan tante nggak ada duanya" Rendra menyela, dia sangat menikmati masakan yang ada di hadapanya, karena Ganis tahu jika mereka akan pulang hari ini, maka dia masak agak banyakan.


"Kok tahu kalau masakan tante?" Ganis menyeringai.


"Tahu lah tan"


Gelak tawa terdengar dari ruang makan, mereka makan terlebih dahulu tanpa menunggu yang lain datang, karena sejak siang tadi mereka memang belum makan, lebih memilih menunda makan karena ingin merasakan makanan di rumah.

__ADS_1


Akhirnya....setelah beberapa purnama...^^


__ADS_2