Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 15 : Rindu?


__ADS_3

Bumi masih basah oleh hujan deras yang mengguyur semalam, matahari pun rasanya masih malu menampakkan dirinya. Sudah hampir seminggu Kawa berada di rumahnya, hari-harinya diisi dengan bermalas-malasan dan sesekali keluar kamar. Pesan dari Rendra pun dia abaikan begitu saja. Dia menjadi tidak yakin untuk kembali ke tampatnya bekerja.


"Bang....libur nih, keluar yuk" Biru melongok dari balik pintu, melihat Kawa duduk di dekat jendela, pandangannya masih memandang keluar, tanpa mempedulikan kedatangan adiknya.


"Baaaang..." Biru berteriak, kini dia sudah berada di ranjang Kawa.


"Nggak ah, males"


"Yah...Abang, kan sebentar lagi abang kembali kerja, dan ini kan mumpung akunya juga libur kan" Biru merajuk.


Kawa melihat ke arah Biru sejenak, memang sudah lama dia tidak pergi berdua bareng adiknya tersebut.


Biru dengan semangat menenteng barang belanjaan yang baru saja dia borong di sebuah toko. Kawa hanya geleng-geleng melihat tingkah adiknya tersebut.


"Sudah lama aku nggak shopping, akhirnya...." Biru bahagia, Kawa melihat adinya tanpa ekspresi.


Mereka memutuskan mampir di sebuah food court yang ada di mall tersebut.


"Bang...kemarin malam Papa tanya ke aku" Biru membuka percakapan.


"Apa?" tanya Kawa.


"Abang kenapa tumben lama di rumah, apa abang memang sudah tidak akan kembali ke sana? kalau iya, maka Papa akan memperkenalkan abang ke media sebagi pemimpin di perusahaan Papa yang baru saja dibuka itu" Biru mengaduk minumannya. Kawa terdiam.


"Papa mau ngomong sama abang susah" Biru menambahkan.


Kawa memahami apa yang dilakukan Papanya, karena memang dia malas untuk membicarakan hal tersebut.


"Yang pasti abang nggak mau diperkenalkan ke publik jika abang adalah bagian dari Arjuna Group" ujar Kawa. Biru menatap abangnya heran.


"Kenapa sih bang?"


"Ya pokoknya nggak mau" Kawa tidak membeberkan alasanya.


"Ya sudah lah, berarti abang tetap kembali kesana ya? nanti aku bilang Papa nih, atau abang sendiri gih yang bilang ke Papa, masa iya tinggal serumah kok pakai perantara" Biru sebal.


"Ya ya...." jawab Kawa malas.


Dia sendiri bingung, apakah dia akan kembali ke tempatnya bekerja atau menetap kembali ke kota ini. Jika dia tiba-tiba meninggalkan kota kecil itu, itu artinya dia adalah laki-laki pengecut untuk kedua kalinya. Bahwa dunia akan memandang dia suka melarikan diri dari kenyataan, dari masalah yang sedang dia hadapi.


***


Sudah seminggu Zahra tidak melihat batang hidung Kawa, biasanya saat dia berbelanja ke minimarket, dia akan melihat Kawa di sana. Dia merasa punya hutang pada Kawa, belum sempat dia mengucapkan terima kasih dari Dira perhal kado pemberian Kawa.


Dia ingin menceritakan bagaimana Dira bahagia mendapatkan kado dari Kawa, sebuah kaos berwarna pink dengan gambar kuda pony dan sebuah buku cerita dengan tema kuda pony. Dira begitu antusias dan berterima kasih.


Zahra mengeluarkan dompet dari tasnya untuk membayar belanjaanya.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Rendra dengan ramah.


"Sudah, eh...maaf...kamu temannya Kawa kan?" tanya Zahra agak ragu.


"Iya, temannya Kawa, temannya Tania, dan pernah ke rumah, iya..." jawab Rendra sambil tertawa kecil.


Zahra tersenyum, sebenarnya dia kikuk mengawali pembicaraan.


"Iya aku ingat"


"Kenapa?" tanya Rendra.


"Itu, Kawa..." Zahra ragu.


"Oh mencari Kawa? Dia sedang cuti dan pulang kampung" jawabnya sekenanya, entahlah "pulang kampung" sebutan yang tepat atau tidak, karena bukan di kampung rumah Kawa yang sebenarnya. "Ada yang bisa aku sampaikan, dengan senang hati" Rendra menawarkan diri.


Dengan segera Zahra menggelengkan kepala, "Tidak, ini uangnya" Zahra membayarkan uang belanjanya.


"Oh kirain" Rendra menerima uang tersebut dan memberikan uang kembalian untuk Zahra.


"Terima kasih"


"Ya sama-sama, jangan lupa datang lagi" ujar Rendra ramah sesaat setelah Zahra sampai di pintu untuk keluar meninggalkan toko.


        Zahra duduk di kursi depan cermin, sudah beberapa hari ini Ayahnya tidak mengungkit tentang suaminya dan ataupun marah dengan laki-laki yang berniat melamarnya. Apakah ini sebuah lampu hijau? apakah ayahnya sudah melunak?


Zahra tersenyum pada Dira, "Tadi Dira tanya apa?"


"Oh...apa Bunda sudha bertemu dengan Om pemberi kado?" Dira mengulang pertanyaannya.


"Belum sayang, Bunda belum bertemu om Kawa"


"Oh namanya om Kawa?"


Zahra mengangguk sambil tersenyum.


"Kemana dia Bunda?" tanya Dira polos.


"Om sedang berlibur, pulang ke rumahnya, rumahnya tidak di sini" Zahra menjelaskan sesederhana mungkin agar Dira paham. Dira mengangguk.


"Lalu kapan Om kembali? Dira kepengen ketemu Om Kawa" ceplos Dira, membuat Zahra agak terkejut. "Dira ingin mengucapkan terima kasih langsung ke Om Kawa" imbuhnya.


"Kamu sudah makan belum?" Zahra mengambil topik lain agar tidak membahas Kawa lagi.


"Sudah Bun, tadi sama nenek"


"Nah kalau sudah, sekarang waktunya Dira tidur"

__ADS_1


"Ya Bunda....Dira tidur dulu ya..."


"Iya sayang, jangan lupa berdoa ya" Zahra mengingatkan.


"Iya Bun"


Dira meninggalkan Zahra yang masih duduk di kursinya yang tadi. Bahkan Dira yang masih kecil saja merasa senang dengan Kawa. Zahra mengulas senyumnya, begitu dia tersadar, dia segera menghempas senyumnya tersebut. Apakah dia sedang merindukan Kawa?


Zahra memejamkan matanya, dia tidak mau terlalu larut dalam hayalannya. Siapa yang mau dengan perempuan janda seperti dia.


***


Rendra nampak putus asa, pesan dan telepon darinya tak ada satupun tanggapan dari Kawa.


"Gimana sih kamu?" ujar Rendra pada Tania, "Kok tidak bilang kalau Zahra sudah bersuami" Rendra marah pada Tania.


"Bentar dengerin dulu" Tania tidak mau disalahkan begitu saja.


"Apa?"


"Jadi begini, keluarga Zahra pun baru di kampung ini, sekitar setahunan lah ya, aku kenal Zahra, dekat dan sahabatan sama dia, tapi dia juga nggak mau terbuka sama aku, tapi setahuku dia memang sudah menikah..."


"Nah kan....." Rendra memotong.


"Jangan potong omongan dulu lah..." Tania kesal. "Dengerin dulu"


"Iya....."


"Jadi dia menikah dengan anggota tentara gitu, tapi meninggal, cuma...cuma nih ya...ayahnya itu menganggap kalau suaminya masih hidup"


"Galak tuh kayaknya bapaknya" ceplos Rendra. Tania tertawa.


"Kenapa? iya kan?" Rendra memperjelas.


"Begitulah"


"Jadi intinya Zahra nggak punya suami kan sekarang?"


"Iya"


"Nah kalau begini kan jelas, tuh Kawa jadi patah hati, tega amat"


"Lah kenapa aku yang disalahin?" Tania tertawa.


"Iya, kamu yang salah"


"Ya sudah, nanti kalau sudah kembali, dijelaskan begitu, jangan patah semangat duluan kalau memang beneran suka sama Zahra, lepaskan dia dari belenggu bapaknya" ujar Tania bersemangat.

__ADS_1


Rendra tidak lagi menghubungi Kawa, dia yakin bahwa sahabatnya akan kembali. Kembali memperjuangan cintanya.


__ADS_2