
Suka tidak suka, mau tidak mau, ini adalah salah satu konsekuensi dari Kawa yang menjadi pimpinan di perusahaannya. Waktu 3 hari untuk bulan madu pun berlalu bergitu saja, kini dia harus kembali pada rutinitasnya di kantor. Banyak sekali hal yang harus dia handle, tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.
"Berangkat dulu ya sayang...," pamit Kawa pada Zahra seusai mereka sarapan, mereka sudah menempati rumah mereka sendiri. Tak lagi tinggal satu rumah dengan orang tua.
"Iya bang," jawab Zahra dengan senyum manisnya, Zahra meraih tangan Kawa dan menciumnya, Kawa mencium kening istrinya itu sebelum naik ke mobil. Pagi ini dia berangkat ke kantor tanpa sopir. "Hati-hati bang," Zahra melambaikan tangan begitu Kawa masuk ke dalam mobil, Kawa pun membalas lambaian tangan Zahra. Dan mobil pun berlalu meninggalkan halaman rumah mereka yang begitu luas.
Sesampainya di kantor, para karyawan yang melihat kedatangan Kawa pun memberikan sapaan dan juga anggukan kepala sebagai tanda hormat. Kawa segera memasuiki lift menuju ruangannya. Sesampainya di depan ruangannya, Nadia yang sudah datang sejak pagi nampak sigap melihat bosnya datang.
"Selamat pagi Pak," Nadia membungkukkan badan seketika saat melihat Kawa hendak masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi Nadia,"
Pak Liun yang sudah mengekor semenjak Kawa baru masuk kantor ini pun ikut masuk ke dalam ruangan Kawa. Kawa duduk di kursinya, matanya sibuk melihat tumpukan berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
"Untuk hari ini apa saja pak Liun agendanya,?" Kawa langsung tancap gas.
"Nanti siang ada meeting dengan salah satu investor baru Tuan, bertempat di kantor ini," jawab Pak Liun tanpa harus membaca buku agendanya.
"Hanya itu,?" tanya Kawa sambil membuka satu per satu berkas yang tinggal dia tanda tangani itu.
"Iya Tuan, selebihkan besok dan lusa jadwal akan padat jika memang sudah saling menyetujui kontrak kerjanya," jawab Pak Liun.
"Baik Pak Liun terima kasih,"
***
Zahra yang masih beradaptasi di rumah baru nampak sedikit merasa aneh, jika biasanya dia berada di rumah yang sederhana, yang sama sekali tidak luas, kini dia berada di rumah yang mewah, luas, dan megah. Dia benar-benar harus beradaptasi. Berbagai macam fasilitas mewah berada di sana, termasuk juga furniture dan alat yang ada di dapur. Zahra meminta agar tidak usah banyak asisten rumah tangga di sana, dikarenakan dia tidak bekerja, maka Zahra bisa melakukan aktivitas memasak untuk suaminya itu, dan dengan berat hati Kawa mengizinkan.
Setelah menjadi suami Zahra, sebenarnya Kawa tak ingin Zahra terlalu sibuk dan capek, namun Zahra tidak mau hanya berpangku tangan dan mengandalkan semua pekerjaan dilakukan oleh asisten rumah tangga. Malah akan semakin membuat Zahra tidak memiliki kesibukan apapun.
Setelah Zahra menelpon kedua orang tuanya dan juga Dira, Zahra keluar dari kamarnya dan beranjak menuju dapur. Di sana sudah ada mbak Iyahh, salah satu asisten rumah tangga yang dipilih oleh Kawa untuk dibawa ke rumah ini.
__ADS_1
"Nyonya....nyonya mau apa,?" buru-buru mbok Iroh bertanya pada Zahra yang terlihat hendak mencuci piring kotor, mbok Iyah tergopoh gopoh menghalangi. "Jangan nyonya, biar saya saja, jangan..." mbok Iyah segera mengambil alih piring kotor tersebut. "Maaf nyonya, ini tadi saya habis membereskan sampah di belakang, belum sempat ke dapur," lapornya.
"Nggak apa-apa mbok, biar saya bantu," Zahra masih ingin berkutat di dapur.
"Jangan nyonya....biar saya saja," mbok Iyah tetap tidak memperbolehkan. "Nanti kalau apa-apa nyonya yang mengerjakan, lantas saya digaji untuk apa?" mbok Iyoh tertawa kecil.
"Oya mbok, biar saya masak untuk abang ya...bahannya sudah lengkap kan di lemari pendingin?" Zahra tiba-tiba memiliki sebuah ide untuk masak makan siang untuk Kawa.
"Iya nyonya, lengkap di sana," jawab mbok Iyah yang masih sibuk mencuci piring. Zahra senang, dia akan memasak untuk Kawa dan akan mengantarkannya ke kantor.
Dengan cekatan karena sudah terbiasa masak, Zahra memasak sayur asam dan ayam goreng. Dia berharap suaminya akan menyukainya, karena jujur saja Zahra belum terlalu banyak tahu makanan kesukaan suaminya itu.
"Uh baunya menggoda sekali nyonya," puji mbok Iyah, Zahra yang masih menggoreng ayam pun tertawa.
"Ah mbok Iyah ini, apa mbok mau nyoba,?" Zahra menawarkan.
"Eh enggak Nyonya.... Oya nyonya...kalau sayur asem enaknya ada sambel terasinya, biar makin mantap,"
"Iya nyonya,"
"Mbok bisa buatkan sambelnya?" Zahra menengok ke arah Mbok Iyah.
"Bisa nyonya, siap laksanakan." jawab Mbok Iyah dengan senang hati, dan dengan cekatan pula mbok Iyah melakukan tugasnya. Alhasil mereka masak berdua dengan suka cita di dapur.
Waktu makan siang tinggal sebentar lagi, Zahra melepaskan apronnya dan meninggalkan dapur setelah dia selesai menata ke dalam box makan warna biru muda. Zahra akan mandi dan berganti baju sebelum ke kantornya Kawa untuk mengantarkan makanannya.
Zahra sudah tahu alamat kantor suaminya, dan kata Kawa, jarak antara kantor dan rumah tidaklah jauh. Hanya sekitar 20 menit jika jalanan lancar. Zahra sengaja tak akan memberi tahu kedatangannya ke kantor. Karena Zahra tak mau beresiko, maka dia akan pergi ke kantor dengan diantar oleh sopir.
"Jalan pak, ke kantornya abang ya..." pinta Zahra pada mang Oding, nama sopirnya.
"Siap nyonya," mobil pun melaju.
__ADS_1
Bagi Zahra, ini masih terasa sangat aneh buatnya. Jika biasanya dia kemana-mana naik motor atau angkutan kota, kini dia harus diantar dengan mobil pribadi. Rasanya ingin menolak, tapi inilah kehidupannya sekarang. Zahra melihat ke kanan dan ke kiri sepanjang perjalanan menuju kantor Kawa. Hiruk pikuk suasana kota besar memang sangat berbeda dengan apa yang ada di kota kecil yang dia tinggali. Jalanan agak macet siang ini, Zahra melihat jam tangannya. Dia berharap Kawa belum memesan makan siang dan dia tiba dengan teoat waktu dan bisa menemani suaminya makan siang.
Hampir 30 menit perjalanan, akhirnya Zahra tiba di sebuah gedung yang menjulang. Zahra yang memang baru pertama kali melihat gedung di mana suaminya kerja itu berkali-kali meneguk ludahnya. Seolah masih menolak jika suaminya adalah salah satu konglomerat di negeri ini.
"Silahkan nyonya," mang Oding membukakan pintu mobil untuk Zahra, tetiba nyali Zahra mendadak ciut. Apakah yang akan dia lakukan di kantor ini? apakah orang akan menerimanya dengan baik. Zahra melihat ponselnya, hendak mengabari Kawa jika dia berada di sini, tapi urung. Nanti tidak akan jadi kejutan.
Zahra akhirnya masuk ke dalam, dan menuju resepsionis.
"Selamat siang Nyonya, apa yang bisa saya bantu,?" tanya seorang gadis dengan sangat ramah, nampaknya dia sudah tahu jika orang yang ada di hadapannya itu adalah istri dari Kawa, bosnya.
"Saya ingin bertemu dengan suami saya,"
"Oh baik nyonya, mari saya antarkan," imbuhnya tanpa banyak bertanya dan bertele-tele. "Ndin...Andin..." panggilnya pada seseorang.
"Ya mbak?" seorang yang dipanggil Andin segera mendekat.
"Tolong jagakan sebentar, saya mengantar nyonya ke Tuan Kawa sebentar.
"Baik mbak," jawabnya patuh.
"Mari nyonya," resepsionis ramah itu segera mengajak Zahra masuk ke dalam lift, dia yang menjadi pemandu hingga tiba di depan pintu ruangan Kawa.
"Apa tuan ada,?" tanya resepsionis pada Nadia yang tak jauh dari pintu Kawa.
"Oh...Pak Kawa? tadi keluar sebentar, di kantor aja sih, tunggu sebentar. Ata apa perlu saya telfonkan,?" tawar Nadia. Karena Kawa sejak 30 menit yang lalu meninggalkan ruangan tersebut bersama Pak Liun.
"Bagaimana nyonya?" tanya resepsionis tadi.
"Oh tidak perlu, biar saya tunggu saja," Zahra merasa ragu, apa sebaiknya dia pulang saja. Kawa memang sangat sibuk, dan keberadaan dia di sini hanya akan mengganggu saja. Mungkin suaminya itu keluar untuk makan siang.
"Nyonya silahkan masuk, tunggu di dalam," saran Nadia, dia juga tahu jika Zahra adalah istri Kawa. Akhirnya Zahra menuruti saja untuk menunggu Kawa di dalam ruangan.
__ADS_1