Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 56 : Lara Hati


__ADS_3

Kawa memeluk Zahra dan mengajaknya segera memasuki gedung bioskop yang sudah dia sewa. Karena jamnya sudah akan mulai. Zahra mulai bisa mengendalikan dirinya dan air matanya.


"Hey...jangan sedih," ujar Kawa menenangkan istrinya, mereka sudah berada di dalam gedung bioskop. Zahra celingukan, mengapa tidak ada penonton yang lain?


Kawa tersenyum. "Kenapa,?"


"Kenapa hanya kita,?" tanya Zahra heran. Diam-diam Kawa sudah memesan satu gedung ini untuk malam ini.


"Karena aku sudah membayar semuanya," Kawa tersenyum, tangan kanannya merangkul Zahra. Zahra membulatkan matanya, bisa-bisa satu gedung bioskop ini hanya mereka berdua yang menonton.


"Jika kamu ingin melakukan sesuatu, ingin menangis ingin cerita, ruangan ini akan aman bagimu," Kawa menjawab dengan wajah serius, karena dia tahu Zahra sedang tidak baik-baik saja. "Aku bukanlah cenayang yang bisa menerawang isi hatimu, dan aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja,"


Lampu gedung bioskop mulai meredup, film pun baru mulai diputar. Zahra terdiam dan melihat film yang mulai berputar itu, tidak ada kalimat yang keluar. Dia sedang melihat jalan cerita yang ada di film, sedangkan Kawa membiarkan Zahra menikmati sajian yang ada di hadapannya itu. Hampir dua jam tidak ada percakapan antara mereka, tapi tangan mereka sama-sama bertaut.


Lampu mulai menyala, dan mereka memutuskan untuk tetap masih berada di sana.


"Bagaimana suasana hatimu,?" tanya Kawa sambil melihat wajah Zahra yang masih nampak belum baik-baik saja, Zahra pun menitikkan air mata. Sedikit membuat Kawa bingung, entah filmnya yang membuat Zahra terharu atau memang dia sedang bersedih dengan hatinya. Kawa mengusap kepala Zahra dengan lembut.


"Maafkan aku bang," isaknya. Kawa masih belum bertanya panjang lebar, dia membiarkan Zahra menhabiskan rasa sedihnya terlebih dahulu. "Maafkan aku bang," ujarnya lagi.


Zahra menarik diri dari pelukan Kawa, dan menatap wajah suaminya itu.


"Bang...jika suatu saat aku tidak bisa memberikanmu keturunan, aku bersedia dilepaskan oleh abang," ucapnya tegar.


"Zahra...apa yang kamu bicarakan,?" Kawa bertanya dengan lembut, hatinya mendadak terasa tak karuan dengan kalimat yang meluncur dari bibir Zahra. "Semua akan baik-baik saja," Kawa masih meyakinkan. Zahra menggelengkan kepalanya, kini dia sudah bisa menguasai air matanya. Tak sedikitpun menetes.


"Apa yang sedang kamu fikirkan? kamu jangan egois dengan memendamnya sendiri,"


"Bang maaf, mungkin kamu salah memilih istri,"


Kalimat demi kalimat yang diucapkan Zahra sudah mulai mengacau bagi Kawa.


"Zahra...ok kita pulang ya, kamu lelah, dan kamu butuh istirahat," Kawa memegang kedua bahu istrinya itu dan menatap lekat. Zahra tertunduk tanpa menimpali. Kawa dibuat semakin bingung dengan kalimat yang tidak jelas itu.


"Bang, tadi aku memeriksakan diri ke dokter, dan keadaanku cukup kecil kemungkinan bisa hamil dengan cara yang normal,"


Kalimat itu memperjelas apa yang sedang dirasakan oleh Zahra, wajah muram yang terlihat sejak tadi itu menjelaskan tentang ini.

__ADS_1


"Zahra....kamu sudah lupa kah dengan apa yang ada di diri kamu,? dengan apa yang kamu pegang saat ini,?"


Zahra menatap Kawa tajam.


"Kamu sedang lupa jika yang memiliki alam semesta adalah yang Maha Kuasa," Kawa menelan ludahnya, nampaknya istrinya benar-benar tengah berada pada titik putus asa. Kawa menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat. Menenangkannya sebisa dia.


"Semua akan baik-baik saja, jika Tuhan tidak memperkenankan kita memiliki anak pun tidak akan menyurutkan niatku untuk tetap bersamamu," Kawa menegaskan. Dan kali ini pertahanan Zahra runtuh, air matanya meleleh, dia tidak bisa menjelaskan isi hatinya.


Kawa mengelus punggung Hanna, agar istrinya tenang dan merasa tak sendiri. Meskipun sejatinya dia tidak tahu apa sedang terjadi hari ini.


       Sepanjang perjalanan, Kawa sesekali menatap Zahra yang yang sama sekali belum berbicara sepatah katapun. Kawa memberikan kesempatan Zahra untuk menenangkan batinnya.


"Bang...bolehkah kita ke rumah Ibu, Zahra rindu Ayah Ibu dan juga Dira," ucapnya.


"Iya boleh donk, ehm...perlukah aku ambil cuti,?"


Zahra menggeleng.


"Nggak apa-apa sayang,"


"Nggak usah bang, ambil akhir pekan saja nggak apa-apa kok, yang penting bisa ketemu Ayah, Ibu, dan juga Dira,"


        ***


Dira berteriak girang saat melihat Zahra turun dari mobil,


"Bundaaaaa," teriak Dira lalu menghambur ke pelukan Zahra. Zahra pun langsung berjongkok dan memeluk balik Dira.


"Bunda rindu Diraa," Zahra memeluk erat Dira.


Kawa menurunkan barang bawaan mereka dan membawanya masuk. Di depan sudah ada Bu Latif dan Pak Latif, Kawa menyalami satu per satu orang tuanya itu.


"Bagaimana perjalanannya nak? apakah menyenangkan,?" tanya Bu Latif ramah, dia senang melihat anak dan menantunya mengunjunginya.


"Iya Buk, maaf baru bisa kesini,"


"Enggak apa-apa, Ibuk ngerti kalian sibuk sekali,"

__ADS_1


"Yah," sapa Kawa sambil menyalami Pak Latif. Laki-laki itu mengangguk, matanya melihat ke arah Zahra dan Dira yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Mereka nampak senang bisa bertemu.


"Yah...Buk," Zahra menyalami satu per satu orang tuanya.


"Bunda..bunda...aku punya mainan dari kakek,"


"Oh ya, apa itu,?" tanya Zahra dengan nada penasaran, Dira dengan semangat menggandeng tangan Zahra mengajaknya ke dalam, dia ingin memperlihatkan mainan yang dia punya.


"Ini," Dira mengangkat seperangkat alat masak-masakan yang dibelikan oleh kakeknya beberapa hari yang lali. Zahra mengangguk senang.


"Bunda juga bawa mainan buat Dira,"


"Oh ya? mana,?" mata Dira berbinar, dia senang mendengar itu. Zahra keluar sebentar dan mengambil mainan yang sudah dia siapkan untuk Dira.


Dira membuka totebag besar dan membukanya, beberapa boneka barbie beserta rumahnya dan juga pernak-perniknya.


"Waaw bagus banget bun, makasih ya bun...," ujar Dira, matanya sibuk melihat mainan yang sedang dia bongkar itu.


"Sama-sama sayang," Zahra mengelus rambut Dira, nampak gadis kecil itu semakin cantik. Nampaknya dia baik-baik saja tanpa Zahra, dan Zahra sangat bersyukur.


Mereka baru saja makan malam, Kawa sedang berbicang dengan Pak Latif di teras depan, membicarakan perihal pekerjaan dan obrolan lainnya. Sedangkan Zahra dan Ibunya serta Dira berada di ruang keluarga.


"Bagaimana di sana?"


"Baik buk,"


"Alhamdulillah, Ibuk senang mendengarnya," Bu Latif melihat Zahra yang memang nampak baik-baik saja. Zahra sendiri cukup bisa menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan. Baginya kini melihat keluarganya sudah cukup menghibur lara hatinya.


"Apakah Dira tumbuh dengan baik Bu,?"


"Iya, Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Dira nggak rewel, dia pintar dan ya...tumbuh dengan baik,"


"Syukurlah," Zahra lega.


Zahra melihat Dira sedang asyik bermain dengan mainannya, tak jauh dari mereka.


"Bagaimana? apakah Ibu aka segera kembali menimang cucu,?" bisik Bu Latif. Mendengar pertanyaan tersebut, Zahra terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

__ADS_1


"Doakan saja Buk,"


"Pasti nak, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik. Ayahmu yang terlihat tidak sabar," bisiknya sambil tertawa kecil.


__ADS_2