
Meskipun pernikahannya sebentar lagi akan digelar, namun Kawa masih harus kerja. Dia akan menyelesaikan sebelum mengambil libur beberapa hari nantinya.
"Sudah Tuan, pekerjaan hari ini biar saya bawa pulang, sebaiknya Tuan isirahat" pesan Pak Liun pada Kawa yang masih sangat sibuk di depan komputer di ruang kerjanya. Kawa melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah hampir pukul 5 sore.
"Pak Liun tolong bereskan berkas yang belum sempat saya lihat, nanti dikirim ke rumah, saya pulang sendiri saja"
"Apa tidak apa-apa Tuan? apa diantar sopir saja?" tawar Pak Liun.
"Tidak perlu, saya bisa"
"Baik Tuan" Pak Liun membungkukkan badannya lalu bergegas keluar ruangan Kawa"
Kawa memijit pelipisnya, kerja seharian hari sungguh membuatnya lelah. Kawa segera mematikan komputernya. Mengambil jasnya lalu meninggalkan ruangan.
"Nadia" sapa Kawa.
"Iya Pak Kawa?" Nadia berdiri saat melihat bosnya keluar ruangan dan menyapanya.
"Belum pulang?" tanya Kawa heran melihat Nadia belum pulang.
"Belum pak, sebentar lagi", jawabnya.
"Ok, jangan terlalu diforsir tenaganya, sebaiknya lekas pulang"
"Iya Pak Kawa" jawabnya sambil tersenyum.
"Saya pulang dulu"
"Iya Pak"
Kawa telah tiba di basement dan mencari mobilnya berada, baru saja dia mau membuka pintu mobilnya. Seseorang nampak berada di dekatnya.
"Akhirnya, hampir 2 jam aku nungguin kamu" ujarnya dengan suara lembut. Kawa menoleh. Seorang dengan pakaian seksi yang mungkin saja akan membuat laki-laki lain terbelalak melihatnya, namun tidak dengan Kawa.
"Ada apa lagi?" tanyanya dengan dingin, dia membuka pintu mobilnya dan meletakkan ponselnya di sana.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan" ujar Nadin sambil tersenyum manis.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan" Kawa kembali berkata dengan nada dingin.
"Kawaa" panggil Nadin saat melihat Kawa sama sekali tak ingin berbicara dengannya. "Dengerin aku dulu".
Kawa mendengus, lalu melihat wanita yang ada di depannya itu.
"Kamu yakin menikah dengan dia?" ujar Nadin enteng. "Aku nggak yakin kamu suka sama dia"
"Jika yang ingin kamu bicarakan tentang hal ini, sebaiknya kamu pergi dari sini" usirnya. Nadin tertawa tak percaya jika Kawa bisa berbuat seperti ini. Meskipun sejak perselingkuhannya dulu juga Kawa sangat marah padanya. Nadin masih sangat percaya diri jika Kawa akan berbaik hati padanya.
"Asal kamu tahu, aku nggak akan membiarkan kamu bersenang-senang di atas penderitaanku" Nadin geram. Seolah mendapat ancaman dari Nadin, Kawa sama sekali tak gentar. Dia hanya tersenyum sinis.
"Atas dasar apa kamu mengultimatumku?" Kawa bersedekap melihat Nadin. Wanita itu menatap Kawa dengan pandangan yang tidak bisa Kawa artikan.
"Karena berita itu, aku berkali-kali gagal menikah" ujar Nadin lalu membuang pandangan. Berkali-kali dia menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi berkali-kali gagal karena tahu tentang berita Nadin masa lalu. Membuat batinnya mendendam pada Kawa yang sebenarnya tidak punya andil apapun dengan dosa yang dilakukan Nadin. "Atau kita menikah saja" gumamnya penuh harap.
Kawa bergegas meninggalkan Nadin yang mungkin saja sudah tidak waras dengan semua ini. Nadin nampak melihat Kawa dengan rasa sesak di hati.
Sesampainya di rumah, rumah sudah ramai dengan kehadiran Oma Rima yang nampak senang menyambutnya datang.
"Oma...sudah dari tadi?" tanya Kawa.
"Iya, menunggu calon manten datang" senyumnya merekah melihat Kawa datang. "Kamu harusnya sudah nggak udah kerja, di rumah istirahat, jangan capek-capek" pesannya. Kawa menuntun Omanya untuk duduk di sofa. Di sana sudah ada Ganis dan juga Biru. Nampak Ganis berbincang dengan salah satu asisten rumah tangganya. Sedangkan Biru nampak memejamkan mata sambil menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, seolah tidak merasa Kawa berada di sana. Kawa duduk di dekat Biru dan mengucek rambut adiknya itu.
"Hiih...ganggu aja" Biru cemberut sambil menyingkirkan tangan abangnua itu dari kepalanya. Kawa tertawa.
"Masih dendam nih ceritanya?" Kawa tertawa melihat adiknya kesal.
"Bodok ah" Biru melengos.
"Kenapa sih? ada apa? apa Oma ketinggalan cerita?" tanya Oma Rima penasaran.
Mereka sebenarnya berkumpul karena malam ini akan berangkat ke hotel untuk melakukan siraman, jika Zahra sudah dilakukan hari ini. Maka Kawa baru akan melakukannya besok.
__ADS_1
Ganis meninggalkan mereka bertiga dan kembali berbincang dengan artnya di dapur.
"Tuh Oma, abang tuh" Biru menunjuk Kawa dengan jarinya telunjuknya ke belakang badannya, tanpa mleihat Kawa. Kawa masih saja terkekeh.
"Dih...padahal itu bodyguarnya cakep loh Oma"
"Kenapa toh?" Oma Rima masih nggak paham, dia melihat ke arah Biru lalu beralih ke Kawa. Kedua cucunya itu masih seperti bocah jika salah satu ada yang marah begini.
"Masa iya aku dikasih bodyguard cakep, kan aku jadi sering bertengkar sama cowok aku Oma" protes Biru.
"Jadi cucu cantik Oma ini masih pacaran sama laki-laki ledeng itu itu"
"Omaaa....namanya Mario, cowok beken sekampus, kok dipanggil ledeng sih?" protes kembali terdengar, Kawa semakin tergelak. Omanya bisa saja memberikan nama Mario sebagai tukang ledeng. "Gara-gara abang tuh, akhirnya Mario sering banget cemburu sama aku"
"Kenapa harus cemburu?" Oma Rima masih saja penasaran.
"Ya kan dia cakep Oma...Mario jadinya cemburu" Biru nampak kesal, dia menggaruk rambutnya hingga terlihat berantakan.
"Ya sudah kamu sama bodyguard kamu aja" usul Oma Rima, Kawa yang daritadi tak berhenti tertawa pun semakin tergelak, diimbuhi dengan tepuk tangan darinya.
"Hiiiissssh" Biru melempar bantal sofa ke arah Kawa, dan mengenai perut Kawa. Oma Rima pun ikut tertawa.
"Nanti Oma aku kenalin deh sama Mario" ujar Biru sambil menaik turunkan alisnya. "Cakep" Biru mengangkat kedua jempol tangannya.
"Makan tuh cakep, bucin banget Oma" Kawa menginterupsi.
"Jangan dengerin Oma"
"Iya...iya, nanti harus dikenalin ke Oma, biar Oma bisa melihat apakah dia cocok untuk cucu Oma atau enggak" Oma Rima menengahi.
"Siiiip" ucap Biru bahagia sambil mengangkat jempol tangan kanannya. Lalu meleletkan lidah pada Kawa.
Kawa baru saja mengusap rambutnya yang masih basah, dia baru saja sempat mandi. Malam ini juga dia akan berangkat ke hotel bersama keluarganya untuk acara besok. Kawa duduk di tepi ranjang dan mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari Pak Liun yang mengatakan jika kana menghandle pekerjaan Kawa, Dia meminta Kawa untuk tidak memikirkan pekerjaan kantor terlebih dahulu.
Setelah membalas pesan Pak Liun, Kawa melihat beberapa pesan masuk. Salah satunya pesan dari Zahra, di mana dia mengabarkan jika acara di rumah hari ini berjalan dengan lancar. Kawa tersenyum senang.
__ADS_1
Dan satu pesan lagi,
Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia selagi aku masih menderita...