
Pemandangan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, pemandangan yang sangat menakutkan. Seperti mimpi buruk yang sedang menghantamnya.
Airin tergeletak dengan mulut berbusa, badannya sudah membiru dan kaku. Zahra menangis histeris sejadi-jadinya, begitu juga dengan Ibunya yang sambil menggendong Dira kecil.
Airin dinyatakan meninggal, hancur sudah hati Zahra. Tadi malam adalah percakapan terakhirnya dengan kakak perempuannya tersebut. Zahra menatap nanar nisan Airin, tanahnya masih basah dengan taburan bunga. Sementara itu Pak Latif nampak terlihat marah, sedih, kecewa, berkecamuk jadi satu. Bu Latif berada di rumah karena beberapa kali pingsan, sehingga tidak ikut pergi ke makam.
"Kakak...maafkan Zahra" ucap Zahra sambil terisak, seolah kejadian ini adalah salahnya. Setelah itu, tak ada lagi yang bisa dia katakan.
Selepas kepergian Airin, Pak Latif semakin membatasi Zahra, tak ada lagi kebebasan untuk putri yang tinggal satu-satunya. Pergaulan Airin yang sebelumnya jauh lebih bebas, kini dia harus lebih waspada pada Zahra. Jangan ada lagi laki-laki br*ngsek yang mendekati anaknya, jangan ada lagi laki-laki kaya raya yang dengan seenaknya menyatakan cinta pada anaknya, lalu menanam benih dan meninggalkan anaknya begitu saja.
Kemarahan semakin menjadi saat laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab pada Airin dan memilih meninggalkan Airin. Hingga akhirnya Zahra harus menerima semua ini, perjodohan dengan Altaf, bahkan setelah Altaf dinyatakan meninggal pun dia tidak terima dan masih menganggap Zahra itu punya suami, hal itu dilakukan agar Zahra punya batasan.
Lamunan Zahra terputus, suara Dira dari luar sana membuyarkan ingatan masa lalunya. Gadis kecil itu menganggapnya bahwa dia adalah Ibu kandungnya. Zahra tersenyum kelu.
"Izinkan aku menjemput masa depanku" ucapnya lirih.
Dalam hati yang paling dalam, dia ingin menjadi gadis seumurannya, yang bisa merasakan bagaimana jatuh cinta, bagaimana dia melabuhkan hati pada pilihannya. Bukan tidak mau berbakti pada orang tuanya, nyatanya dia sudah ikhlas menerima perjodohan dan menikah dengan Altaf walau takdir berkata lain.
Zahra yang kemudian menjadi pemurung hanya bisa menerima apa yang ayahnya katakan, bahkan hingga kini ayahnya masih belum "melepaskan" Zahra untuk sekedar mencintai orang lain.
***
Mayra nampak ceria, dia begitu antusias menceritakan pengalamannya memotret di gunung.
"Itu sudah lama banget, ya...karena kaki udah nggak kuat naik sekarang, jadi ya begitulah" ucapnya pada Kawa. Sudah beberapa lama mereka tidak bertemu.
"Eh kenapa aku yang banyak omong ya, selama ini kamu belum pernah menceritakan sekalipun tentang kehidupan kamu, rumah, orang tua" Mayra nampak seolah protes. Kawa hanya tersenyum simpul.
"Memang perlu?" Kawa bertanya, dia melihat gadis yang ada di depannya tersebut, nampak santai dengan kaos warna putihnya, gadis di depannya memang cuek.
"Bukan begitu, dari awal kenal sampai sekarang nggak dengar cerita apa-apa dari kamu gitu. Dan tahu nggak...aku masih penasaran dengan wajah kamu itu, karena sumpah deh, wajah kamu itu nggak asing loh" Mayra seolah kembali mengungkit pertemuan pertamanya dengan Kawa.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, wajahku pasaran" Kawa mengibaskan tangannya. Mereka berdua sedang berada di kafe untuk menikmati kopi.
"Bukan...bukan itu maksudku, tapi bener deh...mirip...duh...siapa sih..." Mayra berupaya berpikir keras.
"Sudah lupakan, aku nggak mirip siapa-siapa" Kawa mengelak. Tangannya mengambil gelas berisi kopi dan menyesapnya.
"Ah...itu lho pemilik Arjuna Group...ya...itu" Mayra mengangkat telunjuk tangan kanannya, merasa puas dengan daya ingatnya. "Miriiiiip"
"Ah terlalu jauh kamu, enggak...."
"Eh iya ya...mirip doang kali ya, secara setahuku pemilik grup itu yang muncul cuma anaknya yang cewek itu" sahut Mayra akhirnya.
"Nah makanya" Kawa lega, Mayra menyerah.
"Lalu keluargamu gimana?"
"Apanya?"
Dikira sudah menyerah, namun masih saja berlanjut rasa keingintahuan Mayra tentang dia. "Ada...Bunda sama Ayahku dan adik perempuanku, ada di rumah"
"Oh...jadi punya adik cewek?"
Kawa mengangguk, dia berharap Mayra tidak bertanya lagi tentang keluarganya. Kebersamaan mereka semakin akrab, Kawa merasa memiliki sahabat yang senantiasa memberinya keceriaan dan sudi mengajaknya mengenal lebih tentang kota kecil ini. Sementara Mayra seolah mendapat teman yang cocok untuk dijadikan teman ngobrol yang menyenangkan meskipun Kawa bukanlah tipe cowok yang banyak omong, dia cenderung pendiam.
"Nanti ulang tahunku datang ya" ungkap Mayra selanjutnya.
"Oh, kapan?"
"Minggu depan" Mayra tertawa sumringah.
"Iya, diusahakan, kalau memang tidak ada jadwal kerja"
__ADS_1
"Nanti aku minta Papa liburkan kamu aja, biar kamu bisa datang, sekalian teman kamu itu lho..siapa namanya?" Mayra berusaha mengingat.
"Rendra?" Kawa membantu.
"Ya...itu Rendra, ehm...sama sekalian itu Zahra" nama Zahra tersebut dalam nama orang yang akan dia undang.
"Oh, siap nanti aku sampaikan Rendra"
Ulang tahun yang dia nantikan, ulang tahun yang baru pertama kali ini ingin Mayra rayakan dengan spesial, karena ada Kawa.
"Kamu sudah ada cewek?" tanya Mayra nyeplos begitu saja, bagi cewek cuek macam dia, bertanya hal demikian bukanlah hal yang memalukan. Kawa menatap gadis itu sambil tersenyum kecil.
"Malah cuma dikasih senyum aja, punya?" Mayra memastikan. Jemarinya mengetuk ngetuk meja.
"Hampir tunangan tapi nggak jadi"
"Oh...maaf....jadi membuka luka lama ya...maaf" Mayra merasa bersalah, Kawa terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu dimaafkan, diapun sudah berdamai dengan keadaan.
Dalam hati Mayra begitu bahagia, karena Kawa bukanlah milik siapapun. Sejak pertama melihat Kawa, ada yang aneh di hatinya, cowok itu seolah mengusik hatinya. Bisa dibilang ini adalah cinta pada pandangan pertama. Meskipun papanya alias pak Broto selalu mengusiknya agar tidak berpacaran dengan orang yang tidak selevel dengan keluarganya. Bagi Mayra, itu bukan peringatan yang harus dia dengarkan.
"Kenapa senyum-senyum?" Kawa melihat Mayra tengah melihatnya sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya, dia nampak tersenyum melihat Kawa.
"Enggak....setidaknya aku punya kesempatan" Mayra begitu gamblang, kata-kata mengalir begitu saja dari bibirnya. Tak ada ragu, tak ada rasa sungkan.
Kawa hanya terdiam, tidak menanggapi apa yang Mayra ucapkan. Baginya Mayra adalah sosok yang sudah dia anggap sebagai adiknya, melihat Mayra seolah dia sedang melihat Biru.
Pandangan Kawa beralih ke sebuah meja, di sana dia melihat Zahra sedang duduk bersama dengan Tania. Mata mereka beradu pandang. Kawa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, Zahra nampak kikuk melihat Kawa. Pandangan Zahra beralih melihat Mayra yang tengah duduk satu meja dengan Kawa. Zahra menyunggingkan senyum tipisnya, lalu kembali sibuk dengan minumannya dan berbicara dengan Tania.
Sudah agak lama Kawa dan Zahra tidak berjumpa, beberapa kali Kawa mengirimkan pesan namun tak ada jawaban dari Zahra. Entah apa yang dipikirkan oleh Zahra, apakah Kawa sudah tertepikan sebelum dia berjuang lebih?
Terlihat Zahra sedang berbicara dengan Tania, sesekali terlihat senyum mengembang dari bibirnya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya membuat dirimu sulit didekati?" ucap Kawa dalam hati.