Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 30 : Dua Gadis


__ADS_3

Mayra tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit, wajahnya terlihat pucat. Selang infus menancap di salah satu punggung tangannya. Dengan berat hati Pak Broto mengizinkan Kawa menjenguk Mayra.


"Aku keluar dulu ya..." ucap Pak Broto pada Mayra, disambut anggukan lembut oleh Mayra. Kawa tersenyum dan mengangguk memberikan hormat pada bosnya itu. Namun tak ada respon dari Pak Broto, seolah Kawa tak terlihat di matanya.


Terdengar pintu ditutup dengan perlahan, Kawa meletakkan sekeranjang buah-buahan di atas meja samping ranjang Mayra.


"Hai..." sapa Kawa, tangannya menarik kursi yang tak jauh dari meja tersebut, lalu dia duduk di sana, di samping ranjang Mayra.


"Hai" sapa Mayra lembut, senyum mengembang dati bibirnya yang pucat.


"Maaf baru sempat kesini" Kawa merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, nggak usah merasa bersalah ah" Mayra kembali tersenyum, gadis itu memang selalu ceria.


"Kamu sakit apa?"


"Ah biasa, kecapekan" jawab Mayra. "Oh ya, kamu sendirian aja?" Mayra balik bertanya, dia tidak ingin Kawa bertanya lebih lanjut tentang sakitnya. Kawa mengangguk.


"Kirain sama Zahra"


"Zahra?"


"Iya...gadis baik itu, oh ya...apakah dia baik-baik saja?" tanya Mayra, dia teringat bagaimana Zahra tercebur ke dalam danau. Kawa terdiam sesaat, bahkan dia sendiri belum melihat keadaan Zahra secara langsung. Dia hanya sempat menghubungi lewat pesan. Kawa mengangguk.


"Syukurlah..." Mayra merasa lega. "Oh ya...maafkan Papa ya..."


"Kenapa?"


"Nggak usah pura-pura nggak tahu, aku tahu kalau Papa marah sama kamu"


"Oh...jangan dipikir, santai aja" Kawa menenangkan, meskipun ini adalah pertama kalinya dia dimarahi oleh karyawan perusahaan Papanya sendiri. Kawa tersenyum kecil.


"Kenapa malah tersenyum? ada yang lucu?"


"Enggak"


"Papaku memang agak nyentrik sih, dan galak, narsis, ah taulah...."


"Iya, nggak apa-apa, kamu jangan banyak pikiran, kamu sehat-sehat ya" pesan Kawa pada Mayra, dia menepuk tangan gadis itu dengan lembut.


"Terima kasih, terima kasih sudah datang dan memberikan semangat, salam buat Zahra"

__ADS_1


    Kawa menepati janjinya, dia tidak berlama-lama di dalam kamar perawatan Mayra, karena Mayra harus banyak istirahat. Kawa menutup pintu sesaat setelah dia keluar dari kamar perawatan, dilihatnya Pak Broto sedang duduk di bangku depan kamar. Nampak raut wajah Pak Broto memandang ke depan, seolah enggan melihat ke arah Kawa. Kawa duduk di samping Pak Broto.


"Saya minta maaf Bos, jika memang ini adalah kesalahan saya" Kawa membuka percakapan, Pak Broto masih enggan melihat wajah Kawa. Hatinya terasa dongkol, dan dia masih sangat marah pada laki-laki yang ada disampingnya itu. Laki-laki yang dianggapnya sudah menggoda putrinya itu.


"Kamu sudah menyakiti hatinya, harusnya kamu tidak hadir dalam hidupnya" Pak Broto berbicara tanpa melihat lawan bicaranya.


"Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?"


Pak Broto melihat ke arah Kawa, laki-laki muda itu apakah sedang menantangnya?.


"Apa maksudmu?" suara Pak Broto meninggi. "Kamu hanya pegawai biasa, kamu tidak setara dengan keluargaku, dan kamu bukan laki-laki yang tepat untuk anak saya, paham?" Pak Broto kembali menegaskan.


"Iya, paham Bos" Kawa mengangguk.


"Tolong jauhi anak saya" pinta Pak Broto.


"Bos...maaf...saya dan Mayra hanya berteman, apakah elok jika saya tiba-tiba menjauhi dia? apakah memang berteman saja menjadi masalah?"


"Iya, aku bilang iya. Dan menjauhlah, kalau perlu kamu keluar dari pekerjaan kamu" ucapnya sewot. "Nyawa anakku lebih penting dari apapun, termasuk pertemanan kalian!"


"Papaa..." ucap suara lirih di balik pintu yang terbuka sedikit. Pak Broto dan Kawa kompak menengok ke arah sumber suara, dilihatnya Mayra sedang berdiri di balik pintu sambil memegang tiang infus. Dia cukup terganggu dengan apa yang Papanya ucapkan pada Kawa, dia sudah mendengarkannya sejak tadi.


Mayra kembali berbaring di atas ranjangnya. Nampak menahan amarahnya.


"Sudah kamu keluar saja" Pak Broto meminta Kawa keluar, Kawa mengangguk lalu pamit undur diri.


        Kawa keluar dari kamar perawatan Mayra, tanpa sengaja dia berpapasan dengan seseorang yang dia kenal, dari cara jalannya, ya tidak salah, dia adalah Zahra.


"Zahra?" Kawa menyapa gadis itu, nampak Zahra tak melihat Kawa sebelumnya.


"Kawa..." Zahra ikut menghentikan langkahnya, tangan kanannya membawa sebuah bingkisan. "Sudah dari tadi di sini?"


"Tidak lama" balas Kawa, "Mau jenguk Mayra?"


Zahra mengangguk.


"Kamu sudah sehat? kamu baik-baik saja?" tiba-tiba Kawa memberondong pertanyaan untuk Zahra, dia cukup khawatir dengan gadis itu usai insiden itu. Zahra tersenyum.


"Iya aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat" Zahra tersenyum manis, Kawa mengangguk dan ikut tersenyum. Merasa sangat lega melihat Zahra memang nampak sehat.


"Senang melihatnya"

__ADS_1


"Oh ya...aku ke Mayra dulu ya...mau ikut lagi?" Zahra menawarkan.


"Cukup"


"Oh baik, aku kesana dulu ya?" pamit Zahra disambut anggukan dari Kawa.


        Zahra mengetuk pintu dengan lembut, jangan sampai kedatangannya mengganggu Mayra. Tak berapa lama terdengar langkah kaki dari dalam mendekat ke arah pintu, lalu membukanya.


Nampak Pak Broto yang membuka pintu. Zahra tersenyum ramah dan mengangguk setelah mengucap salam.


"Temannya Mayra?" tanya Pak Broto.


"Iya" balas Zahra dengan sopan.


"Silahkan" Pak Broto mempersilahkan.


Mayra melihat siapa yang datang, wajah yang tadi bete kembali ceria meskipun dibalut pucat. Mayra mencoba duduk.


"Eh jangan, kamu tiduran saja" Zahra segera meminta Mayra tak usah duduk menyambut kedatangannya. Mayra kembali berbaring, bibirnya menyunggingkan senyum. Zahra menatap Mayra lekat, gadis yang ternyata mencintai Kawa itu sedang tergolek sakit, dan dia tak tahu sakit apa.


"Semoga lekas membaik, aku seih mendengar kamu sakit, maaf baru sempat kesini" Zahra mengusap tangan Mayra. Betapa lembutnya Zahra, Mayra tersenyum pada gadis yang ada di dekatnya itu. Apakah itu yang membuat Kawa jatuh cinta pada Zahra.


Malam itu, saat dia mengutarakan cintanya pada Kawa, Mayra sadar jika Zahra ada di dekat mereka, dia yakin Zahra mendengarkan apa yang dia ucapkan. Dia yakin bahwa Zahra tahu kalau dia suka dengan Kawa. Apakah Zahra juga sebenarnya menyukai Kawa.


"Beruntung sekali orang yang nantinya akan memilikimu" ucap Mayra tiba-tiba. Zahra melihat Mayra seksama, lalu menyunggingkan senyum.


"Begitu juga dengan kamu Mayra"


"Ah bukan...aku bukanlah siapa-siapa" Mayra merasa minder.


"Kamu sudah sehat?" Mayra baru sempat menanyakan keadaan Zahra.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, kesalahanku satu kemarin itu"


"Apa?" Mayra penasaran.


"Tidak bisa berenang" Zahra tertawa kecil, Mayra mengangguk sambil tertawa.


"Iya, benar juga"


Terdengar canda tawa di kamar itu, anatara Mayra dan Zahra. Di satu sisi Mayra merasa ada yang aneh, tapi dia harus legowo meskipun hatinya ingin menangis. Sementara yang dirasakan Zahra adalah dia juga harus legowo jika Mayra, si gadis tomboy cantik nan ceria ini berada di samping Kawa.

__ADS_1


__ADS_2