
Wajah Airin berkelebat. Bayangan anak pertamanya itu benar-benar memenuhi pikirannya. Setelah dia tahu jika calon menantunya bukanlah orang biasa, melainkan orang yang sangat berpengaruh di negeri ini. Kejadian Airin tak mampu dia singkirkan begitu saja, luka itu benar-benar membekas. Dan hingga kini masih membuatnya marah.
Sementara istrinya yang mengetahui gundah di hatinya itu duduk di sebelah suaminya, "Pak...luka yang Bapak rasakan sama seperti yang kurasakan, Ibu mana yang tak terluka jika kehilangan buah hatinya dengan cara seperti itu, dan kini meninggalkan Dira" Bu Latif membuka percakapan. Sementara suaminya masih menatap nanar ke depan. Kopi yang disuguhkan istrinya sejak tadi itu menguap dingin begitu saja karena tak disentuh.
Berita yang beredar cukup membuatnya resah, bagaimana dia baru mengetahui jika Kawa adalah orang kaya.
"Jika ada niatan buruk dari Kawa, maka dia tak akan membawa niat baik kesini Pak..."
Ada benarnya apa yang diucapkan istrinya, hanya saja dia belum bisa bernegosiasi dengan hatinya. Luka tentang orang kaya yang membuat Airin meninggal itu meninggalkan trauma yang begitu dalam. Mata Pak Latif menatap sebuah foto keluarga yang menempel di dinding. Malam ini, terasa panjang setelah kabar siang tadi. Di mana Zahra menyampaikan kepada ayahnya jika Kawa bukanlah orang yang sederhana yang seperti mereka kira.
Zahra yang setelah dari rumah Kawa pun bergegas mencari tahu tentang keluarga Saga, dan berbagai artikel yang akurat pun membahas bagaimana berpengaruhnya keluarga mereka di negeri ini. Zahra menghela nafas panjang. Apakah dia akan mampu masuk ke dalam kalangan keluarga papan atas seperti keluarga Kawa?.
"Aku masih terbayang bagaimana Airin meregang nyawa gara-gara dipermainkan orang kaya" ujarnya akhirnya, akhirnya kalimat itu meluncur. Sebuah tekanan yang dia rasakan bertahun-tahun. "Sebagai seorang ayah, ini amat menyakitkan, anakku dihina, ditinggalkan, dan akhirnya..." Pak Latif tidak melanjutkan kalimatnya.
Wanita itu memegang bahu suaminya dan mengelusnya perlahan, membiarkan suaminya itu mengeluarkan beban di hatinya.
"Kini Dira tak pernah melihat Ibunya" titik air mata mulai terlihat di sana.
"Dira masih punya kita" Bu Latif kembali mengelus bahu suaminya yang kini mulai berguncang.
"Bagaimana jika Zahra akan mengalami hal yang sama nantinya?"
"Pak....bukankah kita sebagai manusia harus selalu belajar? Ibu juga masih terluka, Ibu selalu merindukan Airin. Tapi Ibu juga harus memikirkan Zahra, tinggal dia satu-satunya anak kita, dan kini saatnya dia menjemput bahagianya. Kawa orang yang baik, bukan berarti pilihan Bapak tentang perjodohan kemarin tidak baik, hanya saja kita sebagai manusia harus belajar dari masa lalu" ujar Bu Latif panjang lebar.
"Bagaimana jika Zahra akan disakiti, dihianati, karena orang-orang kaya itu semena-mena mempermainkan orang seperti kita" mata pak Latif menatap istrinya tajam, hanya saja mimik wajahnya menunjukkan kerapuhan. "Mungkin kita perlu mengkaji ulang"
"Pak..." sahut Bu Latif, bagaimana dengan Zahra jika ayahnya benar-benar akan melakukan hal ini.
__ADS_1
***
Kawa sedang sibuk di ruangannya, memeriksa tumpukan berkas yang mengantri sejak pagi untuk ditanda tangani. Pak Liun tengah berada di ruangan Kawa.
"Pak Liun, apa jadwal saya selanjutnya?" Kawa bertanya pada laki-laki itu tanpa melihat ke arah Pak Liun, dia masih sibuk memeriksa berkas sebelum ditanda tangani.
"Ada pertemuan dengan para kepala toko siang ini di aula kantor hari ini Tuan" jawab Pak Liun sambil membaca buku agendanya.
"Harus saya?" Kawa melihat ke arah Pak Liun. Pak Liun mengangguk./
"Menurut Tuan Saga, hal ini dilakukan agar membentuk relasi yang bagus dengan bisnis yang dibentuk oleh Arjuna Group"
Papanya itu memang tidak memandang para relasi besar saja, bahkan bisnis yang tak seharusnya ditangani olehnya pun mendapat perhatian yang besar. Hal ini menjadi pelajaran baru buat Kawa, terlebih setelah dia turun ke bawah saat menjadi salah satu karyawan di toko. Di sana dia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari atasannya.
Kawa mengangguk, "Iya Pak Liun, nanti tolong ingatkan saya"
"Siap Tuan" ujar Pak Liun. Kemudian dia pamit keluar, Kawa melanjutkan pekerjaannya.
"Masuk" ujar Kawa masih menatap tumpukan map.
"Selamat siang Pak" Nadia berdiri di depan Kawa.
"Iya, ada apa Nad?" Kawa masih melihat tumpukan kertas yang ada di depannya, benar-benar disibukkan dengan berkas tersebut.
"Ada titipan untuk Bapak"
"Dari?" Kawa belum melihat ke arah Nadia.
__ADS_1
"Kurang tahu Pak, hanya saja atas nama Bapak" Nadia meletakkan kotak berwarna bitu muda di meja yang masih kosong tak terjamah tumpukan map. Kawa melihat ke kotak tersebut.
"Ok, tapi tolong letakkan di meja sana" Kawa menunjuk sebuah meja yang kosong dari tumpukan map.
"Oh iya Pak" bergegas Nadia mengambil alih kotak tersebut dan memindahkannya di meja kosong. "Saya permisi dulu Pak"
"Iya" jawab Kawa singkat. Setelahnya, Nadia meninggalkan Kawa. Kawa meregangkan kedua tangannya membuang rasa pegal yang dia rasakan, hampir satu jam dia berkutat dengan kertas itu. Pandangannya menuju pada sebuah kotak berwarna biru muda, Kawa berdiri dan mendekat ke arah meja tersebut, sejenak meninggalkan pekerjaannya.
Dibukanya kotak biru muda yang tak ada nama pengirimnya itu, hanya ada tulisan To Kawa di atas kotak tersebut. Kawa perlahan membuka kotak tersebut, sebuah kue tiramisu. Kue kesukaannya, kue itu benar-benar menggugah seleranya. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada seseorang.
"Aku akan membuatkan kue ini untukmu setiap harinya" gumam gadis itu sambil menyuapi tiramisu untuk Kawa.
"Oh ya? nggak yakin" serunya sambil mengunyah.
"Iya, karena kamu suka, jadi aku akan membuatkan setiap hari untukmu" senyumnya nampak manis, dan masih setia menyuapi Kawa.
Kawa melihat sebuah kertas di dalam box di sela tiramisu, membuyarkan lamumannya. Tangan Kawa mneraik kertas tersebut dan membukanya.
Masih suka dengan kue ini? semoga kamu masih menyukainya.
Pesan tersebut mengisyaratkan jika yang mengirimkannya sangat hafal dengan kebiasaan Kawa. Bergegas Kawa mengembalikan pesan tertulis tersebut di dalam box, dia kembali menutup kotak tersebut. Bergegas dia keluar.
"Siapa yang mengirim ini kemari?" tanya Kawa.
Mendapat berondongan pertanyaan itu, Nadia melihat ke arah bosnya. "Satpam Pak" jawabnya, "Dan katanya satpam tadi, itu kurir, mungkin bisa terlacak dari toko kuenya, apakah saya perlu melacaknya Pak?" tanya Nadia. Kawa mengangkat tangannya, pertanda Nadia tak perlu melakukannya.
"Baik Pak"
__ADS_1
Kawa kembali masuk ke dalam ruangannya, kembali berkutat dengan pekerjaannya yang belum selesai. Karena setelah ini dia yakin Pak Liun akan mengingatkannya dengan pertemuan siang ini.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, sebuah nomer yang tak bertuan di ponselnya tersebut. Kawa membaca pesan tersebut, meskipun tanpa menyebutkan nama.