
Hiruk pikuk sudah terlihat di rumah Zahra sejak kemarin, berbagai persiapan sudah mulai terlihat. Hiasan bunga mawar, lily, dan juga sedap malam menghiasi rumah Zahra. Terlebih di area yang akan digunakan untuk acara siraman dan juga pengajian.
Nampak banyak Ibu-ibu yang sibuk di dapur, mereka terlihat guyup rukun dalam membantu keluarga Zahra menyiapkan acara ini.
"Duh...nggak nyangka kalau ternyata mbak Zahra dapatnya bos besar, ikut senang mendengarnya" ucap Ibu-Ibu dengan hijab warna coklat tua itu sambil menata piring.
"Iya, duh nggak kebayang ya...berasa dapat durian runtuh, kalau aku mah seneng banget, berasa ikut merasakan bahagianya" sahutnya.
"Iya" balas ibu-ibu berhijab coklat yang tadi.
"Jadi ternyata dia pernah menyamar jadi pelayan toko gitu?" tanya Ibu muda yang sedari tadi sibuk menata buah di atas piring.
"Iya, di toko dekat perempatan itu" sahut lainnya lagi.
"Duh seperti sinetron saja ya ceritanya, menyamar dan nggak tahunya dapat jodoh" mereka terkekeh.
"Memang jodoh nggak ada yang tahu, dan mbak Zahra beruntung, semoga bahagia"
"Aminnnn" ucapp mereka serentak.
Zahra berada di dalam kamar sedang mempersiapkan diri, Tania sahabat dekatnya membantu Zahra merias wajahnya. Dia sengaja tidak menyewa MUA, Karena Tania sudah cukup mahir melakukannya.
"Duuuh...cantiknya kebangetan dah calon manten ini" Tania memuji, dia memegang pundak Zahra dengan kedua tangannya sambil melihat pantulan wakah Zahra dari cermin. Hanna dengan balutan busana atasan yang kemudian dilapisi bunga melati itu nampak cantik. Riasan tipis membuatnya nampak manglingi.
"Nggak nyangka sih, kamu berada di titik ini. I'm happy for you Zahra" Tania nampak terharu melihat sahabatnya itu akhirnya akan menikah dengan Kawa. Masa-masa suramnya segera berlalu, dan dia juga sangat bersyukur pada akhirnya ayah Zahra luluh juga dan melepaskan Zahra dari belenggu masa lalu.
"Kamu sih nggak datang waktu lamaran kemarin"
"Iya maaf, kan tahu sendiri kuliahku belum beres" Tania sedang menempuh jenjang s2 dan menuju akhir studynya.
"Iya iya...aku yang minta maaf" tangan Zahra mengelus tangan sahabatnya yang masih ada di pundaknya itu.
"Aku ketinggalan banyak cerita nampaknya" Tania menyeret sebuah kursi dan mendekatkan ke Zahra, lalu dia duduk di sana.
"Apa?" Zahra melihat ke arah Tania, dia memang sangat cantik dengan balutan hijab berwarna hitam dan dihiasi bandu dari rangkaian bunga melati.
__ADS_1
"Gimana ceritanya itu kok bisa luluh juga?" Tania memelankan suaranya.
Zahra tersenyum, "Ya perjuangan dia lah, sama doa kamu tentunya" ulas Zahra dengan senyum kecil.
"Ish...bisa aja, ah yang penting jadi nikah ya..dan bahagia" sambungnya.
"Amiiiin" ujar mereka berdua hampir bersamaan.
Tok..tok...tok...
Terdengar suara pintu diketuk, meskipun pintu itu tidak tertutup rapat. Zahra dan Tania menengok ke arah pintu bersamaan, dan nampak seorang gadis tersenyum di sana.
"Ini ada temanmu datang" ucap Bu Latif yang mendampingi gadis itu.
Nampak Mayra dengan senyum sumringah mengangkat tangan kanannya memberikan say hello, Zahra pun bangkit dari duduknya, begitu juga Tania.
"Oh duduk saja" Mayra meminta Zahra tetap berada di tempat. "Terima kasih tante" ucap Mayra kepada Bu Latif karena sudah diantar ke kamar Zahra.
"Iya sama-sama"
Mayra melangkah mendekati Zahra.
"Duuuh...cantik banget, selamat ya Zahra" Mayra memeluk Zahra erat, mengelus pundaknya. Begitu juga Zahra.
"Selemat selamat....bersamaan dengan rangkaian ini, berarti hari H semakin dekat, semoga dilancarkan" imbuh Mayra tulus.
Zahra dan Mayra saling bertatap. "Terima kasih Mayra. Ayo duduk" ajak Zahra, Tania membantu dengan menarik sebuah kursi untuk Mayra.
"Eh sampe lupa, kamu kabar kamu Tan?" tanya Mayra pada Tania.
"Baik say...kamu gimana? sehat kan?"
"Sehat donk...s2 lancar?"
"Insyaallah" balas Tania.
__ADS_1
"Eh nanti pas nikahnya Zahra datang ya..." Tania meminta.
"Iya donk, kalau kalian nggak datang, siapa yang akan jadi pendampingku nanti?" sahut Zahra.
"Iya, diusahakan" sahut Mayra sambil tertawa.
Zahra pura-pura ngambek. Dan mereka tertawa bersama.
Acara siraman pun dimulai, Zahra duduk di sebuah kursi dan bergantian kedua orang tuanya mengambil air, mengguyurkan air ke tubuh putrinya itu. Semua berjalan dengan lancar hingga usai. Dan kini giliran ayahnya menggendong Zahra sebagai bagian dari acara tersebut.
Setelah acara usai, Zahra berganti baju dengan gamis warna pastel. Gamis berpayet itu sungguh sangat indah, menambah keanggunan Zahra.
Zahra yang tengah duduk diapit kedua orang tuanya itu nampak khusyu' mengikuti acara pengajian. Kini giliran Zahra melantunkan ayat suci Al-Quran. Zahra tak mampu menahan air matanya, rasa haru memenuhi jiwanya. Dan air matanya pun meleleh. Suaranya agak tersendat, tak berapa lama dia menguasai perasaannya. Zahra melanjutkan membaca, suaranya terdengar sangat merdu.
Seusai pengajian, Zahra meminta doa restu kepada kedua orang tuanya. Dan kali ini dia benar-benar tidak bisa membendung kata-katanya.
Bismillahirrahmaannirrahiim, Astaghfirullahal’adzim, Asyhadualla illa ha illallah, Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah.
Ayah, Ibu yang Ananda cintai dan hormati. Ananda menghaturkan permohonan maaf jika selama hidup Ananda ini telah banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan baik kata-kata Ananda yang kurang berkenan ataupun perbuatan Ananda. Hari ini, ananda memohon doa restu untuk bersiap menapaki ibadah terpanjang.
Zahra terisak. Nampak kedua orang tua Zahra tak bisa membendung air matanya. Setelah selesai memohon doa restu, Zahra memeluk Ibunya terlebuh dahulu. Wanita itu mengelus punggung Zahra dengan deraian air mata haru bahagia, akhirnya putrinya akan menjemput bahagianya dengan lelaki pilihannya.
"Ibu merestuimu nak, Ibu merestui...semoga kalian akan bahagia hingga surgaNya" kalimat Ibunya tersengal karena menahan tangis. Zahra mengangguk, dia mendongak melihat Ibunya lalu kembali memeluknya.
Dan kini Zahra beringsut, menyalami ayahnya. Nampak laki-laki itu juga tak bisa membendung air matanya.
"Zahra minta maaf yah...dan minta doa restu"
Laki-laki itu memeluk Zahra erat, air matanya lolos begitu saja dan membasahi pipinya.
"Semoga kamu bahagia nak, maafkan ayah" gumamnya. Zahra masih memeluk ayahnya erat, dia mengangguk di balik leher ayahnya. Zahra tak mampu berkata-kata, hanya air matanya yang berbicara.
Acara berlangsung penuh haru biru, Kini mereka tengah duduk bersama. Giliran pak Ustadz yang akan memberikan tauziah dan juga doa sebagai penutup sebagai pamungkas dari acara ini. Mereka semua dengan tenang mendengarkan nasehat-nasehat yang disampaikan.
Dan akhirnya mereka khusyu' membaca doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Selanjutnya mereka makan bersama.
__ADS_1
Haaah...bagaimana? siap ikut undangan pernikahan mereka? hihi.
Jangan lupa like dan vote ya man teman....thanks you...