
"Jangan lupa datang ya..." ujar Mayra sambil melambaikan tangan pada Kawa. Kawa tersenyum sambil membalas lambaian tangan Mayra. Gadis itu nampak riang, dia mati-matian meminta izin pada Papanya untuk merayakan ulang tahun di area terbuka. Dan demi kebahagiaan Mayra, akhirnya diizinkan.
Kawa memainkan ponselnya, ingin bertanya apakah Zahra juga akan datang. Tapi urung, pikirannya kembali bergelung pada apa yang diucapkan Rendra tempo hari. Apakah ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan dan keinginannya pada Zahra.
***
Tania mengambil kue ulang tahun untuk Mayra dan bergabung dengan yang lain, Mayra nampak senang mendapat kejutan dari para sahabatnya itu.
Setelah Mayra mengucapkan doa dan juga meniup lilinnya, Tania meminta Mayra untuk memotong kuenya.
"Hayoook...untuk siapa potongan pertama?" tanya Tania pada Mayra, tangan Mayra yang memegang pisau kue memotong kuenya. Mayra mengambil potongan dan menaruhnya pada tempat kue yang terbuat dari kertas.
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian teman-teman yang sudah memenuhi undanganku, terima kasih juga sudah menjadi teman yang baik" Mayra masih memegang kuenya.
"Iya sama-sama" balas Tania.
"Selamat ulang tahun, semoga bahagia, sehat selalu ya..." imbuh Zahra.
"Terima kasih ya...sekali lagi terima kasih"
"Kamu nggak ngucapin gitu ke aku?" sergah Mayra menatap Rendra.
"Oh iya donk...semoga putri cantik dari big bos sehat selalu, bahagia selalu...dan yang terbaik buat kamu...Amiiin...." balas Rendra, diikuti senyum merekah dari Mayra. Rendra menyenggol Kawa.
"Selamat ulang tahun, bahagia selalu" ucap Kawa singkat.
"Singkat banget bro" Rendra tertawa, tak ada jawaban lagi dari Kawa. Dia tidak pandai membuat kata-kata.
"Nih buat kamu" Mayra menyodorkan potongan kue pertama untuk Kawa, Kawa menatap kue tersebut dengan heran, tangannya belum menerima uluran kue tersebut. Dia merasa bukanlah orang yang tepat untuk mendapatkannya. Sedetik kemudian dia melirik ke arah Zahra, tatapan gadis yang sudah menghapus luka hatinya itu nampak biasa saja. Atau itu janya perasaan Kawa saja. Dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Zahra.
"Tuh..bengong aja" Rendra kembali menyenggol bahu Kawa dengan tangannya.
"Terima kasih" Kawa tersenyum kecil lalu menerimanya.
Zahra melihat Mayra memberikan kue pertamanya untuk Kawa, menyurutkan sedikit perasaannya. Mungkin saja memang pantas jika Kawa bersanding dengan Mayra. Dia terlalu GR jika Kawa memiliki perasaan padanya.
Acara potong kue usai, mereka masih berkumpul di satu tikar. Udara malam di alam terbuka itu berhembus agak kencang, menembus kulit yang sudah terlindungi dari jaket yang tebal.
"Cerita-cerita yuk, masa kecil atau masa-masa yang paling badung yang pernah kalian lakukan" ajak Mayra.
"Boleh" sahut Tania. "Kamu dulu, sebagai persembahan orang yang ulang tahun hari ini.
"Haha....boleh....jadi aku itu kan memang tomboy, jadi saat SMA itu aku males masuk kamar mandi cewek, bukan karena aku mau mengintip para cowok kece ya...hal itu karena aku males aja lihat para cewek pada dandan lamaaa banget. Ya sudah aku pakai toilet cowok...dan hari itu apes, ada razia gitu deh...kena lah akhirnya"
"Kamu diapain sama guru?" tanya Tania penasaran.
"Disidang donk....dan Papa dipanggil juga ke sekolah, sejak saat itu aku jadi insyaf nggak ke toilet cowok lagi. Kamu gantian" pinta Mayra pada Tania.
"Kalau aku...hahaha" Tania tertawa dulu bahkan sebelum dia bercerita. "Kalau aku selalu kena razia kosmetik, udah itu aja, malu kalau diingat ingat"
__ADS_1
"Kok bisa?" sahut Rendra.
"Karena aku kan suka make up gitu, bawa lipstik emakku lah, bawa bedak lah, parfum, dan lain-lain, bahkan pernah bawa catokan juga"
"Gila sih" Rendra tertawa.
"Nah makanya, berasa salon cin" Tania tertawa kecil, Zahra tersenyum mendengarnya, baru kali ini dia tahu jika Tania suka bersolek, tidak menyangka jika sekarang bisa menjadi guru TK yang begitu sabar dan tak lagi membawa peralatan make up nya.
"Gantian nih cowoknya" Tania menunjuk Kawa kemudian Rendra.
"Aku dulu....." Rendra mengangkat tangannya.
"Ya...kamu duluan" Mayra tak sabar mendengar Rendra bercerita.
"Kalau aku kan memang anak baik-baik sih" Rendra membesarkan suaranya.
"Idih...nggak percaya" Mayra ngakak, begitu juga Tania. Kawa dan Zahra hanya tersenyum kecil,
"Tuh...tanya aja sama Kawa, sohibku" Rendra menunjuk Kawa, yang ditunjuk tak ada reaksi, sebagai tanda dia tak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Rendra.
"Baik...baik...aku yakin kalian nggak percaya kalau aku ini anak baik-baik, banyak sebenarnya, hanya akan aku ceritakan satu yang paliiiiing berkesan" Rendra menutup matanya sambil mengingat peristiwa tersebut.
"Apaan tuh? menghayati banget" Mayra menopang dagu dengan tangannya sambil melihat Rendra dengan seksama.
"Aku pernah kena razia juga nih...pokoknya judulnya razia ya...jadi aku punya cewek waktu itu, tapi aku juga punya selingkuhan...hehm...maklum lah ya...orang cakep kayak aku gini banyak banget cewek-cewek pada antri" Rendra membanggakan diri, lainnya mencebik. "Lanjuuuut.....jadi aku pamit sama pacarku yang saat itu sekelas sama aku untuk ke kamar mandi, padahal saat itu aku janjian sama selingkuhan gitu deh, kita mojok di kamar mandi, jangan jorok tapi pikiran kalian" Rendra mengingatkan.
"Gimana nggak jorok, mojok kok di kamar mandi, ngapain ih" Tania nyeletuk.
"Idih nggak percaya" sahut Mayra.
"Beneran, terus ada razia pas itu. Nah...ternyata di belakang guru yang melakukan razia itu, ada cowoknya selingkuhanku. Kita sama-sama selingkuh gitu lah, gurunya yang merazia sih sabar, tapi yang belakangnya itu...."
"Diapain kamu?" Mayra tidak sabar.
"Diguyur air bekas cucian piring" sahut Rendra. Mayra tertawa.
"Dan kamu nggak balas gitu?" Tania ikut tertawa.
"Boro-boro balas, merasa salah ya udah, dan saat itu juga aku diputusin cewekku, runtuh pokoknya harga diriku"
"Sukurin sih" Tania menimpali lagi.
"Lainnya banyak sih, cuma cukup itu saja yang aku ceritain, kalau aku cerita semua, bakalan nggak habis-habis, dan kalian bakalan nggak tidur bermalam-malam mendengar ceritaku"
Tania geleng-geleng kepala.
"Ayok giliran kamu" Rendra menepuk pundak Kawa. Kawa menggeleng.
"Jangan curang, lainnya sudah buka aib, tinggal kamu sama Zahra ini.
__ADS_1
"Nggak ada" jawab Kawa.
"Pasti ada lah"
"Iya nih, ayo donk" Mayra tak sabar, di matanya Kawa terlalu sempurna, seolah tiada cacat, tapi dia juga ingin tahu apakah Kawa juga badung saat dulu.
Kawa menyerah, "Singkat aja ya....karena memang nggak bisa cerita panjang"
''Iya deh" jawab Tania dan Rendra hampir bersamaan.
"Nonjok teman sekelas karena dia menggoda seorang cewek" jawab Kawa.
Zahra mendengarkan dengan seksama, Kawa pun tidak menjelaskan siapa yang dimaksud.
"Ya udah gitu aja, orang tua dipanggil"
"Itu kejadian waktu kapan? kok aku nggak tahu" Rendra mengerutkan keningnya, selama dia satu sekolah dengan Kawa, tak sekalipun dia melihat Kawa terlibat pertengkaran dengan orang lain, hidupnya benar-benar dataaaar, setidaknya itu yang ada di benak Rendra.
"SD" jawab Kawa singkat.
"Wiiih..."
Kawa memang pernah memukul seseorang saat masih SD, hal itu karena ada seorang temannya yang menggoda adiknya, dia melakukan itu hanya itu melindungi adiknya, yaitu Biru. Setelah itu tak lagi dia beradu fisik dengan siapapun, setelah Ganis dan Saga memarahinya kala itu.
"Bar-bar juga kamu bro" sahut Rendra.
"Nah sekarang si kalem Zahra" tunjuk Tania.
"Nah bener tuh..." Mayra bertepuk tangan. "Ini yang buat penasaran, aku nggak yakin kalau dia badung sih" Mayra tertawa, Zahra tersenyum.
"Nggak ada cerita" sahut Zahra.
"Nah kan...apa aku bilang, dia mah bener-bener gadis yang baik dan lurus aja gitu" Mayra tertawa lagi.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur" ajak Kawa, dia menyadari jika Zahra memang sedang tidak ingin bercerita, Zahra melihat ke arah Kawa dengan datar.
"Iya" ujar lainnya, hari sudah mendekati tengah malam.
Zahra dan Tania bangkit, mereka akan memasuki tenda masing-masing. Begitu juga dengan Rendra. Kawa yang hendak memasuki tenda dicegah tangannya oleh Mayra.
"Tunggu sebentar...aku mau ngomong serius ke kamu"
Kawa yang sudah melangkah pun menghentikan langkahnya saat pergelangan tangannya dicegah oleh Mayra.
"Ada apa? apa tidak bisa diutarakan besok saja? ini sudah larut" balas Kawa.
"Enggak, harus hari ini juga"
Kawa menghadap Mayra, mereka berhadapan dengan jarak yang dekat. Mayra tersenyum ke arah Kawa.
__ADS_1
"Aku....."
Angin berhembus semakin dingin, dua insan itu masih berkutat dengan perasaan masing-masing, terlebih Mayra.