Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 21 : Sejenak Menakar


__ADS_3

Suasana masih sama, hening, sepi dan menenangkan, itulah yang dirasakan Kawa sejak berada di tempat ini dari hari pertama hingga kini. Meski tanpa kemewahan, tanpa apa-apa dilayani, tapi dia begitu menikmati. Hiruk pikuk membuat suasana hatinya ingin rehat sejenak, perlahan dan hampir sudah dia melupakan kenangan bersama Nadin, seorang wanita yang hampir menjadi istrinya.


Perlahan namun pasti dia mulai menyukai tempat ini. Terdengar suara derum kipas angin yang memutar di ruang kamarnya, Kawa memejamkan matanya sambil tiduran. Perasaannya tengah berkelana, mengapa Zahra? jika membuat perhitungan, siapapun akan menakar jika Zahra dan Nadin jauh berbeda. Hanya saja bagi Kawa tak akan jadi masalah berarti. Zahra memang beda, Zahra bukanlah gadis kebanyakan.


Mungkin Kawa terlalu percaya diri bahwa Zahra juga memiliki hati yang sama sepertinya, namun dia juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Masih banyak hal yang harus dia pikirkan. Zahra sendiri, siapa dia sebenarnya? bagaimana latar belakang gadis itu? bukankah dia pernah menikah? apakah dia siap kembali menikah nantinya? Bagaimana dengan Dira? gadis kecil yang membuat dia jatuh hati pada sosok polos periangnya? lalu bagaimana dengan keluarganya? apakah keluarga besarnya bisa menerima keadaan Zahra. Tidak hanya soal itu, bagaimana dengan keluarga Zahra, terlebih ayah Zahra yang terlihat tidak begitu menyukai adanya orang baru yang ingin memasuki kehidupan keluarganya, hal tersebut Kawa rasakan.


Kawa mencoba memikirkan hal-hal tersebut, meskipun hal itu belum pasti. Wajah Zahra berkelebat memenuhi pikirannya, bagaimana paras gadis itu begitu teduh namun memendam suatu kesedihan, aroma parfum Zahra yang seolah berkelebat di indra penciumannya. Semua tentang Zahra. Bagaimana dia bisa begitu terhipnotis oleh gadis itu?


"Apakah dia juga merasakan hal yang sama?" ucapnya pada diri sendiri. Kawa membuka matanya, melihat langit-langit kamarnya, nampak silau oleh lampu yang masih menyala terang.


Kawa kembali memikirkan hal yang harus dilakukan, bagaimanapun dia adalah seorang pria, pria matang yang seharusnya bisa mengambil tindakan. Hidup tidak melulu tentang pacaran, dia sudah melewati itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah hubungan yang serius. Ya, dia memikirkan sebuah pernikahan. Namun lagi-lagi, apakah dia akan bisa melewati hal-hal yang dia pikirkan tadi?.


Kawa mengambil nafas panjang, jika Zahra tahu siapa sebenarnya dia? apakah itu bukan masalah bagi Zahra?. Zahra akan tetap bisa dekat dengannya atau malah akan menjauhinya?

__ADS_1


***


Zahra baru saja memanjatkan doa-doa panjangnya di sepertiga malam. Wajah Kawa berkelebat di benaknya sejak beberapa hari yang lalu, bahkan dia sulit mengontrolnya. Zahra melihat jari manisnya, kini dia sudah tidak memakai cincin di jari tersebut yang beberapa saat selalu melingkar di sana, memberikan tembok penghalang bagi siapa saja yang ingin memilikinya. Dan reaksi ayahnya juga nampak berbeda, tak lagi memusingkan Zahra wajib memakainya lagi.


"Apakah aku mencintainya?" gumamnya perlahan sambil mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Kemudian dia menggeleng perlahan, mencoba sekuat hati menepis perasaan tersebut. Baginya, Kawa jauh darinya. Dia menganggap dia tidaklah pantas untuk Kawa.


Lelaki yang dia lihat pertama kali di sebuah warung itu, sorot mata yang tajam namun penuh dengan luka, itu pandangan awal yang dia lihat dari Kawa. Lelaki yang dia tahu bekerja menjadi karyawan di sebuah minimarket dari gurita bisnis seorang yang dia tahu. Iya, siapa yang tidak tahu Arjuna Group, gurita bisnisnya di mana-mana. Bahkan Zahra sering melihat pemiliknya di layar televisi, berita online, maupun koran dan majalah.


Bagi Zahra, tidak ada lelaki selain suaminya di hidupnya, meskipun dia sendiri belum mengenal Altaf dengan baik, tapi dia berjanji untuk setia. Itu dulu, kenyataan mengatakan dia harus menghadapi kenyataan pahit, Altaf meninggalkannya untuk selamanya dalam medan tugas.


Zahra menghela nafas panjang, tangannya masih menggenggam tasbih, dalam hatinya menyenandungkan asma Allah. Dia pasrahkan urusan ini pada sang pencipta semesta.


"Aku tidak pantas untuknya" gumamnya lagi. Mengingat dirinya dengan status pernah menjadi istri orang alias janda, meskipun pada kenyataannya dia adalah seorang gadis. "Lantas jika aku menikah? bagaimana dengan Dira? pasti dia akan sedih karena kehilangan keberadaanku yang hampir selalu bersamanya?"

__ADS_1


Dira yang dari bayi bersamanya menjadi alasan utamanya berat untuk melangkah, apakah Dira akan merelakannya untuk bersama orang lain? selama ini Dira menganggap dia adalah ibu kandungnya. Hatinya terasa kelu jika mengingat hal tersebut.


Tapi bagaimana jika Kawa menerima hal itu? Kawa nampaknya sangat akrab dengan Dira gadis kecilnya itu, begitu juga dengan Dira yang menyukai Kawa.


Zahra tidak mau berandai, bahkan dia takut terlalu besar harapannya. Dia takut kenyataan akan menyakitkan karena tidak sesuai harapannya. Ayahnya sendiri belum memberikan keputusan apapun tentang hidupnya.


        Hrai ini adalah hari minggu, di mana Zahra libur mengajar. Setelah menunaikan sholat subuh, dia merapikan mukena dan sajadahnya, dia simpan di dalam almari. Kemudian dia merapikan ranjangnya. Hal tersebut rutin dia lakukan setiap harinya, selepaas tahajud dia melanjutkan sholat subuh tanpa jeda tidur. Kini dia sudah bersiap menuju dapur untuk masak.


Zahra mengambil sayuran yang tersimpan di dalam lemari pendingin. Setelahnya dia membuat minuman hangat untuk Ayah dan Ibunya yang sudah berada di ruang keluarga dengan aktivitasnya, Ibunya sedang mengaji, sedangkan Ayahnya duduk mendengarkan. Mereka akan berbincang ringan setelahnya.


Zahra memotong sayur yang akan dia masak, Dira yang baru saja keluar dari rumah sakit meminta sop menjadi menu hari ini selain ayam goreng. Zahra dengan senang hati mengiyakan dan menuruti apa yang diminta oleh Dira. Gadis kecilnya sudah rindu masakannya. Zahra memotong wortel dan kentang serta buncis, kemudian dia mencucinya hingga bersih. Terdengar suara air mendidih, pertanda siap untuk dibuat minuman. Zahra memukul jahe hingga bentuknya berserat. Kemudian dia mencucinya hingga bersih, di gelas berwarna coklat tua itu sudah menunggu tuangan gula. Ayahnya tidak suka manis yang terlalu, begitu juga Ibunya. Zahra meletakkan geprekan jahe tersebut ke dalam gelas, lalu dia menuangkan air panas ke dalam dengan hati-hati.


"Baapak sudah memikirkannya...." samar-samar terdengar di telinga Zahra, rupanya Ibu Zahra sudah selesai mengaji. "Bapak akan melepaskan Zahra" imbuhnya. Ada rasa bahagia yang tak terungkap dalam hati Zahra, itu artinya Ayahnya akan menerima kenyataan bahwa selama ini suami Zahra memang sudah meninggal.

__ADS_1


"Lantas apa yang akan Bapak lakukan setelah ini?" Bu Latif menimpali.


"Seperti yang Bapak katakan sebelumnya, Bapak tidak mau kejadian Airin terulang" tegasnya. Senyum yang mengembang dari bibir Zahra kembali memudar. Perkataan Ayahmya mengisyaratkan bahwa nantinya dia akan kembali dijodohkan. Zahra kembali memupuskan mimpimya...


__ADS_2