Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 45 : All is Well


__ADS_3

"Kita mau kemana Bunda?" tanya Dira dengan cerianya, Dira memakai baju panjang warna hitam. Begitu juga dengan Zahra. Pak Latif dan Bu Patif juga sudah siap, mereka menunggu Zahra dan Dira di depan.


"Kita akan jalan-jalan, nanti deh aku kenalin sama seseorang" jawab Zahra sambil berjongkok di depan Dira.


"Siapa?" Dira sudah tidak sabar.


"Ya nanti bunda kenalin" Zahra masih belum mengatakannya. "Yuk, nenek sama kakek sudah menunggu di luar" Zahra menggandeng tangan mungil Dira.


"Yuk" Dira melangkah dengan gembira.


        Mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat di mana mereka dulu tinggal, Pak Latif mengemudikan mobil dan didampingi dengan Bu Latif yang duduk di sampingnya.


Dira berada di belakang bersama Zahra, gadis kecil itu nampak sedang melihat ke samping, melihat kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali itu bertanya pada Zahra tentang apa yang dilihatnya di jalan. Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam itu, mobil tiba di sebuah area yang sepi.


Zahra membangunkan Dira yang terlelap tidur di pangkuannya.


"Dira...bangun nak, kita sudah sampai" Zahra membangunkan Dira dengan lembut. Pak Latif dan istrinya sudah terlebih dulu turun. Dira mengucek matanya dan merasakan bahwa mobil sudah berhenti.


"Kita sudah sampai Bun?" tanya Dira bersemangat. Zahra mengangguk. "Horee" Dira kembali bersemangat, rasa kantuknya sudah hilang sama sekali.


"Mana yang mau dikenalin sama Dira Bun?" tanya Dira, mereka sudah turun dari mobil. Zahra menggandeng Dira hendak menyusul Pak Latif dan Bu Latif yang sudah berada di sebuah makam.


Tanpa banyak bicara, Zahra menuntun Dira dengan hati-hati hingga sampai di dekat kakek dan neneknya. Nampak sebuah makam yang nampak ditumbuhi rumput hijau, karena memang sudah lama mereka tidak menengok Airin. Zahra berjongkok dan ikut membersihkan rerumputan tersebut. Tangan kanannya mengambil bunga yang sudah dia siapkan dari rumah, dan meletakkannya di pusara yang bertuliskan nama Airin itu.


"Apa kabar kak?" Zahra mengelus pusara kakaknya itu. "Maaf jika aku jarang menengok kakak, tapi percayalah aku selalu mendoakan kakak" Zahra berbicara seolah Airin berada di depannya. Dira yang tidak tahu maksud dari semua ini hanya melihat saja. Sedangkan Pak Latif dan Bu Latif sibuk membaca doa di seberang mereka.


Dira memainkan bunga yang diletakkan oleh Zahra tadi.


"Dira sudah besar kak, lihat kak, dia tumbuh menjadi gadis kuat dan cantik" Zahra memperkenalkan Dira. "Dan kini saatnya Dira tahu tentang hidupnya"


Dira melihat ke arah Zahra dengan tatapan mata lugu namun penuh tanya.


"Siapa bun?" tanya Dira.

__ADS_1


"Ini Bunda Dira, namanya Airin, kamu bisa panggil Mama Airin"


"Mama? Bunda Dira?" Dira masih bingung mencerna. Zahra mengangguk. Dia harus menjelaskan sehalus mungkin.


Zahra memegang kedua pundak mungil Dira dan menatap matanya, sudah saatnya Dira tahu.


"Iya, ini adalah Mama Dira" ucap Zahra halus, bibirnya mengulas senyum. Dira menggeleng menolak.


"Bukan, Bundaku ya Bunda Zahra" Dira memeluk Zahra. Zahra mengelus kepala Dira dengan penuh kasih sayang. Pak Latif dan Bu Latif meninggalkan Dira dan Zahra, mereka memberikan kesempatan pada Zahra dan Dira.


"Sayang....ini mama Dira...mama Dira sayaaaaang banget sama Dira" Zahra melihat wajah Dira yang sudah lepas dari pelukan Zahra, mata indahnya melihat ke arah Zahra.


"Tapi kenapa mama ninggalin Dira?"


"Karena Tuhan lebih sayang sama mama" Zahra masih menatap gadis kecil itu.


"Apa mama cantik?"


"Tentu. Mama cantiiik banget seperti Dira" Zahra menyentil hidung Dira. Nampak senyum mengembang di bibir Dira.


"He em"


"Tapi Dira boleh kan tetap jadi anak Bunda?"


"Boleh donk sayang" jawab Zahra lega, ternyata emosi anak ini sungguh di luar ketakutannya. Dira bisa menerima keadaan ini.


"Mama kenapa di sini?"


"Mama istirahat sayang, mama sudah di rumah Allah" jawab Zahra kembali menjelaskan.


Dira memeluk erat Zahra, gadis kecil itu nampak sedang harus menerima keadaan ini. Zahra memeluknya erat, mencium kepalanya.


"Bunda sayang Dira" ujar Zahra.

__ADS_1


        Mereka sudah kembali ke dalam mobil, Dira nampak masih melihat ke arah makam Airin. Tak tahu apa yang sedang dirasakan oleh gadis kecil itu.


Ini adalah tempat di mana mereka tinggal, di mana Zahra menghabiskan masa kecilnya di sini. Namun hanya kenangan, keluarganya memutuskan untuk pindah setelah meninggalnya Airin. Pak Latif tidak tahan dengan gunjingan para tetangga yang tak henti menggunjingkan perihal masalah Airin yang bunuh diri.


Untuk membuka lembaran baru, mereka pindah rumah. Agar kenangan yang buruk menghilang. Bahkan Pak Latif juga baru bisa berdamai dengan Airin, dengan hal yang dilakukan Airin semasa hidupnya. Ada rasa bersalah yang menggelayuti hatinya. Dan kini dia sudah melepaskannya, berharap Airin mendapat ampunan dari Tuhan.


Zahra membopong Dira yang tertidur lelap masuk ke dalam rumah, membaringkannya di kamarnya. Zahra bergegas masuk ke dalam kamarnya bersiap untuk membersihkan dirinya.


        ***


"Apakah semuanya sudah beres buk?" Pak Latif memastikan runtutan acara yang akan dilakukan di rumah sebelum Zahra menikah nantinya.


"InsyaAllah pak. Tinggal menunggu hari H-nya. Sejak beberapa hari kemarin Bu Latif sudah menyiapkan acara pengajian untuk pernikahan Zahra. Acara di rumah hanya pengajian dan siraman, karena untuk akad nikah akan dilakukan di hotel yang sudah disiapkan oleh keluarga Kawa.


Menuju hari H menjadi hari yang mendebarkan, tidak hanya Zahra tapi juga keluarganya. Pak Latif juga merasa cemas, memikirkan bagaimana Zahra selanjutnya? apakah dia akan bahagia.


"Pak...Bismillah" Bu Latih mengelus pundak suaminya menenangkan. Dia tahu ada beban di sana, tapi dia tidak mau menjadikan hal ini menjadi beban yang tak akan teruari. Dia tidak mau suaminya kembali membuat anaknya terpenjara.


"Aku cemas Buk"


"Ibuk tahu, tapi percayalah...semua akan baik-baik saja, kita sebagai orang tua cukup mendoakan"


"Bapak kenyang dengan pertanyaan para tetangga buk" gumam Pak Latif, tangannya mengambil cangkir yang berisi kopi.


"Kenapa pak?"


"Ya tentang calon Zahra, yang ternyata bukan orang sembarangan. Bapak merasa ini adalah sebuah beban"


Bu Latif menghela nafas, memang tidak mudah bagi keluarganya yang pernah dihina oleh calon Airin yang kaya raya. Dihina karena mereka hanya keluarga sederhana. Kini malah mendapatkan besan yang lebih dari kaya, tapi Bu Latif tetap berpedoman bahwa yang namanya takdir harus dijalani. Semua akan baik-baik saja.


"Jika sampai kejadian berulang, Zahra disakiti, maka entah apa yang akan kita rasakan nanti. Semoga saja semua baik-baik saja"


"Aminnn" Bu Latif menimpali. "Ibuk ke dapur dulu Pak"

__ADS_1


"Iya" jawab laki-laki itu, istrinya sudah berlalu meninggalkannya. Dia dan secangkir kopi sedang menikmati sore hari di teras rumahnya. Rumah ini akan sepi nanti setelah Zahra menikah, tak apa, masih ada cucuk cantik yang menemani masa tuanya.


__ADS_2