Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 10 : Bernama Takdir


__ADS_3

Jika kedatangannya kesini bukanlah sebuah takdir, maka kakinya tak akan pernah berpijak di sini. Kawa memainkan plester baru yang baru dia keluarkan dari dalam kotak obat. Baru saja dia membersihkan luka yang ada di lengannya dan menggantinya dengan plester yang baru.


Tidak ada yang kebetulan di dunia, itulah keyakinan yang dia pegang, dimulai dari tragedi pertunangan yang gagal dengan Nadin, dan dia memutuskan untuk berada di tempat ini, kota kecil. Dan yang paling dia korbankan adalah kehidupan yang mapan di rumahnya dulu. Kini dia tinggal di tempat sederhana yang apa-apa dilakukan sendiri.


Zahra, iya...gadis itu entah apa yang membuatnya tertarik padanya. Hanya saja belum ada kesempatan yang tepat untuk berbicara secara intim. Sekiranya tidak ada, karena gadis itu terlalu pendiam dan tertutup, itulah yang dirasakan oleh Kawa. Sehingga dia segan untuk memulai.


"Melamun melulu" Senggol Rendra, lalu dia duduk di kursi kayu samping Kawa. tangan kanannya meletakkan cangkir berisi kopi yang asapnya masih mengepul, aromanya menyeruak memenuhi hampir seluruh ruangan yang tidak terlalu luas itu. Tanpa aba-aba, Kawa mengambil alih cangkir tersebut dengan tangan kanannya dan menyeruput isinya hingga hampir tandas. Rendra hanya melongo melihat tingkah Kawa, kemudian dia geleng-geleng kepala saat Kawa kembali meletakkan cangkir tersebut.


"Sampai kapan laporan sama nyokap?" tanya Kawa, sudah berkali-kali Ganis menelponnya menanyakan perilah luka yang ada di lengannya. Rendra tersenyum, dia memang yang memberitahu Ganis jika Kawa terluka, meskipun tidak parah. Dan itu cukup membuat Ganis khawatir.


"Kan memang tugasku, wahai Tuan Muda" jawab Rendra masih dengan senyum jahilnya.


Kawa menggaruk kepalanya, tidak habis pikir mengapa Rendra benar-benar menepati tugasnya, untuk selalu laporan pada kedua orang tuanya.


"Jangan aneh-aneh ya kamu"


"Ohhh.....Zahra...." Rendra menggantung kalimatnya.


"Nah kan, aku bilang jangan aneh-aneh" ucap Kawa, dia sudah bisa menebak, jangan-jangan Rendra juga menceritakan hal ini pada orang tuanya.


"Enggak bro....kalau yang satu ini, sudahlah enggak. Lagian kamu cemen sih" ejek Rendra, melihat dirinya merasa diejek, mata Kawa sedikit meolot melihat sahabatnya tersebut. "cemen" kata itu mengusik hatinya. Memang sih pada kenyataannya dia tidak bisa berbuat banyak, lebih tepatnya belum bisa berbuat banyak.


"Aku bantuin?" tanya Rendra masih dengan kalimat menggoda.


"Hiiiisssh" ujar Kawa mengibaskan tangannya.


"Masa sih Tuan Muda nggak berani deketin?"


"Bukan masalah itu, hanya saja..." Kawa tidak langsung melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa? Nadin? udah basi lah" Rendra ikut mengibaskan tangannya.


"Bukan"


"Lalu?"


"Kepo kamu, kayak emak-emak komplek" jawab Kawa.


"Idiiih sewot kayak perawan" balas Rendra. "Kalau kamu nggak jalan juga, biar aku yang maju bantuin" imbuh Rendra. Kawa yang saat itu bangkit dari kursinya, kembali menengok ke arah Rendra yang tersenyum nyengir. Bukan tidak mungkin Rendra akan melakukan apa yang dia ucapkan.


"Jangan ikut campur" sergah Kawa lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Rendra mengedikkan kedua bahunya melihat sahabatnya menghilang di balik pintu.


Terdengar bunyi ponselnya berdering, Rendra segera menjawab panggilan tersebut sesaat melihat nama tertera di layar ponsel.

__ADS_1


"Hallo...."


Terbersit sebuah ide di kepalanya setelah dia menutup perbincangan dengan seseorang di ponselnya.


***


Kawa selesai menata barang-barang yang ada di rak, kemudian dia kembali di balik meja kasir. Sudah ada beberapa pelanggan yang akan membayar barang yang sudah ada di keranjang belanjaan. Kawa melayani dengan ramah. Sekarang dia benar-benar tahu bagaimana menjadi karyawan yang langsung berhadapan dengan konsumen, dengan seperti ini dia akan lebih banyak belajar.


Terdengra derap kaki mendekat, membuka pintu minimarket. Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda, rambut yang sekiranya hanya sebahu, berperawakan cantik namun agak tomboy.


"Selamat datang" sambut Kawa dengan ramah, gadis itu mengangguk kecil dan tersenyum melihat Kawa. Terlihat gadis itu celingukan sedang mencari sesuatu.


"Bisa saya bantu mbak?" tawar Kawa, sementara Alya sedang menata barang di bagian rak yang lain.


"Oh...saya mencari seseorang" jawab gadis itu.


"Orang? Alya?" Kawa mengira jika gadis itu sedang mencari Alya. Gadis itu menggeleng.


"Oh, lalu?" tanya Kawa dengan nada ramah.


"Mencari Papa...ehm....Pak Broto" jawabnya menjelaskan.


"Oh big bos? tadi ada mbak, maaf saya kira mencari Alya"


"Iya, Pak Broto" Kawa memperjelas. Gadis itu menepuk dahinya, mengapa narsis Papanya masih saja menempel. Lalu gadis itu tertawa kecil, "Iya Pak Broto, Papa saya".


"Apa perlu saya carikan mbak, tadi ada di ruangannya"


"Oh tidak usah, barusan saya kesana nggak ada, mungkin sedang keluar, biar aku telpon saja"


"Baik mbak"


"Bolehkah saya menunggu di sini?" tanya gadis itu.


"Silahkan mbak" Kawa mengambil sebuah kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk tak jauh dari meja kasir. Gadis itu nampak mengeluarkan ponsel dan menelpon yang mungkin pak Broto.


Kawa kembali melayani pembeli di meja kasir, Gadis itu telah selesai menelpon Pak Broto. Dia kembali memasukkan ponsel ke dalam tan ranselnya, kemudian memperhatikan Kawa yang tengah sibuk. Dia menyipitkan matanya sambil mengingat sesuatu.


"Terima kasih, jangan lupa datang kembali ke minimarket ini" Kawa membungkuk saat pelanggan selesai membayar dan mengambil barangnya.


Gadis itu mendekat, lalu mengulurkan tangannya pada Kawa.


"Mayra" ujarnya menyebut namanya.

__ADS_1


Kawa yang melihat tangan gadis itu menggantung di depannya, segera tersadar jika gadis itu mengajaknya berkenalan. "Kawa" jawab Kawa sambil menjabat tangan gadis itu.


"Kenapa aku sepertinya tidak asing dengan wajah kamu ya?" ujar Mayra sambil kembali mengingat. Kawa tersenyum tipis sambil mereka saling melepaskan tangan.


"Wajah saya memang pasaran mbak" ujar Kawa, gadis itu mengibaskan tangannya.


"Ah enggak ah" ujarnya, "Bener-bener nggak asing"


"Banyak yang bilang begitu mbak, hanya saja memang wajah saya ini pasaran" Kawa merendah, jangan sampai gadis itu menemukan apa yang dia maksud.


"Jangan panggil mbak, panggil Mayra saja" tolaknya.


"Nggak enak mbak"


"Ah nggak apa-apa" ujar gadis itu sambil kembali duduk di kursi yang tadi. Tak lama kemudian Pak Broto memasuki toko tersebut.


"Papa dari mana saja?" tanya gadis itu dengan suara manja.


"Ada apa?" tanya Pak Broto. "Kan bisa telpon saja"


"Nggak enak Pa"


"Ya sudah, bicara di ruangan Papa saja"


Mayra mengangguk, mengekor Pak Broto yang sudah melangkah keluar toko.


Mayra melambaikan tangan pada Kawa, Kawa mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


        Tak berapa lama, Kawa melihat Zahra memarkir motornya, dia melihat di balik pintu kaca toko. Degup jantungnya seperti menggila, dia benar-benar seolah tidak bisa mengendalikannya.


"Mengapa aku jadi segila ini?" ucapnya lirih.


Langkah Zahra semakin dekat seiring dia membuka pintu masuk toko.


"Selamat datang" sapa Kawa, Zahra yang baru sadar jika Kawa lah yang menyambutnya mendongakkan wajahnya, lalu mengangguk kecil. Tak ada kalimat balasan yang keluar, dia segera menuju rak barang yang dia cari. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan Kawa, hanya saja mengapa kebetulan bertemu lagi dengan laki-laki itu. Dia tidak pernah menganggunya, hanya saja seperti ada yang mengusik hatinya, sehingga dia ingin menghindarinya.


"Kapan kita bisa berbicara lebih banyak?" ucap Kawa dalam hati.


"Tolong jangan hadir, kamu sudah mengusik hatiku tanpa sengaja" jerit Zahra dalam hati.


Mereka tengah sibuk dengan hati masing-masing, hingga Kawa tak lagi melihat gadis itu, dia sudah keluar dari toko dengan barang belanjaannya.


 

__ADS_1


Pleaseee....bantu like ya....


__ADS_2