
Dalam pernikahan, salah satu hal yang diidamkan adalah keturunan. Sudah 2 bulan pernikahan mereka. Beberapa kali Zahra ditanya oleh Ibunya. Karena Ibunya tak sabar menimang cucu kedua. Sedangkan dari keluarga Kawa, Ganis nampak lebih tenang. Hanya saja Oma Rima yang tak sabar menimang cicit.
"Aku sudah tidak sabar menimang cicit, bagaimana Nis, apa cucu menantuku sudah isi,?" tanya Oma Rima sambil duduk di taman samping, menikmati sore hari sambil ngeteh dan makan pisang goreng bersama Ganis.
"Aku nggak pernah tanya Ma, nanti biarlah kalaupun hamil, mereka yang akan memberikan kabar baik untuk kita, takutnya pertanyaanku membebani mereka," jawab Ganis bijak.
"Hah...aku sudah membayangkan bagaimana menimang cicit pertama," Oma Rima menyesap teh yang ada di cangkir warna putih itu. Ganis tersenyum menimpali pembicaraan Oma Rima.
"Iya Ma, kita doakan saja yang terbaik,"
"Oya, bagaimana dengan Biru, kapan dia akan lulus? kamu harus lebih tegas lagi padanya Nis," Oma Rima memberi peringatan, karena cucunya itu memang agak nyeleneh luar biasa dibandingkan dengan Kawa yang kalem. "Oma khawatir kalau dia...," Oma Rima tak melanjutkan kalimatnya.
Ganis mendongak, melihat mama mertuanya itu. Memang, dalam hatinya juga sebenarnya agak khawatir dengan Biru yang akhir-akhir ini semakin terlihat "liar", hingga Kawa menunjuk salah satu bodyguard untuk Biru.
"Nanti saya tanya Dipa Ma, sekaligus nanti Biru saya ajak ngobrol,"
"Apa Dipa itu anak baik-baik,?" tanya Oma Rima yang belum mengenal Dipa.
"Iya Ma, Kawa dan Rendra sudah mengenalnya.
"Oma mah nggak setuju jika nantinya dia nikah sama siapa itu, cowok yang kemarin diajak ke nikahan Kawa," Oma Rima mencoba mengingat.
"Mario Ma,"
"Ya...itu dia,"
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka, tumben-tumbenan jam segini sudah pulang.
"Omaaaa......Bundaaaa....," teriak Biru lalu menghambur mendekati Oma dan Bundanya.
"Nah ini nih bocahnya," Oma Rima melihat cucu perempuannya itu dengan gemas. Dia memang sangat cantik, tapi mirip preman. Kadang tak tahu aturan. Biru duduk di tengah-tengah Oma dan Bundanya di sebuah gazeboo, dan tangannya dengan entengnya mencomot pisang goreng yang sedang dipegang oleh Omanya.
"Dasar...," Oma Rima menggeleng lalu tertawa, "Itu di piring masih ada," Oma Rima menunjuk piring yang ada di dekatnya.
"Enakan ini, habis gigitan Oma," Biru menyeringai. Ganis geleng-geleng kepala melihat kelakuan Biru.
__ADS_1
"Dari mana saja,?" tanya Oma.
"Kampus lah Oma,"
"Tumben sudah pulang,?"
"Lah...pulang malam nggak boleh, pulang sore juga bertanya tanya dan nggak percaya," Biru mengambil satu buah pisang goreng lagi.
"Apa kabar Dipa,?" tanya Omanya. Biru mendelik emndengar Omanya menanyakan Dipa.
"Mario Ma, pacarku itu Mario,"
"Oma nggak suka,"
"Ih Oma....kenapa sih,?" Biru mengernyitkan dahinya. "Mario itu anak salah satu rekanan Papa loh, jadi bisa lah nanti perusahaan dimerger jadi semakin besar," Biru terkekeh.
"Bodo ah, Oma nggak suka,"
"Iya kenapa Oma,?" Biru duduk menghadap Omanya, sambil tersenyum manis, pisang goreng masih dia pegang di tangan.
"Ah tau ah, Biru ke kamar dulu, mau mandi, mau keluar,"
"Heh mau kemana lagi kamu,?" teriak Omanya. Biru sudah menjauh dari Omanya, dia melambaikan tangan tanpa melihat Oma dan Bundanya. Oma Rima hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tuh lihat anak perempuanmu, huh," Oma Rima mengurut pelipisnya.
"Nggak apa-apa Oma, nanti sama Dipa," Ganis menenangkan.
Zahra memasang wajah kecewa, Kawa baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kenapa sayang, kenapa cemberut,?" Kawa melepas jasnya dan Zahra segera mengambilnya. Zahra memaksa senyum mengembang di bibirnya. Tak tega rasanya dia mengatakannya pada Kawa.
"Bang...," Zahra duduk di tepi ranjang.
"Kenapa sayang,?" tanya Kawa sambil menatap istrinya dengan sayang, seharian kerja dan pulang melihat istrinya sudah cukup membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Nanti saja deh, abang mandi dulu saja," Zahra menarik tangan Kawa dan mendorong pelan agar segera mandi. Kawa menurut saja dan masuk ke kamar mandi. Ini adalah salah satu kebiasaannya saat berada di rumah sesaat setelah pulang ngantor.
"Bajunya aku siapkan di sini," Zahra meletakkan baju Kawa di meja riasnya.
"Terima kasih sayang," ucap Kawa sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mengambilkan baju ganti, Zahra duduk di depan cermin. Tangannya kembali melihat tespeck yang baru saja dia gunakan. Sehari, dia sudah mengecek beberapa kali, ini adalah yang ke 3 kalinya dan hasilnya masih sama.
Zahra menghela nafas panjang, merasa frustasi dengan hasil negatif yang dia lihat. Ini adalah pemandangan yang biasa dia lihat. Hanya saja rasa sesaknya masih sama, menyakitkan baginya. Harapannya terasa pupus. Setiap kali melihat alat tersebut, Zahra harap-harap cemas. Selalu mengharap keajaiban sesuai dengan doa-doanya. Namun kini kembali pupus.
Kawa keluar dari kamar mandi dan mengusap rambutnya, dia melihat Zahra yang sedang melamun di depan cermin. Kawa segera memakai baju ganti yang sudah disiapkan oleh Zahra.
Kawa mengusap rambutnya lalu mendekat ke istrinya itu.
"Kenapa? ceritalah sama bang," Kawa memegang pundak istrinya. Zahra menoleh ke arah Kawa dan memeluk pinggang suaminya, terdiam sesaat di sana.
Tangan kanannya memegang sebuah tespeck.
"Ini," Zahra mengulurkan tangannya, Kawa menerima tespeck tersebut.
"Oh ini yang buat kamu sedih,?" tanya Kawa. Zahra mengangguk sedih, matanya berkaca-kaca. Kawa mengusap kepala istrinya dengan lembut sambil tersenyum manis.
"Aku gagal lagi," ucap Zahra.
"Hei sini lihat abang," Kawa mengangkat dagu Zahra dengan lembut. Zahra melihat Kawa, mata yang semula berkaca-kaca kini air matanya merembes membasahi pipinya.
"Kamu harus bahagia, kita nikmati masa pacaran berdua ini dengan hati yang senang dan sabar, suatu saat nanti dia akan hadir bersama kita," Kawa berbisik lembut, menenangkan istrinya yang sedang gundah gulana.
"Aku takut abang kecewa,"
"Enggak," Kawa menggeleng. "Aku nggak akan kecewa sayang, masih baru juga kan?" Kawa tertawa kecil lalu memeluk Zahra dengan hangat. "Nggak usah sedih lagi ya...,"
Zahra mengangguk.
"Sudah makan,?" tanya Kawa. Zahra menggeleng. Kawa meletakkan handuk di tempatnya, lalu menarik tangan Zahra. "Yuk kita makan, jangan nangis lagi ah, nanti abang ikut sedih,"
Zahra mengusap air matanya, lalu tersenyum. Merasa lega dengan perlakuan Kawa yang tidak ikut kecewa dengan kegagalannya bulan ini. Bagi Kawa, kebahagiaan Zahra adalah nomer satu, dia tidak mau melihat Zahra bersedih hanya karena merasa gagal. Dia berjanji tak akan menguber-uber sesuatu yang memang belum menjadi rejeki mereka.
__ADS_1