Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 57 : Tumpah


__ADS_3

Zahra duduk di kursi teras rumah, ayahnya ada kegiatan di luar malam ini, Dira sudah tidur dengan nyenyak sesuai ditemani Zahra dengan membacakan dongeng sebelum tidur. Sementara itu Kawa sudah kembali ke rumah karena ada acara mendadak untuk esok pagi, Zahra mengizinkan Kawa kembali terlebih dulu. Bahkan dia menawarkan diri untuk pulang bersama Kawa jika memang dia harus kembali. Kawa mengerti jika Zahra masih merindukan rumahnya, sehingga dia meminta Zahra untuk tetap tinggal selama yang dia mau, dan kapanpun jika Zahra bersiap pulang dia siap menjemputnya.


Zahra mengusap pipinya dengan tisu, air matanya mengalir. Dadanya terasa sesak, begitu banyak beban batinnya.


"Ibu tahu ada sesuatu di hatimu," Bu Latif memegang pundak putrinya dengan lembut, air mata yang sudah hampir habis itu kini semakin deras mengalir. Zahra menyerongkan tubuhnya ke samping lalu memeluk tubuh Ibunya dengan erat. Air matanya benar-benar kembali tumpah. Bu Latif dengan lembut mengusap kepala Zahra.


Sisa-sisa air hujan yang menetes masih terdengar di halaman, baru saja hujan mengguyur tempat ini. Entah apa yang sedang dirasakan putrinya itu, tidak bisa dia menerka. Dia menunggu hingga Zahra berkenan membagikan isi hatinya.


Setelah tenang, Zahra melepas pelukannya.


"Maaf jika Zahra menambah beban pikiran Ibu, hanya saja Zahra benar-benar merasa ini berat...," ungkapnya. Bu Latif menarik kursinya dan duduk di dekat Zahra.


"Tidak ada yang menambah beban pikiran Ibu, ceritakan semua yang kamu rasakan biar bebanmu sedikit berkurang," Bu Latif menatap wajah putrinya dengan cemas. Tidak ingin jika Zahra akan mengalami hal sama seperti Airin.


"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu,?" Bu Latif merasa tercekat saat melontarkan pertanyaan ini. Buru-buru Zahra menggeleng.


"Bukan...bukan Bu, Zahra bahagia...kelewat bahagia malah," Zahra tersenyum, mengingat semua kebaikan Kawa dan juga keluarganya yang sungguh luar biasa baginya.


Dalam hati Bu Latif merasa lega saat Zahra mengatakan itu.


"Lantas apa yang membuat kamu terluka nak,?"

__ADS_1


"Bu...apa yang akan terjadi jika dalam pernikahan nanti tidak ada anak di antara kita,?" Zahra menatap Ibunya lekat. Bu Latif balas menatap Zahra, lalu tangan kanannya mengusap lembut kepala Zahra.


"Zahra....apa kamu bisa melihat jalan hidupmu hingga akhir,?" Bu Latif melontarkan sebuah pertanyaan pada putrinya, Zahra menggeleng.


"Naak....anak itu adalah hak prerogatif Tuhan, ibarat sesuatu, dia tidak bisa diminta tapi juga tidak bisa ditolak. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa sebaik mungkin, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dunia medis sudah sangat canggih sekarang, semua bisa diusahakan," Bu Latif mencoba menghibur Zahra, meskipun sebenarnya dia juga merasa sedih. Tapi dia tidak mau menunjukkan pada Zahra.


Bu Latif meraih tangan Zahra dengan lembut, memberikan kekuatan buat putrinya agar tegar menerima kenyataan apapun.


"Pasrahkan semua pada Tuhan nak...," imbuhnya seraya tersenyum.


Zahra menceritakan keadaan dirinya dari awal hingga kini, bagaimana mental dia sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Apakah suamimu tahu,?" Bu Latif bertanya. Zahra menggeleng pelan.


"Semua akan baik-baik saja, berusaha, dan berdoa," Bu Latif kembali menguatkan.


"Maaf ya Bu....Zahra datang kesini, bukannya membawa kabar bahagia, malah membuat Ibu sedih," Zahra merasa bersalah. Bu Latif menggeleng.


"Tidak nak, tidak ada rasa sedih yang kamu berikan, tidak ada beban yang kamu berikan pada Ibu dan Ayahmu, melihatmu sehat itu sudah anugerah yang luar biasa, itu yang terpenting," Bu Latif memeluk Zahra sekali lagi. Terasa sangat hangat Zahra merasakannya.


        Malam semakin larut, selepas cukup mengeluarkan unek-unek beban di hatinya, Zahra kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Kembali dia gelas sajadah, untuk mengadukan apa yang dia rasakan kepada sang pemilik hidup.

__ADS_1


Rasanya dia merasa bersalah karena membuat Ibunya menjadi sedih dengan ceritanya.


"Ya Allah maafkan aku," Zahra sedang menengadahkan tangannya berdoa. Tengah malam sudah berlalu, Zahra belum bisa memejamkan matanya. Dia masih terduduk di atas sajadah sambil melantunkan doa-doa.


Sejak tadi dia tidak mengecek ponselnya, selepas doa yang dipanjatan usai. Zahra bergegas berdiri dan mengambil ponsel yang ada di atas meja rias dan mengecek. Ada beberapa pesan dari Kawa yang mengabarkan bahwa dia sudah sampai di rumah dengan selamat. Ada juga beberapa pesan yang menanyakan apakah Zahra sudah makan, dan terakhir Kawa menanyakan apakah Zahra sudah tidur atau belum. Pesan itu dikirim terakhir 4 jam yang lalu.


"Maaf bang, nggak ngecek HP," gumam Zahra sambil mengetik pesan untuk suaminya. Kembali ingatannya terlintas di hasil pemeriksaan dokter Vany, dokter kandungan yang didatangi kapan hari itu. Hanna menghela nafas panjang, kalimat itu kembali terngiang-ngiang.


"Ya Allah...harusnya aku tidak terlalu larut dengan semua ini, aku masih punya Tuhan," Zahra menggelengkan kepalanya, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia berdiri dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja rias. Zahra mendekat kembali ke sajadah yang masih tergelar itu lalu dia melepaskan mukenanya.


Zahra melihat jam dinding yang sudah hampir jam 2 pagi. Zahra merebahkan dirinya di kasurnya, merapatkan selimutnya ke tubuhnya karena udara memang benar-benar dingin meskipun tanpa menggunakan AC di kamarnya. Hanna memiringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan semua yang ada di benaknya. Berharap esok hari dia bangun dalam keadaan yang lebih baik lagi, terutama suasana hatinya.


        Adzan subuh bergema, Zahra buru-buru bangun dan merapikan tempat tidurnya. Tidur yang meski singkat itu membuatnya sedikit merasa lebih baik. Zahra beregegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil air wudhu, menjalankan kewajibannya. Selepasnya dia membantu Ibunya memasak di dapur, menyiapkan masakan untuk sarapan bersama.


Mumpung masih berada di kampung halaman, Zahra berkeinginan untuk mengajak Dira jalan-jalan sepuasnya. Gadis kecil itu masih nyenyak tidur, biasanya jika sudah bangun maka suara berisik nan manja itu akan mengisi setiap sudut rumah ini.


Zahra menatap aneka lauk di meja makan, setelahnya dia menuju kamar Dira yang nampak masih bergelung dengan selimut warna pink bercorak kuda pony kesukaannya.


"Selamat pagi sayang, noh matahari sudah menyapa, bangun yuk...," Zahra membuka jendela kamar Dira agar udara pagi masuk menggantikan udara yang ada di kamar ini. Terlihat Dira menggerakkan tangannya dan membuka matanya perlahan.


"Bunda...," bisiknya.

__ADS_1


"Yok berdoa dulu," ajak Zahra sambil mendekat, duduk di ranjang Dira. Dira pun menurut dan berdoa. "Yok...mandi yok, selepas itu kita sarapan bareng,"


"Iya bun," ungkap Dira bersemangat, segera dia bangkit dan meninggalkan Zahra yang masih berada di sana. Zahra membantu merapikan selimut tebal Dira.


__ADS_2