
Zahra sudah selesai membersihkan diri, dan bersiap untuk menjalankan solat subuh. Nampak Kawa masih terlelap dengan tubuh berselimut penuh.
"Bang....sudah pagi, mandi dan sholat yuk" ajak Zahra dengan suara lembut. Kawa mengerjabkan matanya saat mendengar suara itu, dan melihat Zahra sudah mengenakan mukena.
"Jam berapa?" Kawa mengucek matanya, lalu duduk.
"Setengah 5" jawab Zahra dengan senyumnya. Kawa mengangguk, dia bergeser membuka selimutnya dan bergerak menuju kamar mandi membersihkan diri. Sedangkan Zahra mengaji sebentar sambil menunggu Kawa siap untuk sholat berjamaah.
Setelah acara resepsi tadi malam, keluarga sudah banyak yang pulang pagi ini. Begitu juga dengan keluarga Kawa, sedangkan keluarga Zahra masih di hotel, setelah ini mereka akan kembali.
Zahra merapikan hijabnya sebelum turun untuk sarapan bersama.
"Ayah dan Ibu bener mau balik sekarang?" tanya Kawa sambil membenahi lengan bajunya, melipatnya hingga ke siku.
"Iya bang, kenapa?"
"Apa nggak tinggal beberapa hari lagi?"
"Enggak, kan Dira harus sekolah juga bang"
Kawa berpikir sejenak, "Apa Dira sama kita saja ya yang?" tanya Kawa. Zahra tersenyum, dia tidak meragukan rasa sayang Kawa pada Dira, hanya saja jelas Ayah dan Ibunya tak akan membolehkan. Karena mereka pasti akan kesepian.
"Sesering mungkin nanti kita kesana, tapi kalau untuk tinggal di sini, kan abang tahu Ayah sama Ibu nggak mungkin ngebolehin, kesepian nanti mereka" Zahra tersenyum, mengusap lembut pipi suaminya itu. Kawa mengangguk.
"Kita sarapan dulu, pasti sudah ditunggu sama yang lain"
"Iya"
Mereka keluar kamar menuju restoran hotel, di sana sudah menunggu Pak Latif dan Bu Latif serta Dira.
"Maaf membuat Ayah dan Ibu menunggu" Kawa membungkuk, kemudian dia menarik sebuah kursi untuk Zahra.
"Terima kasih bang" sahut Zahra.
"Selamat pagi cantiiik" Kawa menyapa Dira yang pagi ini berkepang dua, nampak gadis kecil itu tertawa riang mendengar sapaan Kawa. Dia turun dari kursinya dan mendekat ke Kawa, meminta pangku.
"Oh ok, sini Om pangku" Kawa menarik tubuh gadis kecil itu ke pangkuannya.
"Eh Om mau sarapan itu dek" sahut neneknya, tapi gadis itu tidak peduli, dia merasa nyaman berada di pangkuan Kawa yang sama sekali tidak keberatan.
"Eh ini berapa ya bobotnya? berat nih" Kawa terkekeh, begitu juga Dira. Zahra tertawa kecil melihat tingkah suaminya dan keponakannya itu. Pak Latif menyunggingkan senyumnya, melihat cucunya bahagia.
"Masa sih Om aku berat?" Dira melihat wajah Kawa.
__ADS_1
"Ehm....coba sih Om angkat" Kawa mengangkat Dira dengan posisi duduk, membuat Dira semakin tergelak. "Oh enggak ternyata, ringan...yuk sarapan biar berat badannya langsung nambah banyak" Kawa mengajak Dira sarapan, gadis kecil itu mengangguk. Dira kembali ke kursinya dan makan sendiri dengan lahapnya.
"Apa ayah dan Ibu tidak mau menambah liburannya di sini?" tanya Kawa di sela sarapan yang sudah hampir usai.
"Enggak nak, cukup lah kami di sini, suatu saat nanti kalau Dira sudah libur sekolah, kami akan agendakan" sahut Ibu mertuanya dengan lembut.
"Bunda nggak ikut pulang?" tanya Dira polos. Pertanyaan ini membuat Zahra merasa melow, karena dia sudah menganggap Dira seperti anaknya sendiri yang setiap hari bertemu. Dan kini mereka akan jarang bertemu. Zahra menghela nafasnya, mengatur kalimat agar bisa tersusun dan diterima dengan baik oleh gadis mungil itu.
"Bunda sekarang rumahnya di sini, nanti Bunda akan sering nengok Zahra, kakek, dan juga nenek" jawab Zahra selembut mungkin. Mimik wajah Dira mulai mendung, karena merasa berat jika harus pulang tanpa Zahra.
"Iya sayang, nanti saat pulang kita jalan-jalan ya, kita beli balon, atau mainan kesukaan Dira" bujuk neneknya.
"Aku maunya Bunda" sahut Dira. Zahra semakin merasa sedih dengan perpisahan ini.
"Dira suka sekolah?" tanya Kawa.
"Suka Om"
"Kenapa?"
"Karena Dira punya banyak teman, bu guru juga baik-baik" celotehnya, sejenak lupa akan Zahra.
"Wah pasti sangat menyenangkan ya?" Kawa mengambil hati Dira, dia melambaikan tangannya meminta Dira mendekat. Gadis kecil itu pun turun dari kursinya dan mendekat ke arah Kawa, lagi-lagi Kawa memangkunya.
"Nah itu, misalkan nanti Dira nggak sekolah pasti teman-teman akan rindu, dan tentu Dira juga rindu kan sama teman-teman?"
Dira mengangguk, lalu dia melihat Kawa dengan mendongak ke atas.
"Nanti kalau pas liburan, Om janji ajak Dira jalan-jalan sepuasnya" hibur Kawa.
"Bener Om?"
"Iya donk, mau?"
"Mau Om" Dira nampak antusias.
"Ok, sekarang Dira harus janji sama Om" Kawa mengangkat jari kelingkingnya, Dira masih bingung dengan apa yang dilakukan Kawa.
"Janji? janji apa Om?"
"Berjanjilah...selama Bunda di sini, Dira yang akan menjaga nenek dan kakek, bisa?"
"Bisa" sahutnya ceria, Dira pun menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Kawa, layaknya benar-benar berjanji. Mereka semua lega melihat Dira yang kembali ceria.
__ADS_1
Sarapan usai, setelah siap dengan barang-barangnya. Pak Latif dan Bu Latif serta Dira bersiap kembali pulang. Zahra nampak sedih harus melepas kedua orang tuanya pulang, dan ini akan menjadi salah satu bagian perjalanan hidupnya.
"Titip Zahra, tolong jaga baik-baik" pinta Pak Latif, Kawa mencium punggung tangan mertuanya itu dan tersenyum serta mengangguk mantap, pasti berat untuk semua ini buat seorang ayah melepas putrinya. Kini tanggung jawab sudah berada di pundaknya sebagai seorang suami, dan dia harus melakukannya.
"Iya yah" jawabnya.
"Jaga Zahra ya nak Kawa" sahut Bu Latif.
"Iya Bu" Kawa berganti mencium punggung tangan wanita itu. Lalu Zahra bergantian memeluk kedua orang tuanya serta Dira yang nampak bengong.
"Ingat ya, jaga kakek dan nenek, daaaan....saat liburan nanti buruan kabarin Om, langsung Om jemput" Kawa tidak ingin membiarkan Dira yang bengong menjadi sedih.
"Siap bos" Dira nampak menyunggingkan senyum.
"Hati-hati ya sayang" Zahra berjongkok dan mencium pipi gadis kecil itu dengan gemas, lalu memeluknya erat untuk beberapa saat, karena mungkin akan lama mereka bisa berjumpa lagi.
"Iya, Bunda juga hati-hati ya..." Dira melepaskan tubuhnya dari pelukan Zahra, dia melihat Zahra yang hampir menangis. "Jangan menangis" pintanya. Zahra mengalihkan pandangan agar air matanya tidak tumpah, lalu dia tersenyum dan mengangguk.
"Jaga kakek dan nenek, ok?" Zahra menyentil hidung Dira dengan gemas.
"Iya bun"
Dan mobil akhirnya membawa mereka meninggalkan hotel ini. Tinggal Kawa dan Zahra yang masih tinggal. Mereka kembali ke kamar dan bersiap untuk berangkat bulan madu.
"Maaf ya sayang, hanya bisa membawa kamu bulan madu sekitar 3 hari, itupun di dalam negeri, abang janji nanti kalau sudah bisa berkompromi dengan pekerjaan, aku akan bawa ke luar negeri" Kawa melihat Zahra yang sedang membereskan barang-barang ke dalam koper.
"Nggak apa bang, aku tahu kok. Dan aku juga nggak menuntut kita kemana-mana, di rumah pun nggak apa-apa, asal sama abang aku senang" sahut Zahra sambil tersnyum, tangannya masih sibuk menata barang. Kawa yang melihat istrinya jongkok di lantai pun menyusulnya. Kawa memegang tangan Zahra.
"Betapa beruntungnya aku memiliki istri yanng begitu sederhana"
"Ih abang nggak tau aja" Zahra mengulum senyum.
"Apa?"
"Aku matre" gelak Zahra. Kawa ikut tergelak.
"Apapun yang kamu minta, selama aku bisa, pasti akan aku berikan" Kawa menimpali.
"Hiiiss gombal" Zahra kembali tertawa, ternyata Kawa pandai menggombal juga. Padahal bukan gombalan belaka kalau Kawa, dia bisa memberikan apapun yang Zahra mau.
Kawa menatap mata istrinya dalam.
"Apa?" tanya Zahra, Kawa tak berkedip dan masih saja menatap mata Zahra. Zahra dibuat kembali tak berkutik, dan Kawa mengangkat istrinya kembali ke ranjang sebelum mereka benar-benar akan meninggalkan hotel ini untuk menuju ke bandara.
__ADS_1