
"Mau sampai kapan lagi pak?" tanya Bu Latif pada suaminya. "Anak kita tinggal satu-satunya, jika Bapak tidak segera mengambil keputusan, bukan tidak mungkin kejadian Airin kedua akan terjadi" Bu Latif berkata dengan lugas. Kali ini tidak ada jawaban yang keluar dari suaminya tersebut, jika biasanya Pak Latif selalu berkata dengan keras dan lantang menolak.
"Diraa....jangan ada Dira kedua dalam keluarga kita" ucap Bu Latif dengan suara serak, kini dia menahan tangisnya.
"Lihatlah selama beberapa tahun Zahra kehilangan senyumnya, kukira dia baik-baik saja, kukira dia bahagia dengan semua ini, tapi aku sebagai ibunya akhirnya harus mengatakan ini, bahwa Zahra tidak baik-baik saja, Bapak harus tahu itu"
Sejenak, suasana hening tercipta di ruang tamu sore itu. Bu Latif menghela nafas panjang, Pak Latif terdiam dengan sorot mata tajam, namun bibirnya masih enggan mengeluarkan kalimat.
"Aku harus bagaimana bu?" kalimat itu membuat hati bu Latif sedikit bergejolak senang, mungkin saja suaminya telah luluh dengan keadaan.
"Lepaskanlah dia Pak...Zahra berhak bahagia, dia berhak mendapatkan kembali hidupnya" imbuh Bu Latif.
Pak Latif menghela nafas panjang.
"Lepaskanlah dia...." ucap Bu Latif lagi dengan penuh harap.
"Aku takut, jika aku melepaskannya dia akan bernasib sama dengan Airin" ujarnya lirih dengan tatapan mata tajam.
"Justru jika Bapak semakin mengekangnya, maka itu akan merampas hak hidupnya"
"Jangan ajari saya" Pak Latif tidak mau didikte, seperti biasanya, keras dan egois.
Bu Latif menghela nafas panjang kembali, apa yang dia perjuangkan jangan sampai menguap begitu saja. Dia harus berjuang untuk Zahra.
Di tengah ketegangan obrolan mereka di sore itu, muncullah Dira dengan wajah berseri-seri, baru saja dia mandi dan berganti pakaian berwarna pink dengan sepatu berwarna senada, rambut dikuncir dua dengan poni di depan.
"Eh...si cantik mau kemana?" tanya Pak Latif pada cucunya, segera Dira berjalan ke arahnya dan bergelendot manja di pangkuannya.
"Aku mau keluar sama Bunda" jawab Dira polos, mata beningnya melihat ke arah kakeknya tersebut.
"Oh...mau kemana?" tanya Pak Latif mencair jika ngobrol dengan Dira, sementara itu Bu Latif melihat hangatnya hubungan kakek dan cucu itu.
"Aku sama bunda mau ketemu om yang kasih kado ke aku"
__ADS_1
"Oh....?" Pak Latif mengerutkan dahinya. Bu Latif melihat ekspresi suaminya, dia sangat paham apa yang dipikirkan suaminya.
"Oh ya? om siapa?" Pak Latif mengintrogasi.
"Paaak.....biarkan, biarkan dia belajar berterima kasih" Bu Latif menengahi dengan suara lembut.
Pak Latif mengangguk mengiyakan, Dira bertepuk tangan bahagia.
***
Bagi Ayahnya, mungkin yang dilakukan Zahra adalah suatu pemberontakan yang tentunya bukan hal yang disukainya. Tapi dorongan dari Dira yang sangat ingin bertemu dengan Kawa membuatnya seolah tidak berdaya menolak keinginan gadis kecil itu. Pak Latif pada akhirnya menurunkan sedikit egonya dan membiarkan sejenak kesayangannya melakukan hal yang ingin dia lakukan.
"Ayah....kami berangkat" ucap Zahra pamit pada Ayahnya, di situ juga ada Ibunya. Ibunya mengangguk sambil melemparkan senyumnya, Pak Latif dengan ekspresi datarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Beberapa detik kemudian, Zahra dan Dira sudah tidak terlihat lagi. Mereka berangkat dengan mengendarai motor.
Sepanjang perjalanan yang tidak memerlukan waktu yang lama itu, tak hentinya Dira berceloteh riang.
"Apakah om Kawa sudah sampai?" tanya Dira sesaat setelah dia turun dari motor, helm kecil berwarna pink muda dia lepaskan dari kepalanya dan dibantu Zahra meletakkannya di atas jok motor.
"Mungkin" jawab Zahra.
"Lah kan bunda memang nggak tahu, coba kita masuk ke dalam ya...kita lihat, kalau memang belum datang berarti kita harus menunggu" jawab Zahra lagi. "Seharusnya sudah datang, kan ini sudah jam 4" Zahra melihat jam tangannya.
Mereka melangkah masuk ke dalam, sebuah cafe dengan tema saung.
Sudah setengah jam lebih Kawa menunggu di dalam, kebetulan hari ini dia libur kerja, tidak ingin dia membuat Zahra dan Dira menunggu, sehingga dia memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu.
Dira menggandeng tangan Zahra, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, dan melihat sosok yang dia cari. "Itu Bun" Dira menunjuk seseorang. Zahra melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Dira, terdiam sejenak, kemudian melangkahkan kaki dengan perlahan. Hatinya terasa agak ragu, tapi hal tersebut kalah dengan keinginan Dira.
"Om..." sapa Dira dengan riang saat melihat Kawa, kemudian dia meraih tangan Kawa dan salim.
"Oh hai..." Kawa mengelus kepala Dira. Zahra memperhatikan apa yang di depannya tersebut sambil tersenyum.
"Maaf sudah menunggu"
__ADS_1
"Enggak....ayo duduk" Kawa meminta. Dira mengangguk dan duduk di depan Kawa, Zahra mengikuti dengan agak kikuk. Mereka terhalang oleh meja.
"Karena om nggak tahu apa kesukaan Dira, maka sekarang Dira pesan sesuka Dira" Kawa menyerahkan buku menu kepada Dira.
"Dira kan belum bisa baca Om, belum lancar" ceplos Dira.
"Oh begitu ya...jadi baiklah biar bunda yang bacain Dira mau apa" Kawa mencoba mengakrabkan diri pada Dira. Ini adalah pertemuan kedua, tapi gadis kecil itu nampak sudah akrab dengannya. Dia yang tidak terbiasa bersama anak kecil pun serasa nyaman oleh Dira.
"Iya, biar Bunda saja" Dira memberikan buku menunya pada Zahra.
"Biar Om yang pilih dulu" Zahra menyerahkan buku menu tersebut pada Kawa.
"Aku ikut kamu" Kawa menatap Zahra sambil tersenyum tipis, membuat Zahra sedikit salah tingkah.
"Aku ayam goreng saja bunda" Zahra nyeletuk.
Pesanan sudah ditulis di sebuah kertas, mereka menunggu pesanan makanan masing-masing. Dira sibuk membenahi posisi duduknya. Zahra hanya diam sambil sesekali melihat Dira.
"Om om...." panggil Dira pada Kawa.
"Ya?" jawab Kawa lembut sambil melihat gadis itu.
"Terima kasih ya Om atas kadonya...kalau Om suatu hari ulang tahun, kasih tahu Dira ya....nanti Dira kasih kado juga" ujarnya polos. Kawa tersenyum mendengar ucapan polos Dira.
"Iya siap, sama-sama ya...semoga kamu suka kadonya, soalnya om nggak tahu apa kesukaan Dira" jawab Kawa.
"Suuukaaa"
Zahra kembali tersenyum melihat apa yang ada di depannya, Dira begitu senang dengan pertemuannya dengan Kawa, bahkan dia sesekali duduk di dekat Kawa dan bermain dengan laki-laki itu. Tak banyak kata yang terucap dari Zahra, karena ini sebenarnya adalah acara Dira dan Kawa, bukan dirinya.
Pertemuan singkat telah usai, Zahra dan Dira pulang, begitu juga dengan Kawa. Mereka pulang dengan kendaraan masing-masing.
Senja menandakan bahwa malam akan segera tiba, Kawa menatap langit-langit kamarnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Kawa membaca pesan tersebut dengan kerut di keningnya.
__ADS_1
"Aku ada tempat keren, besok kita ketemu ya..." Pesan tersebut tertulis di ponselnya. Kawa belum membalas pesan tersebut dan masih sibuk dengan pikirannya.