Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 5 : Bertemu Big Bos


__ADS_3

“Buruan, nanti kita terlambat!!” teriak Rendra pada Kawa dari luar, dia sedang duduk di lantai sambil membenahi tali sepatunya. Sudah bersiap dengan kaos dan juga celana seragam minimarket. Kawa yang mendengar teriakan Rendra segera keluar dari kamarnya sambil menjinjing sepatunya keluar.


“Nanti Bos marah kalau kita terlambat” imbuh Rendra lagi seperti emak-emak yang sedang ngomel.


“Kenapa? Biasanya kamu nggak pernah takut telat, kenapa mendadak disiplin?”


“Besok-besok boleh, sekarang jangan telat dulu, kan malu, hari pertama” ucapnya, dia bangkit setelah beres membenahi tali sepatunya. Lalu dia mendorong motor matic warna hitam menuju pagar besi bercat putih. Kawa segera menyusul Rendra yang sudah siap membawa motor tersebut.


“Sudah ayo” Kawa menepuk pundak Rendra. Tak berapa lama, motor pun melaju di jalanan beraspal yang masih basah oleh sisa hujan tadi malam. Hari ini matahari nampak tersenyum cerah.


“Gara-gara aku kesiangan, jadinya sekarang kelaparan” Rendra mengusap perutnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih sibuk dengan stang motornya.


“Nanti lah nyari sarapan” Kawa menjawab.


Hanya 10 menit mereka tiba di sebuah minimarket tempat mereka akan bekerja, hari ini adalah hari pertama mereka.


Rendra memarkir motornya khusus di parkiran karyawan, toko nampak baru saja dibuka, sudah ada 2 karyawan lainnya yang membersihkan toko. Satu laki-laki dan satu perempuan.


Kawa membuka helmnya, lalu meletakkan di jok motor, begitu juga Rendra. Tak lupa dia berkaca di kaca spion, untuk memastikan bahwa rambutnya masih rapi. Sementara Kawa sudah masuk ke dalam toko.


“Permisi” sapa Kawa pada 2 karyawan lainnya.


“Pagi…karyawan baru ya?” Tanya karyawan perempuan. “Alya” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.


Kawa menyambut uluran tangan perempuan tersebut. “Kawa” jawabnya singkat.


“Dit, ini teman baru kita, kenalin” teriak Alya pada karyawan laki-laki yang berada agak jauh darinya.


“Didit” ucap laki-laki tersebut.


“Kawa” balas Kawa.


“Eh…kenalin aku juga, Rendra…” Rendra mengulurkan tangannya, bergantian antara Alya dan Didit. Selebihnya Alya dan Didit memandu cara kerja mereka, dimulai dari menyapu, ngepel, dan menata barang di rak. Rendra dan Kawa mengikutinya.


            Nampak sebuah mobil berhenti parkir di depan minimarket, terlihat laki-laki gemuk dengan kumis yang memenuhi hampir bibir bagian atas. Rambutnya terlihat memutih, meskipun sebagian masih hitam.


“Ehmmm” dia berdehem sesaat memasuki area toko sebelum memasuki ruang kerja yang ada di sebelah toko.


“Selamat pagi Bos” sapa Didit dan Alya.


“Hehm…ya” jawabnya dengan suara yang diberat-beratkan. Perutnya yang gendut membuatnya seperti orang hamil.

__ADS_1


“Suruh karyawan baru menghadap saya” ucapnya lagi, lalu kembali keluar toko.


“Baik Bos” jawab Didit, tak menunggu waktu lama, dia segera memanggil Rendra dan Kawa untuk menemuinya di ruang samping toko.


Saat memasuki ruangan yang tidak luas itu, Kawa hanya mendapati sebuah kursi hitam di balik meja yang menghadap ke belakang, sehingga tidak terlihat ada orang di ruang sana.


“Permisi pak” Kawa mengetuk pintu yang sudah dia buka. Seketika, kursi hitam tersebut berputar, memperlihatkan sang empunya ruangan.


Kawa menganggukkan kepala sebagai sapaan awal, diikuti Rendra yang sebenarnya ingin tertawa melihat wajah kepala toko tersebut yang seolah penuh dengan kumis itu.


“Ehm…silahkan duduk” ucapnya sambil mempersilahkan Kawa dan Rendra duduk di kursi seberangnya.


“Panggil saya big bos” ucapnya.


“Ehek” suara Rendra menahan ketawanya, Kawa menginjak kaki sahabatnya itu agar bisa mengontrol perilakunya. Rendra menutupi mulutnya agar benar-benar tidak menyembur. Bagaimana bisa dia minta dipanggil big bos. Begitulah pikir Rendra.


“Kalian sebagai karyawan baru di sini harus banyak belajar dari Didit dan Alya, nanti akan ada pembagian shift kerja, jadi semoga segera beradaptasi dengan baik”


“Baik Pak…eh big bos” jawab Kawa lupa.


“Nama saya Broto” ungkapnya sambil menunjukkan kartu yang tertempel di saku depan dadanya.


“Eh kamu…” ujar laki-laki tambun itu menunjuk Kawa.


“Iya Bos?” Tanya Kawa.


“Kenapa wajahmu tidak asing ya?” Tanya Pak Broto, tangan kanannya berada di dagunya sambil mencoba mengingat-ingat.


“Ya iyalah” gumam Rendra, tentu tidak sampai terdengar oleh Pak Broto.


“Oh iyakah Bos? Mungkin wajah saya ini memang pasaran” Kawa merendah, secara wajahnya dengan wajah Saga sangat mirip sekali.


“Ha…ha…ha, iya iya, sekarang wajah itu banyak yang mirip, beda dengan wajah saya ini” ucapnya sambil terbahak. Kawa melihat orang yang ada di depannya dengan tatapan datar. Sementara Rendra kembali harus berjuang menahan tawanya agar tidak meledak sekarang juga. Mengapa ada orang seperti pak Broto.


“Saya heran, Kawa dan Rendra” Pak Broto membuka catatan yang ada di depannya saat membaca nama Kawa dan Rendra.


“Iya Bos, saya Kawa” Kawa menunjuk dirinya.


“Dan saya Rendra” sahut Rendra.


“Ya…ya…saya heran, mengapa kalian direkomendasikan ke toko ini, ah tapi ya sudahlah…mungkin kalian memang butuh kerja, kerjalah yang baik”

__ADS_1


“Baik Bos” jawab Rendra mantap.


“Silahkan kalian kembali bekerja”


            Setelah keluar dari ruangan Pak Broto, Rendra benar-benar tidak bisa mengontrol tertawanya. Pecah begitu saja.


“Duuuh big boss…..sekelas putra mahkota saja diam saja, dia malah minta dipanggil big bos, ada-ada saja sih” ucapnya sambil masih melanjutkan tawanya.


“Biarin lah, biar seneng” ujar Kawa sambil tersenyum tipis.


“Jangan sampai kamu nanti ditindas Wa, wah nggak beres tuh kepala toko, kamu bisa pecat dia” ucapnya.


“Sssstttttt….” Kawa menutup mulut Rendra agar tidak berbicara keras, takutnya ada orang lain yang mendengar.


“Amaaan, tidak akan ada yang tahu” Rendra membela diri.


“Selama tidak membuat kerugian toko, tidak korupsi, tidak semena-mena pada yang lain, biarin lah” bela Kawa, dia menganggap sikap Pak Broto wajar, malah terlihat konyol dan menghibur.


“Iya sih. Ah lapar, ditambah lagi menghadapi kekonyolan dia malah membuatku semakin lapar” sergah Rendra.


“Ya sudah, izin sana sama Didit, bilang mau beli sarapan bentar, kamu saja, aku tinggal di sini saja” jawab Kawa sambil masuk toko.


Rendra menyetujui usul Kawa, dia segera meminta izin untuk keluar sebentar membeli sarapan tanpa Kawa.


            Didit mengantar Rendra pergi ke warung langganannya yang tidak jauh dari minimarket.


“Ini warung nasi uduk Mak Irah, enak banget rasanya, mantul” ucapnya.


“Ah masa sih?” Tanya Rendra sambil memarkir sepeda motornya.


“Iya, nanti kamu rasain deh”


“Mak, beli 2 ya?” ujar Didit.


“Siap Mas, buat siapa?”


“Ini buat Masnya, saya sudah sarapan tadi dari rumah”


“Oh Baik Mas” jawab seorang wanita yang dipanggil Mak Irah itu, dengan cekatan dia membuat pesanan yang diminta.


            Sementara itu Kawa sedang menempel harga barang di barang yang akan didisplay di rak belanjaan. Mencoba menikmati pekerjaan barunya sebagai karyawan toko.

__ADS_1


__ADS_2