
"Mau nambah apalagi Mbak?" tanya Kawa ramah pada pembeli yang ada di depannya. Tidaklah asing, karena dia adalah gadis yang tadi pagi dia kejar dengan motornya.
"Oh sudah, ini saja" ucap Zahra tanpa memperhatikan wajah lawan bicara, kedua mata indahnya sedang tertujku pada tasnya, tangan kanannya mencari-cari dompet yang ada di dalamnya.
Kawa menghitung harga belanjaan yang dibeli oleh Zahra, dia memperhatikan apa yang dibeli oleh gadis itu. berbagai makanan ringan yang biasanya disukai anak-anak kecil.
"Semuanya RP. 75.000" ucap Kawa ramah.
"Oh ini" Zahra menyerahkan uang 2 lembar 50.000 an. Tak sengaja Zahra melihat wajah laki-laki yang ada di depannya. Ingatannya tertuju pada wajah tadi pagi.
"Eh Masnya, terima kasih tadi pagi sudah membantu" ucapnya dengan seulas senyum tipis yang hampir tidak kelihatan.
Kawa mencetak struk belanjaan Zahra, dan memberikan uang kembalian pada gadis itu.
"Sama-sama Mbak" jawab Kawa ramah. Zahra menerima struk belanjaan dan uang kembalian dari Kawa. "Terima kasih sudah belanja di toko kami, silahkan datang kembali nanti" imbuh Kawa.
Zahra menenteng tas belanjaan yang berisi makanan-makanan ringan, sepulang mengajar dia terbiasa belanja makanan ringan untuk di rumah.
"Ehem...." Alya berdehem melihat Kawa masih memperhatikan Zahra hingga menghilang dari pandangannya. Dia sadar saat Alya mendekat. "Cantik ya Mas?" Alya terkikik.
"Eh Alya" Kawa segera mengalihkan pandangannya pada Alya yang menggodanya. Memang tidak ada percakapan lebih dengan gadis itu, tapi entah mengapa baginya ada yang menarik.
"Selamat soreeeee" sapa Rendi sesaat setelah membuka pintu toko. Kawa yang melihat Rendi datang, segera beranjak dari tempatnya. Itu artinya jam kerjanya sudah usai, dan dia akan bersiap pulang. "Ada apa ini kok kayaknya menarik pembicaraan kalian?" serobot Rendi.
"Ada yang sepertinya jatuh cinta ini Mas" Alya masih menggoda Kawa.
"Wow....kabar bagus, siapakah?" ujar Rendra sambil berdiri di meja kasir. Kawa melirik ke arah Rendra yang cekikikan.
"Sama gadis berhijab kah?" imbuh Rendra, Kawa yang sudah bersiap meninggalkan toko, kembali menghentikan langkahnya. Rendra seperti cenayang. Dia tidak menyahut, setelah melihat Rendra, dia kembali mendorong pintu toko dan meninggalkan mereka berdua. Dia tidak marah sama sekali.
***
__ADS_1
"Bundaaaaa" teriak gadis kecil sesaat setelah melihat Zahra datang dan belum sempat melepas helm warna pink mudanya itu.
"Assalamualaikum" sapa Zahra pada gadis itu, tangannya meletakkan helmnya di jok motor.
"Waalaikumsalam" jawab gadis itu sambil meraih tangan Zahra. "Bunda bawa apa?" tanya gadis kecil itu nyaring sekali, terlihat sangat bahagia sekali melihat Zahra datang. Zahra meraih kantong kresek yang ada di motornya.
"Hihhh snack kesukaanku" teriaknya bahagia. "Terima kasih Bunda...."
"Sama-sama sayang" Zahra menggandeng tangan mungil gadis itu. Gadis itu berjalan dengan riang, tangan kanannya menggenggam tangan Zahra, tangan kirinya memegang kresek.
"Zahra....!" suara yang sangat dia kenali itu tengah memanggil namanya.
"Iya Yah?" Zahra menyahut, dia menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan gadis kecil itu.
"Dira.....Dira pergi ke dalam dulu ya, silahkan dimakan dulu apa yang ada di kresek ini, Bunda mau bicara sama Kakek" ujar Zahra sambil membungkuk.
"Iya Bunda" jawab Zahra sambil melepaskan genggaman tangannya yang tadi bertaut pada jemari Zahra. Dengan langkah kecilnya dia meninggalkan Zahra. Zahra tersenyum melihat tingkah polah Dira, ya gadis kecil itu bernama Dira.
"Apa yang kamu pikirkan tentan suami kamu?"
Zahra terdiam sejenak, lagi-lagi Ayahnya membahas hal itu. Seolah dia kehabisan kata untuk merangkai jawaban yang harus keluar dari mulutnya.
"Apakah kamu memang percaya pada berita-berita yang ada itu?" tanya Ayahnya lagi. Dalam hati kecilnya, Zahra merasa bahwa Ayahnya yang tidak bisa menerima kenyataan.
"Yah....sudah hampir 2 tahun lamanya..."
"Sudah....Ayah mengerti arah ucapanmu, intinya kamu menganggap dia sudah tidak ada, begitukah?" Ayahnya menegaskan.
Zahra menunduk.
"Tadi ada orang yang melamarmu" ucap Ayahnya datar. Zahra sontak melihat Ayahnya, terkejut mendengar kalimat tersebut.
__ADS_1
Siapakah orang itu? Zahra kembali menunduk.
"Apa selama ini kamu sedang menjalin hubungan dengan orang yang Ayah tidak tahu?" tanya Ayahnya dengan nada agak meninggi.
Buru-buru Zahra menggeleng, bahkan akrab dengan lelaki pun tidak. Yang dia lakukan hanya kerja saat berada di luar rumah, selepas mengajar dia akan pulang ke rumah dan bermain dengan Dira.
"Dia seolah mencoreng muka Ayah, bagaimana dengan mertua kamu jika dia sampai tahu kejadian ini? hah?" murkanya.
Zahra masih tertunduk, tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamu jangan bohong Zahra"
"Maaf Ayah, tapi bukankah Ayah tahu jika Zahra tidak pernah membohongi Ayah tentang semua hubungan Zahra?" Zahra mencoba membela diri.
Ayahnya melihatnya dengan tajam, Zahra kembali menunduk.
"Lantas bagaimana dia bisa datang melamar kamu? bahkan Ayah tidak tahu menahu latar belakangnya, kurang ajar sekali dia melamar istri orang!" imbuhnya.
Zahra menghembuskan nafasnya perlahan, "Ayah....sejauh ini Zahra tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun seperti permintaan Ayah dan rasa tanggung jawab Zahra pada su..suami Zahra" jawabnya tercekat. "Jadi Ayah jangan khawatir, kalaupun ada yang datang kesini, itu bukan karena Zahra Yah" imbuhnya.
Zahra pamit undur diri dari Ayahnya, dia segera masuk ke kamarnya berganti pakaian dan melakukan ibadah sholat. Setelahnya dia duduk bersimpuh di atas sajadah, sesekali dia mengambil nafas panjang melepaskan gundah hatinya.
Ingatannya kembali pada peristiwa yang lalu, saat berita itu dia dengar. Di mana ada beberapa prajurit yang hilang di medan perang. Saat itu suaminya menjadi salah satu yang hilang dan tidak ditemukan hingga kini. Banyak yang meyakini bahwa dia memang meninggal, tapi entah keyakinan apa yang membuat Ayahnya selalu yakin jika suaminya itu masih hidup.
Sehari setelah pernikahan, di mana seharusnya Zahra merasakan kebahagiaan sebagai pengantin baru pun sirna karena suaminya harus kembali bertugas di daerah yang sedang bertikai. Dia rela melepas suaminya pergi hingga kini dia tak pernah kembali.
Ketika awal-awal dia masih meyakini bahwa berita tersebut hoax, dan suaminya akan kembali. Namun pada akhirnya dia ikhlas dan meyakini jika inilah takdir dari Tuhan.
Meskipun pernikahannya dilakukan dengan jalan perjodohan, namun Zahra menerimanya. Tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini.
Zahra melepas mukenanya dan melipatnya, kemudian menyimpannya di rak kecil dekat rajangnya. Dia berhenti sejenak menatap sebuah foto pernikahan dirinya dan suaminya.
__ADS_1
"Mas...semoga kamu bahagia di manapun berada" ucapnya sambil mengusap wajah yang ada di foto tersebut. "Ya Allah bantu aku menjalani kehidupanku selanjunya, semoga kelak Ayah mengerti apa yang aku rasakan" ujarnya lirih. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan matanya.