Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 14 : Setelah Kemarin


__ADS_3

Zahra merapikan sajadah dan mukena yang baru saja dia gunakan untuk shilat subuh, lalu dia letakkan di sebuah lemari kayu kecil yang ada di samping ranjangnya. Dibukanya jendela kamarnya, masih terlihat agak gelap meskipun seusai shalat subuh tadi dia mengaji dan lanjut membaca sebuah buku. Dihirupnya udara pagi itu dalam-dalam, terasa sangat sejuk dan menenangkan. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin, di ulang tahunnya Dira, dia melihat Kawa yang nampak dengan ekspresi datar.


"Apakah dia kecewa melihatku?" tanyanya lirih, masih di depan jendela kamarnya. Segera Zahra menggelengkan kepalanya, mengapa dia harus pusing memikirkan hal itu. Toh Kawa juga belum tentu memikirkannya.


"Ya Allah....hilangkan perasaan ini" Zahra memejamkan matanya.


Tidak mau terlalu memikirkan perasaannya, Zahra segera keluar kamar, membuka pintu kamar Dira. Dilihatnya bocah itu masih meringkuk dengan selimut warna pink nya. Zahra duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajh Dira yang imut, lalu dia mengelus pipi Dira. Sengaja Zahra belum membangunkan Dira, karena Dira tidur larut malam semalam. Dira terlalu larut dalam kegembiraan ulang tahunnya kemarin dan sibuk membongkar kado dari teman-temannya.


Zahra beralih ke dapur membantu Ibunya memasak sebelum Zahra berangkat mengajar.


"Sudah hampir selesai, kamu siap-siap saja untuk mengajar" sahut Bu Latif.


"Iya Bu, maaf Zahra tidak membantu pagi ini"


"Ibu tahu kamu kelelahan" Ibunya tersenyum. "Oh ya Zahra..."


Zahra menghentikan langkahnya.


"Ya Bu?"


"Siapa kemarin itu?"


"Kemarin?" Zahra mengerutkan alisnya. "Oh..Tania?"


"Kalau Tania Ibu sudah pasti tahu"


"Oh..." Zahra belum melanjutkan kalimatnya.


"Sepertinya Tania sudah akrab, teman kamu juga?" tanya Bu Latif lembut, tangannya mengaduk sayuran yang ada di panci, sejurus kemudian dia mematikan nyala api kompor.


"Ehm...bukan Bu..hanya tahu saja"


Bu Latif tersenyum, "Ya sudah, kamu siap-siap sana"


"Iya Bu"


Zahra meninggalkan Ibunya yang masih di dapur menyelesaikan memasaknya.


        ***


Kawa sengaja ingin mengajukan cuti pada big bos untuk beberapa hari. Pagi sebelum Rendra bangun dia sudah bersiap, bahkan tanpa pamit dia meninggalkan Rendra. Entah apa yang terjadi, dia seperti anak kecil yang sedang ngambek.


Dengan mengendarai motornya, dia berhenti di pinggir jalan. Sambil menikmati matahari muncul, dia memandangi hamparan sawah yang menghijau, orang-orang yang mulai berangkat bekerja. Entah apa yang sedang melukai hatinya.


Matahari mulai merangkak naik, dia masih setia berdiri di samping motornya sambil melihat lalu lalang orang lewat. Dan apa yang dinanti pun tiba. Dari kejauhan, dia sudah sangat yakin jika yang mengendarai motor dari jauh itu adalah orang yang dinanti.


Dengan tekad bulat, dia melambaikan tangannya kepada orang itu, meminta berhenti. Gadis berjilbab yang tidak lain adalah Zahra berhenti meskipun awalnya dia ragu.


Jantung mereka berdegub satu sama lain meskipun satu sama lain tidak mengetahuinya.


"Kenapa aku jadi begini?" batin Kawa saat melihat Zahra mematikan deru motornya.


"Maaf mengganggu" Kawa memulai pembicaraan, dia tidak berani menatap mata Zahra yang bening, jilbab warna biru muda yang digunakan Zahra semakin membuat Zahra terlihat sangat cantik di mata Kawa.


"Ada apa? ada masalah mengenai kemarin?" tanya Zahra.


"Oh tidak....hanya..." Kawa mengambil tas ranselnya dan membuka reseletingnya, mencari sesuatu di dalam tasnya. Sebuah kado berukuran sedang berbalut kertas kado warna pink bergambar kuda pony.


"Untuk Dira" ucap Kawa sambil menyerahkan bingkisan tersebut.

__ADS_1


Zahra masih memandangi bingkisan tersebut, dia berfikir apa yang ada di benak Kawa? ingin rasanya dia menjelaskan semuanya pada Kawa, tapi apa pentingnya?.


"Oh terima kasih, nanti aku sampaikan, pasti dia senang" ucap Zahra sambil menerima bingkisan tersebut.


"Sama-sama...salam buat Dira"


"Iya nanti disampaikan"


"Pasti dia senang punya Ibu seperti kamu" ucap Kawa sambil tersenyum, dia harus berbesar hati"


Zahra mendongak, tak ada kalimat yang keluar, lalu dia tersenyum kecil.


"Aku pamit, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Kawa melihat Zahra kembali menyalakan mesin motornya dan kembali melaju menuju sekolah tempat dia mengajar, sedangkan Kawa menghela nafas panjang, lalu tersenyum.


"Mari kita pulang" ucapnya sambil menertawakan dirinya sendiri.


        ***


Melihat anak sulungnya yang tiba-tiba pulang, membuat Ganis merasa sangat senang. Tidak biasanya Kawa pulang tiba-tiba dan memutuskan mengambil cuti.


"Kamu bosan tinggal di sana? kembalilah ke rumah ini" ucap Ganis, dia memperhatikan anaknya itu terlihat semakin kurus dan kurang terawat. "Kamu kurang tidur?" tanya Ganis lagi. Kawa menggeleng.


"Lalu kenapa? seperti orang kurang tidur?"


"Banyak kerjaan Bunda...capek kali ya, jadi begini" Kawa mencoba tertawa.


"Jangan bohong..." ujar Ganis.


"Lah...." sergah Kawa.


"Kenapa bang? patah hati lagi? atau masih patah hati sama Nadin?" ceplos Biru tanpa tedeng aling-aling. Kawa tidak membalas pertanyaan adiknya. Dia memegang wajah adiknya, terlihat lebam di pelipis kiri Biru.


"Ini kenapa begini?" tanya Kawa.


"Jatuh" jawab Biru sekenanya"


"Bohong"


"Enggak bang, beneran ini jatuh" Biru menyingkirkan tangan Kawa, dan mengusap pelipisnya.


"Kenapa bun?" tanya Kawa pada bundanya. Ganis mengangkat kedua bahunya, bahkan Ganis sudah bertanya berkali-kali pun jawaban Biru tetap sama, Jatuh!.


"Ya sudah, Bunda ke belakang dulu bantu mbak siapin makan siang"


"Ya bun..." jawab Kawa dan Biru hampir bersamaan.


Melihat Bundanya sudah pergi ke belakang, Biru berbisik pada Kawa.


"Abang kenapa? cerita gih" Biru tersenyum mengejek, Kawa terlihat gemas melihat tingkah adiknya tersebut.


"Kamu yang kenapa? berkelahi sampai begini?" Kawa balik bertanya.


"Ye....ditanya malah balik bertanya"


"Abang dulu cerita"

__ADS_1


"Enggak" Kawa menolak.


"Abang jangan gitu dong....abang patah hati lagi ya? sama siapa?" Biru sangat penasaran, dia sangat hapal abangnya, jika wajahnya suduh kusut jeles tidak berbinar, bisa dipastikan bahwa ini adalah urusan hati. "Nah...abang diam, bener kan berarti?"


"Sok tahu!" Kawa masih menyangkal.


"Iya..iya aku cerita dulu deh, tapi abang janji ya...setelah ini abang cerita" Biru mengalah.


"Hem" Kawa hanya berdehem.


Biru memperbaiki posisi duduknya, kini dia menaikkan kedua kakinya, duduk bersila di atas sofa, Kawa melihat tingkah adiknya itu dengan tatapan heran, adiknya yang cantik namun sedikit tomboy.


"Ya...aku habis bertengkar" Biru tersenyum menyeringai, memperlihatkan deretan giginya. Kawa melotot mendengar Biru membuka cerita.


"Abang jangan marah, kalau marah aku nggak lanjut nih ceritanya" Biru mengancam. Kawa menurut, kini dia tak lagi melotot.


"Ya...bagaimana lagi, dia nantangin katanya aku dibilang ngrebut pacar dia"


"Jadi kamu bertengkar sama cewek juga?"


Biru mengangguk, Kawa tertawa terbahak-bahak. Biru manyun.


"Jadi kamu kalah sama cewek? kamu kan cowok! kenapa kalah sama cewek?" tawa Kawa semakin menjadi jadi, puas meledek adiknya.


"Sudah ah...ah abang ini suka sekali membully ku, gantian abang yang cerita"


"Kan kamu belum selesai ceritanya"


"Sudaaaaah" Biru melempar bantal sofa ke arah Kawa, dengan sigap Kawa menangkap bantal tersebut. "Iya kan...abang patah hati kan?" Biru mencoba mengulik.


"Ya....." jawab Kawa pasrah.


"Eh bener kan, nah...nah...siapa bang? apa dia cantik? lebih cantik dari Nadin?"


"Jangan sebut nama itu lagi" Kawa protes.


"Oh baik, lebih cantikan mana sama aku kalau begitu?"


"Dia cantik, dia berhijab"


"Oh My God.....serius bang?" Biru terkejut.


"Kenapa?" tanya Kawa datar.


"Em nggak apa-apa sih. Lalu kenapa abang patah hati? ditolak?" Biri mencoba menebak.


"Sok tahu lagi"


"Makanya abang ceritanya yang lengkap, aku kan penasaran"


"Dia sudah punya anak, berarti dia sudah punya suami"


Biru terdiam saat Kawa mengatakan hal itu, dia mengambil nafas panjang dan menatap abangnya dengan lembut.


"Abang...siapa tahu dia tidak punya suami, atau suaminya meninggal" Biru mencoba menenangkan.


"Entahlah" Kawa melempar Biru dengan bantal sofa lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


"Bang...abang....jangan pergi...ayo cerita dulu sini...ah abang nggak asik ah" teriak Biru.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel terbaru author yang berjudul "Suamiku Seleb Hits" ya....


__ADS_2