Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 49 : Sah


__ADS_3

Tidak berlebihan rasanya jika Kawa terkesima dengan kecantikan Zahra. Perempuan itu datang dengan dandanan yang sangat manglingi. Sebuah baju terusan dengan berhiasnkan batu permata, baju panjang dengan warna putih itu membalut tubuh Zahra. Terlihat sangat anggun.


Apakah itu salah satu efek dia tidak melihat Zahra beberapa hari karena pingitan? Zahra datang ke meja akad dengan diapit kedua orang tuanya. Di belakang Zahra nampak Tania dan juga Dira. Kawa sudah bersiap duduk di salah satu kursi.


Zahra yang dengan anggun kemudian duduk di samping Kawa.


Jika biasanya Kawa yang tak pernah merasa grogi bertemu dengan berbagai macam klien, berbeda dengan sekarang. Dia merasa sedikit deg-degan.


Deretan keluarga Kawa berada di barisan kursi tak jauh dari meja akad. Biru, Ganis, Saga, dan juga Oma Rima nampak seragam dengan baju warna krem.


Mereka sudah duduk berdua di depan penghulu, dan akad nikah akan dimulai sebentar lagi.


Sebuah ballroom hotel yang mewah itu semakin terlihat mewah dengan hiasan bunga beraneka warna, sungguh pemandangan yang sangat indah.


        Akad nikah pun berjalan dengan lancar hanya dengan satu tarikan nafas, pernikahan antara Kawa dna Zahra pun dinyatakan sah. Dan keluarga pun merasa sangat lega dibuatnya.


Pak Latif yang sedari tadi tegang, pun sedikit mencair. Bu Latif tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat putrinya menikah dengan orang yang dia cintai.


    Sementara Ganis pun ikut terharu dengan pernikahan putranya tersebut. Kini putranya sudah menikah dengan seseorang, pilihan hatinya. Seusai akad, mereka melakukan foto sesi sebelum acara resepsi yang akan digelar malam nanti. Semua larut dalam kegembiraan.


        Sambil menunggu acara nanti malam digelar, mereka menikmati kebersamaan di hotel dengan canda tawa.


***


"Maaf kak, hotel ini sudah full booked, jadi kami sudah tidak menerima tamu" ujar resepsionis dengan ramah pada Nadin.


"Saya tamu di sini" Nadin berbohong.


"Mohon maaf, jika anda salah satu dari tamu pernikahan Tuan Kawa, mohon tunjukkan undangannya" permintaan itu terdengar sopan. Nadin yang memang bukan menjadi salah satu tamu undangan pun dibuat bingung haru bagaimana.


"Saya lupa membawanya"

__ADS_1


"Mohon maaf Nona, kami tidak bisa memberikan anda akses masuk, kami mohon maaf sekali" ujarnya sambil mengangguk.


Nadin merasa kesal mendapat perlakuan tersebut, dia yang sedang menyamar itu benar-benar kehabisan akal.


"Apa pernikahannya sudah dihelat?" tanya Nadin kembali pada resepsionis itu.


"Sudah Nona, sudah tadi pagi"


Nadin mendengus kesal, dia memang sudah tidak peduli dengan citranya. Yang dia inginkan, dia hanya ingin Kawa juga menderita seperti dirinya. Nadin membalikkan badannya hendak kelua hotel, dan tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf" ujar Rendra yang hampir membuat Nadin terjatuh.


Nadin berusaha kembali berjalan setelah hampir terhuyung, dia hanya melihat sekilas wajah Rendra. Takut jika penyamarannya terbongkar, Nadin bergegas keluar hotel tanpa menoleh lagi. Rendra menyipitkan mata, karena merasa tak asing dengan perempuan yang barusan dia lihat.


"Siapa?" tanya Rendra pada resepsionis.


"Mohon maaf, kurang tahu Tuan, hanya saja beliau ingin masuk ke hotel dengan alasan lupa membawa undangan" jawabnya. Rendra mengernyit, karena setahu dia. Semua tamu hampir sudah berada di hotel ini jika yang berasal dari luar kota.


        ***


Satu per satu tamu undangan hadir di ballroom hotel, pengantin sudah berada di tempatnya dengan didampingi kedua orang tua masing-masing di sampingnya. Tak berhenti senyum mengembang di wajah-wajah mereka. Tak hanya kolega, tamu penting kenegaraan juga turut hadir dalam pernikahan ini. Tak lupa para wartawan juga sibuk mengabadikan dari ruang yang disediakan khusus untuk mereka.


"Selamat ya buat kalian" Mayra menyalami Kawa dan Zahra bergantian, lalu Zahra memeluk Mayra.


"Terima kasih banyak" Zahra mengelus pundak sahabatnya itu.


"Bahagia selalu" Mayra tersenyum tulus ke arah Zahra.


"Jaga Zahra baik-baik" Mayra melihat ke arah Kawa, lalu disambut anggukan dari Kawa.


"Terima kasih" ujar Kawa. Mayra mengangkat kedua jempolnya pada laki-laki itu. Para tamu silih berganti bersalaman dengan pengantin.

__ADS_1


        Acara itu benar-benar meriah, banyak pengisi acara yang dihadirkan. Beberapa artis beken pun mengisi resepsi tersebut, penyanyi-penyanyi papan atas. Semua tamu larut dalam kebahagiaan Kawa dan Zahra.


        Lebih dari tengah malam pesta pun usai, para tamu sudah kembali ke kamar masing-masing, dan yang tamu dekat pun sudah pulang ke rumah masing-masing.


Kawa sudah berganti dengan piyamanya, baru saja keluar dari kamar mandi. Sementara Zahra sedang sibuk membersihkan sisa make up nya dengan kapas. Dia sedang berada di depan cermin. Hijabnya masih menempel di kepalanya. Merasa kaget saat tiba-tiba melihat Kawa. Buru-buru Zahra merapikan hijabnya yang agak melorot.


Kawa tersenyum melihat tingkah Zahra.


"Kenapa? kaget?" tanya Kawa mendekat. Zahra lupa jika mereka sudah sah sebagai suami istri.


"Maaf bang" jawab istrinya itu.


"Sini abang bantu" tanpa menunggu persetujuan dari Zahra, Kawa membantu membersihkan sisa make up istrinya itu. "Gimana caranya? gini?" Kawa memperlihatkan keahliannya untuk mengoleskan krim pembersih itu di muka Zahra. Zahra pun tertawa kecil.


"Ini dilepas" Kawa menarik hijab Zahra.


"Jangan..." tangan Zahra menarik hijabnya kembali, nampak dia belum terbiasa tanpa hijab di depan laki-laki. Bukannya marah, Kawa kembali tertawa melihat tingkah Zahra. Zahra yang salah tingkah pun akhirnya melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan agar hijabnya tetap berada di kepalanya.


Kawa melepaskan hijab Zahra dan meletakkan di kursi yang tak jauh darinya. Nampak istrinya itu cantik dengan rambutnya yang masih digelung rapi. Sejenak Kawa menatap istrinya itu lekat. Zahra yang seolah terhipnotis pun menatap Kawa. Mungkin ini adalah tatapan terdalam yang pernah dia lakukan pada Kawa yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.


"Aku mencintaimu" ujar Kawa dengan suara serak, Zahra tak menjawabnya. Dia seperti sedang pingsan.


Kawa membopong istrinya itu menuju sebuah ranjang yang sudah dihias dengan indah, berbagai bunga menempel di sekeliling ranjang. Nampak sangat indah. Kawa merebahkan Zahra ke atas ranjang berukuran besar itu. Matanya tak sedikitpun luput dari Zahra. Menikmati setiap kecantikan Zahra.


Beberapa kali Kawa menelan ludahnya melihat istrinya, perlahan dia melepaskan satu persatu kancing baju Zahra. Zahra yang lagi-lagi merasa aneh pun seperti tidak bisa mengendalikan detak jantungnya. Ini adalah pengalaman mereka pertama kalinya.


Kawa melihat bibir Zahra yang ranum itu, dia mengec*p perlahan bibir itu, terasa ada sengatan listrik yang terasa. Zahra hanya diam terpaku mendapat perlakuan Kawa, darahnya berdesir, gejolak jiwanya terasa panas dengan apa yang dilakukan oleh Kawa.


"Aku mencintaimu" kembali Kawa berujar dengan suara serak, pertanda dia sudah dipenuhi nafsu. Zahra yang memang belum bisa menguasai dirinya dengan situasi ini pun hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Kawa menjelajah semua tubuh Zahra yang kini sudah polos, membuat Kawa tak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Bergelut dengan penuh cinta, akhirnya mereka melebur dalam penyatua yang indah dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah. Zahra menggigit bibirnya menahan bagaimana rasa sakit yang dia rasakan saat mahkotanya diserahkan pada suami tercintanya.

__ADS_1


Hawa dingin AC tak mampu menahan peluh yang menetes dari kedua insan tersebut, mereka yang sedang dimabuk asmara.


__ADS_2