Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
Udara Baru


__ADS_3

Hari baru menjadi pribadi baru, itulah yang dirasakan oleh Zahra. Akhirnya, pintu hati ayahnya terbuka, tak lupa dia bersyukur kepada Tuhan atas anugerah ini. Doa yang tak putus darinya dan juga orang-orang yang ada di sekelilingnya, mampu menggempur kerasnya hati ayahnya. Zahra mempersiapkan beberapa keperluan yang akan di bawa hari ini.


"Bunda jadi camping sama teman-teman?" tanya Dira menatap Zahra lekat dengan mata beningnya, senyum mengembang dari bibirnya yang mungil.


"Iya jadi, kamu nggak apa-apa kan di rumah sama nenek dan kakek?" Zahra sebenarnya khawatir meninggalkan Dira, tapi Bu Latif memastikan jika Dira akan lebih baik berada di rumah saja.


Zahra tersenyum pada Dira, tangannya memasukkan beberapa baju ke dalam tas. Kemarin dia mendapatkan undangan oleh Mayra untung camping bersama, dan Zahra sudah meminta izin pada ayah dan ibunya, ternyata mereka memperbolehkan. Akhirnya Zahra mengiyakan, jikalau orang tua tak mengizinkan, Zahra pun tak akan pernah berangkat.


"Bunda berangkat jam berapa?" tanya Dira lagi. Dia duduk di atas ranjang Zahra sambil memperhatikan Zahra yang belum selesai mengemas barangnya.


"Nanti sore selepas asar"


Bu Latif masuk ke dalam kamar Zahra yang tidak tertutup pintunya itu, melihat Dira dan Zahra sedang mengobrol, membuatnya ingin nimbrung juga.


"Sudah siap?" tanya Bu Latif.


"Iya Bu, sebentar lagi, tinggal sedikit lagi" jawab Zahra, kali ini sudah memasukkan kotak obat ke dalam tasnya, dan kini selesai sudah dia mengemas barang yang akan dia bawa sore nanti. Zahra meletakkan tasnya di atas meja tak jauh dari jendela, kemudian dia duduk di atas ranjangnya.


"Hati-hati nanti ya" pesan Bu Latif pada Zahra. "Jadi dijemput Tania kan?"


Zahra mengangguk, acara kali ini Tania juga akan ikut, dia tidak tahu siapa lagi yang ada dalam undangan Mayra. Zahra bersyukur dia bisa melakukan aktivitas dengan bebas sekarang, dan yang harus dia lakukan adalah bertanggung jawab dengan kebebasan yang dia peroleh dari ayahnya tersebut.


"Iya Bu, Zahra akan hati-hati, senantiasa menuruti apa yang Ayah dan Ibu pesan"


        ***


Tania sudah tiba dengan membawa mobil warna hitam, Tania keluar dari mobil dan turun memasuki halaman depan rumah Zahra. Dia memarkir mobilnya di jalan depan rumah Zahra.


"Sudah siap?" Tania melempar senyuman manisnya, tangannya merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.


Zahra mengangguk, senyumnya benar-benar lebar, Tania merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Zahra. Bagaimana tidak, sudah berapa lama dia "terpenjara" oleh keputusan ayahnya sendiri, hingga akhirnya ayahnya mendapat hidayah.


"Sudah? cuma ini saja barang bawaan kamu?" ucap Tania seketika saat melihat Zahra hanya membawa tas ransel.


"Iya" Zahra menggendong tasnya.

__ADS_1


"Simple sekali, ya udah ayo berangkat" ajak Tania. Mereka pun berangkat selepas pamit dengan Pak Latif dan Bu Latif.


"Tumben bawa mobil?" Zahra membenarkan sabuk pengamannya, Tania mulai menyalakan mesinnya, dia juga membenahi sabuk pengamannya dan mulai menjalankan mobilnya.


"Iya, mumpung bokap di rumah, mobil nganggur, ya udah..."


Zahra tersenyum.


"Huh...seneng banget akhirnya bisa melihat matahari di wajahmu" Tania sibuk melihat jalan raya, Zahra melihat ke arah Tania, belum ada kalimat lanjutan, hanya senyum yang mengembang di bibir Tania.


"Berkat doa kamu juga" jawab Zahra, dia paham arah pembicaraan Tania.


"Iya...harusnya memang begini, dan....bagaimana perasaanmu sekarang? sudah siapkah jatuh cinta?" ujarnya.


Zahra yang tadi mengembangkan senyumnya, kini senyumnya memudar. Ucapan Tania seolah sedang menyindirnya.


"Ih nggak usah dipikir, kalau jatuh cinta ya dijalanin aja" Tania dengan santainya mengatakan hal tersebut. Zahra mengangkat kedua alisnya, Tania memang begitu, jadi dia tidak heran dengan apa yang dia dengar dari ucapan temannya itu.


"Udah jangan nyerocos saja, lihat jalanan dengan benar, sudah lama nggak nyetir kan?" Zahra mengalihkan pembicaraan.


Keduanya secara mendadak mendapatkan undangan dari Mayra untuk melakukan camping bersama di daerah yang agak jauh dari rumah mereka, daerah yang agak terpencil, tapi memang daerah perkemahan yang biasanya disewakan untuk acara kemah atau agenda outdoor lainnya.


"Dengar-dengar sih ada Rendra sama Kawa" ucap Tania, matanya masih sibuk melihat ke arah jalan. Zahra menengok ke arah Tania. Tania tersenyum.


"Kenapa?" Tania melihat ke arah Zahra, wajah Zahra sedikit berubah, entah senang atau kaget, atau entah ingin pulang.


"Kamu nggak bilang?"


"Kenapa? apa salahnya mereka ikut?"


"Ehm...ya enggak salah...cuma..."


"Cuma apa? mereka kan memang temannya Mayra, nggak salah mereka diundang"


"Ini acara apa emangnya?"

__ADS_1


"Ulang tahun sih katanya"


"Loh iyakah?" Zahra terkejut, sebab dia tidak menyiapkan apapun untuk Mayra, setidaknya kado.


"Iya...tapi ya Mayra maunya cuma sekedar ngumpul aja, dan dia bilang nggak usah bawa apa-apa, cukup datang dan menikmati kebersamaan"


"Kok kamu tahu detailnya?" Zahra heran, tapi apa yang mau diheranin? Tania memang seperti itu.


"Tania...gak usah ditanya lagi" ujarnya sambil menepuk dadanya. Zahra tertawa kecil.


"Iya, percaya"


        Hari hampir petang saat mereka tiba di sebuah tempat yang digunakan untuk camping, agak jauh dari perkampungan, tapi tempat ini aman, karena ada petugasnya. Tania menghentikan mobilnya, kemudian dia turun, begitu juga dengan Zahra. Tania membuka bagasi dan mengeluarkan tasnya, ada dua tas besar yang dia bawa, berbeda dengan Zahra yang hanya membawa satu tas ransel saja.


"Ayo kesana" ajak Tania. Nampaknya mereka berdua adalah peserta yang datang terlambat. Di sana nampak Mayra, Rendra dan juga Kawa. Tania melambaikan tangan ke arah mereka bertiga.


"Sorry telat, aku jemput tuan putri dulu" Tania tertawa kecil dan menghampiri mereka. "Hanya bertiga aja nih?"


"Iya, aku nggak suka banyak orang" jawab Mayra sambil tertawa. "Terima kasih sudah datang"


Zahra berdiri di samping Tania, langkahnya tak secepat langkah Tania.


"Hai Zahra...makasih juga sudah mau datang"


"Iya sama-sama, maaf telat"


"Oh nggak ada kata terlambat, kita hanya akan bersenang-senang, tenang saja" balas Mayra sambil tersenyum manis.


Nampak Rendra dan Kawa menganggukkan kepalanya, sebagai tanda menyambut kedatangan Zahra dan Tania.


        Hari merangkak malam, selepas melaksanakan kewajibannya, mereka berkumpul di tempat yang dikelilingi oleh tenda mereka masing-masing untuk menyantap makan malam. Tak ingin lebih ribet, mereka memesan makanan yang tak jauh dari mereka berkemah dan menikmatinya di area terbuka.


Zahra seperti menemukan hidupnya kembali, Zahra mendapatkan ruang untuk kembali bernafas, dia sangat bahagia meskipun tak bisa bagaimana cara mengungkapkannya. Dia seperti yang lain, masih bebas dan tidak terikat.


Meskipun sederhana, nyatanya Tania sudah menyiapkan sebuah kue ulang tahun untuk Mayra. Mayra nampak begitu bahagia dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya tersebut.

__ADS_1


Diam-diam Tania mempersiapkan kue ulang tahun untuk Mayra.


__ADS_2