
Di tengah kesibukannya menjadi pemimpin baru, Kawa yang diminta datang menemui Pak Latif pun segera berangkat didampingi oleh Pak Liun.
"Apa yang bisa kamu janjikan untuk Zahra?" tanya Pak Latif pada Kawa. Laki-laki yang sudah meminang putrinya itu nampak necis dengan setelan jasnya.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk Zahra, saya akan membuktikan jika Zahra bahagia bersama saya" jawaban Kawa mantap.
Pak Latif menatap laki-laki muda itu, hatinya masih setengah hati melepas Zahra untuk laki-laki kaya.
"Saya tidak pernah menyangka jika keadaannya seperti ini"
"Maafkan saya" sahut Kawa.
"Bahkan keluarga kamu sangat berpengaruh di negeri ini, ini yang saya takutkan. Sedangkan keluarga saya hanya keluarga yang bengini-begini saja". Berita yang beredar di media masa akhr-akhir ini cukup mengganggu Pak Latif. Banyak tetangga yang mengucapkan selamat padanya, mereka akan menjadi besan dari orang kaya raya di kota. Pak Latif menggelengkan kepalanya. Dia dan keluarganya tidak mau dicap sebagai keluarga matre.
Kawa menatap laki-laki sepuh itu, wajahnya masih mengguratkan beban yang dirasakan.
"Mungkin cerita kehidupan Airin yang membuat saya seperti ini" tetap saja hal ini yang menjadikan beban dalam pikirannya.
"Saya tidak akan membuat cerita yang sama kepada Zahra" Kawa kekeh dengan jalan pikirannya. Tak mungkin dia akan mundur hanya karena status sosial atau cerita masa lalu. Kawa bersiap mengubah cara pandang Pak Latif terhadap keluarganya. Kawa, yang sejak remaja sudah mengetahui cerita cinta Papa dan Bundanya semakin menyadari bahwa tak ada status sosial yang pantas diperdebatkan. "Saya cinta Zahra, saya cinta dia apa adanya" Kawa menambahkan.
Pak Latif melihat ke arah Kawa, lalu menunduk. Salah satu hal yang dilakukan Pak Latif adalah menjodohkan Zahra di masa lalu. Hal itu dilakukan agar Zahra mendapatkan suami yang tepat menurutnya.
"Jika terjadi apa-apa dengan Zahra, kamu akan menghadapi saya secara langsung" gumam Pak Latif. Kawa tak gentar dengan apa yang diucapkan Pak Latif. Kawa menyadari, jika yang dilakukan oleh laki-laki sepuh itu adalah sebagai wujud cinta pada putrinya itu.
"Saya siap menerima segala konsekuensi jika hal itu terjadi" Kawa menyanggupi.
"Aku titipkan Zahra padamu, sayangi dia"
***
Kawa merasa lega, akhirnya Pak Latif yang terkenal galak dan keras kepala itu memberikan restu seutuhnya setelah mengetahui latar belakang keluarga Kawa. Kawa duduk di belakang Pak Liun yang sedang mengemudi. Kawa mengambil botol air mineral dan membuka seal tutupnya, kemudia dia meneguk airnya perlahan. Hari ini dia memang hanya bertemu dengan Pak Latif, Kawa tak sempat menemui Zahra yang sedang bekerja, kebetulan sedang ada trip ke luar kota bersama muridnya.
"Langsung ke kantor Tuan?" tanya Pak Liun.
"Kita belok kiri Pak" sahut Kawa. Pak Liun pun menuruti apa yang diucapkan oleh Kawa. "Berhenti" titah Kawa, mobil berhenti tepat di depan sebuah warung. Warung kenangan bagi Kawa. Kawa turun dari mobil.
Nampak beberapa pasang mata melihatnya, Kawa duduk di bangku kayu yang panjang.
"Pesan apa den?" tanya Mak Irah yang nampak tidak mengenali Kawa.
__ADS_1
"Biasa mak" jawab Kawa sambil menatap Mak Irah. Merasa ada yang janggal, Mak Irah menatap Kawa dengan seksama dan memperhatikan Kawa lekat.
"Ya Allah.....Mas Kawa....beneran mas Kawa?" pekiknya. Kawa tersenyum.
"Lama nggak ketemu mas, ya Allah ganteng bener dah. Sekarang malah berjas berdasi" pujinya.
"Lapar mak" Kawa mengelus perutnya. Mak Irah menepuk dahinya, lalu membuatkan pesanan untuk Kawa. Nasi uduk seperti biasanya.
"Sekarang sudah nggak di sini ya mas? sudah lama nggak kesini, emak sampai kangen"
"Iya mak, pindah"
"Gitu kok ya nggak pamitan toh..." Mak Irah protes, tangannya cekatan mengambilkan lauk untuk Kawa.
"Pak Liun, kemari, kita makan dulu" Kawa melambaikan tangan pada Pak Liun yang masih berda di dalam mobil. Dan akhirnya Pak Liun pun duduk di bangku yang lain.
"Sama ya mak, buat bapaknya"
"Baik mas" Mak Irah kembali membuat pesanan untuk Pak Liun.
"Maaf mak, kemarin itu buru-buru jadinya nggak sempat pamitan, tapi sekarang kan sudah ketemu" Kawa menyeringai. Salah satu warung favoritnya bersama Rendra.
"Mas Rendra nggak ikut?" Mak Irah juga masih ingat dengan Rendra yang selalu ramai jika berada di warung ini.
"Eh sampai lupa, minumnya apa?"
"Air putih saja. Pak Liun minumnya apa?"
"Teh hangat bu" sahut Pak Liun pada Mak Irah.
"Siap mas" Mak Irah segera membuatkan pesanan Pak Liun dan juga mengambilkan sebotol air mineral untuk Kawa.
"Itu apanya mas Kawa?" Mak Irah berdiri tak jauh dari Kawa duduk, nasi uduknya sudah hampir tandas. Kawa begitu menikmatinya. "Sopirnya?" Mak Irah menebak. Kawa tersenyum.
"Wih hebat sekarang ya, tapi emak seneng, soalnya mas Kawa nggak lupa sama emak"
"Enggak lah mak" Kawa membuka seal botolnya dan meneguknya. "Masih sama rasanya, enak" Kawa mengacungkan jempol ke arah Mak Irah. Mak Irah tersenyum senang.
"Kalau kesini jangan lupa mampir lagi ya mas, mak seneng kalau anak emak pada main kesini, nggak lupa sama emak"
__ADS_1
"Iya mak" jawab Kawa. Dia masih duduk di sana menunggu Pak Liun menyelesaikan makannya.
"Sebentar ya mas, itu ada yang beli"
"Iya mak, silahkan"
Akhirnya Kawa berpamitan pada Mak Irah, dan berjanji jika suatu saat dia akan mampir kesini lagi jika berkunjung.
"Kita kembali ke jalan yang tadi Pak, lurus saja, di depan ada minimarket, ita berhenti di sana" titah Kawa.
"Siap Tuan"
Mobil melaju perlahan, Kawa seolah sedang bernostalgia merasakan bagaimana dia pertama kali datang ke tempat ini. Tak terasa mobil pun sudah berhenti, karena memang jaraknya tak jauh dari tempat Mak Irah. Kawa turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam minimarket.
"Selamat siang, selamat datang" sapa pegawai tersebut dengan ramah. Nampaknya itu adalah suara Alya.
"Hai" sapa Kawa.
"Kawa?" Alya nampak berbinar melihat siapa yang datang. "Oh pak Bos" buru-buru Alya mengoreksi panggilan untuk Kawa"
"Biasa saja Al" Kawa tersenyum.
"Dit...Didit, ada pak Bos nih" teriaknya pada laki-laki yang tengah sibuk menyusun barang di rak, yang dipanggil pun menoleh.
"Pak Kawa" sapanya sambil mengulurkan tangan tangan untuk bersalaman.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Kawa.
"Baik pak" sahut mereka hampir bersamaan.
"Ya Allah...nggak nyangka banget jika Bapak menyamar" Alya tersenyum malu.
"Lupakan" sahut Kawa. "Big bos mana?" Kawa nampak memperhatikan sekitar.
"Baru saja keluar pak, katanya tadi mau ngecek toko yang lain gitu. "Sekarang Pak Broto berubah Pak" sahut Alya.
"Oh ya? jadi ultramen gitu?" canda Kawa.
"Haha...Bapak bisa aja, bukan Pak. Sekarang dia mah baik pisan sama kita, nggak pernah marah-marah"
__ADS_1
"Nah bagus kan"
Mereka berbincang ringan sambil sesekali tertawa, hingga akhirnya Kawa harus pamit karena masih harus ada yang dikerjakan di kantornya.