
Sejak tadi malam, Zahra tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Melihat kondisi Dira yang demam sejak kemarin malam. Zahra berkali-kali mengganti kompres yang menempel di dahi Dira. Beberapa kali Dira nampak mengigau.
"Bagaimana ini Bu?" tanya Dira pada Ibunya yang duduk di kursi sebelah ranjang Dira. "Apa kita bawa ke rumah sakit saja? demamnya tidak mau turun padahal sudah minum penurun panas" Zahra menggigit bibirnya, menahan panik yang melanda perasaannya.
Pak Latif masuk ke kamar Dira, melihat cucunya yang tergolek tak berdaya membuat hatinya terasa kelu. Dia memperhatikan Zahra merawat Dira dengan tulus, seolah tidak memperhatikan dirinya sendiri. Ada rasa sesak di dadanya, andai saja dia tidak sekeras itu pada Airin, maka semua akan baik-baik saja. Zahra pun akan hidup dengan normal. Pak Latif menghela nafas panjang.
"Bagaimana pak?" tanya Bu Latif.
"Baiklah, kita segera berangkat ke rumah sakit" putusnya. Segera saja Zahra mempersiapkan segala keperluan yang akan dia bawa ke rumah sakit, Pak Latif dan Bu latif juga bersiap. Taksi online sudah tiba di depan rumahnya, dengan cekatan Zahra membopong Dira sendirian. Dia menolak saat Ayahnya yang akan membawa Dira. Mereka sudah berada di taksi online menuju rumah sakit.
"Bunda....Bunda.....aku mau ikut Bunda...." Dira kembali mengigau.
"Iya sayang...bunda ada di sini" Zahra meraih jemarin Dira dan mengelusnya perlahan. Dira masih memejamkan matanya, nampak dia tidak menyadari situasi ini. Zahra kembali meraba dahi Dira, terasa panas.
Taksi yang membawa mereka sampai di halaman rumah sakit, tepat berada di depan IGD. Lalu petugas kesehatan membantu mereka membawa Dira dan memeriksanya. Setelah beberapa saat, Dira dibawa ke ruang rawat inap. Zahra nampak kuyu dan lelah.
"Kamu pulanglah, biar aku sama Ibumu yang berjaga malam ini" ucap Pak Latif. Zahra menatap Ayah dan Ibunya bergantian.
"Tidak yah, biar Zahra saja yang ada di sini malam ini, Ibu dan Ayah istirahatlah di rumah" Zahra memutuskan, dia melihat Dira yang tertidur pulas di atas ranjang dengan tangan kiri terpasang selang infus, nampak gadis kecil itu menahan sakit walau tak mengatakannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Latif. Zahra menggeleng, sambil menyunggingkan senyum.
"Tidak Bu...jangan khawatir, nanti aku kabari kalau ada apa-apa" Zahra menenangkan.
Akhirnya Ayah dan Ibunya pulang, tinggalah Zahra yang menunggui Dira di sana. Dia meraba dahi Dira, demamnya sudah agak menurun daripada tadi. Dilihatnya jam 12 malam.
"Aku belum sholat isya" ucapnya lirih. Sebelum meninggalkan Dira untuk menunaikan sholat, dia memastikan jika Dira lelap dan tidak akan rewel walau ditinggal sebentar. Kemudian dia berdiri dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Zahra menggelar sajadahnya tak jauh dari Dira berbaring, kemudian dia menunaikan sholat.
"Bunda...." terdengar suara lirih dari Dira. Segera Zahra melepas mukenanya dan berjalan mendekat di samping ranjang Dira.
"Eh anak cantik bangun...kenapa sayang? kamu haus? atau kamu lapar?" tanya Zahra lembut. Dira mengangguk.
"Aku ingin minum" ucap Dira. Segera Zahra mengambil segelas air dan membantu Dira untuk minum.
"Terima kasih Bunda"
"Iya sama-sama, kamu lapar nggak?" Dira menggeleng pelan.
"Ya sudah, Dira bobok lagi ya...soalnya ini sudah malam, Dira harus banyak istirahat biar besok sembuh dan pulang"
"Iya Bunda...."
__ADS_1
Zahra mengelus ujung kepala Dira, dilihatnya gadis kecil itu kembali memejamkan matanya. Zahra beringsut dari tempatnya dia berdiri, kemudian dia kembali mengambil mukenanya dan meletakkannya di di nakas samping ranjang.
***
Pagi masih gelap, Zahra baru saja menunaikan sholat subuh, dia kembali melihat Dira yang masih terlelap, dirabanya kening Dira, masih terasa hangat.
Tok...tok....
Terdengar suara pintu diketuk perlahan, Zahra mengerutkan dahinya.
"Siapa sepagi ini? Apa Ibu dan Ayah?" Zahra mendekat ke arah pintu dan membukanya. Sedetik kemudian dia menatap wajah yang ada di depannya, wajah yang terlihat sangat segar sepagi ini.
"Apa Dira baik-baik saja?" tanya Kawa.
"Oh...iya...dia ada di dalam" Zahra masih agak terkejut dengan kedatangan Kawa sepagi ini, darimana dia tahu kalau Dira dirawat di sini. "Silahkan masuk" Zahra mempersilahkan. Kawa mengangguk dan berjalan perlahan agar tidak membangunkan Dira yang tengah istirahat. Kawa meletakkan bungkusan yang dia bawa di meja dekat nakas. Lalu dia mendekat ke ranjang Dira. Memperhatikan gadis kecil itu, gadis kecil yang beberapa hari lalu ceria.
"Sakit apa?" tanya Kawa pada Zahra.
"Tadi malam dokter bilang demam berdarah, demamnya tinggi, jadi daripada kenapa-napa kita sekeluarga sepakat bawa kesini"
"Iya"
"Ehm...tahu darimana kalau Dira sakit dan dirawat?" Zahra menatap Kawa sekilas, lalu membuang pandangan ke arah Dira.
"Oh...kemarin sore aku dapat kabar dari Rendra"
"Mungkin" imbuh Kawa. "Oh ya aku bawa sarapan"
"Terima kasih, tapi mestinya nggak perlu repot-repot"
"Enggak.....nggak repot"
Kawa mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang Dira. Sementara Zahra sedang merapikan beberapa barang dan meletakkanya ke dalam nakas.
"Eh ada Om Kawa" Dira membuka matanya dan melihat Kawa berada di sampingnya.
"Waaah....bangun ya? apa om mengganggumu?" Kawa mendekatkan wajahnya ke Dira. Dira tersenyum lalu menggeleng.
"Om kapan kesini?"
"Barusan....bagaimana kabar kamu?"
"Masih nggak enak Om badanku rasanya" jawab Dira polos.
__ADS_1
"Oh...kalau begitu kamu harus makan banyak nanti, biar lekas sehat, nanti kita main-main kemana gitu" jawab Kawa. Mengapa dia bisa sekarab begini dengan anak kecil, padahal sebelumnya juga tidak pernah dekat dengan siapapun.
"Iya" jawab Dira singkat.
"Oh ya...lihat Om Kawa bawa apa ini?" Kawa mengambil sebuah bantal dan guling bergambar kuda pony.
"Waaah.....ini buat aku Om?" tanya Dira dengan mata berbinar, Kawa mengangguk dan meletakkan bantal dan guling di ranjang Dira.
"Nanti kalau sudah sembuh ini di bawa pulang, buat teman tidur kalau di rumah ya" ujarnya, Dira mengangguk bahagia.
"Terima kasih Om" Dira memeluk guling tersebut dengan gemas.
"Sama-sama" Kawa tersenyum lega melihat Dira.
Kawa pamit undur diri setelah itu, dia harus berangkat kerja giliran pagi. Setidaknya dia sudah lega melihat keadaan Dira. Namun dia sedikit cemas dengan keadaan Mayra yang baru tadi malam membalas pesannya, dan benar adanya jika Mayra sakit.
Ibu dan Pak Latif tiba di rumah sakit, saat itu Zahra sedang menyuapi Dira sarapan.
"Wah cucu kakek lagi sarapan, sarapan yang banyak biar lekas sehat" ujarnya sambil mengelus rambut cucunya.
"Kakek....tadi Om Kawa kesini bawa ini buat Dira" Dira memperlihatkan bantal dan guling yang dia dapat dari Kawa.
"Kawa?" tanya Pak Latif sambil mengerutkan dahi, berusaha mengingat siapa itu Kawa.
"Temannya bunda kek" jawab Dira polos.
"Oh..." hanya itu yang terdengar dari jawaban pak Latif.
Bu Latif mengambil alih untuk menyuapi Dira. Zahra mengangguk dan memberikan piringnya pada ibunya.
Zahra duduk di kursi sambil melipat pakaian kotor yang akan dia bawa pulang setelah ini. Pak Latif duduk di dekat Zahra.
"Sejak kapan kamu akrab dengan laki-laki itu?"
Zahra mendongak dan melihat ke arah Ayahnya, Zahra tahu siapa yang dimaksud.
"Bukan yah, hanya saja Dira yang nampak senang dan akrab"
"Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Setelah ulang tahun Dira" jawab Zahra akhirnya.
"Ayah tidak mau kejadian kakakmu terulang padamu, Ayah tidak mau!" ucapnya pelan namun tegas. Zahra kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Iya yah" jawabnya tak kalah pelan. Dia tidak ingin Dira mendengarnya.
Jangan lupa dukungannya ya...tinggalin jejak, like, fav....thank you...^^