Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 22 : Tentang Aku (Zahra)


__ADS_3

Zahra keluar dengan membawa dua gelas minuman hangat untuk Ayah dan Ibunya. Seketika pembicaraan Ayah dan Ibunya terhenti. Zahra meletakkan minuman tersebut di atas meja.


"Ini Bu...Yah...silahkan"


"Iya...terima kasih ya" ucap Ibunya lembut, Ayahnya terdiam. Zahra kembali masuk ke dapur dan meyelesaikan masaknya.


Matahari sudah mulai meninggi, tak ada suara berisik dari Dira. Karena hari ini sengaja kakek dan neneknya mengajaknya jalan-jalan ke pasar untuk berbelanja dan sekedar cuci mata.


Airin, nama itu yang selalu disebut oleh Ayahnya dan seolah menjadi patokan Ayahnya bagi Zahra. iya, Airin memang bersalah hanya saja jangan selalu diungkit dan dilemparkan segalanya bagi Zahra. Terkadang Zahra pun lelah seolah harus menanggung beban itu.


Zahra menghela nafas berat, dia membuka laci meja yang ada di samping ranjangnya. Tangannya memungut sebuah foto dirinya dan seorang perempuan yang tersenyum manis di foto tersebut. Tidak lain adalah Airin, kakaknya. Zahra mengusap wajah yang ada di foto tersebut, perempuan dengan paras cantik rambut panjang itu nampak merangkul Zahra di foto.


"Aku rindu kakak" ungkapnya lirih. "


Kejadian beberapa tahun kembali berkelebat dalam benaknya. Iya, malam sebelum kejadian, kakaknya datang ke kamarnya dengan wajah yang kuyu dan menyedihkan seperti hari-hari biasanya. Dia nampak menggendong Dira yang masih bayi. Zahra mengambil Dira dari tangan Airin dan menimangnya.


"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Zahra getir, dia tahu pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban dari Airin, karena jelas bahwa Airin tidak baik-baik saja. Kemarahan Ayahnya yang hampir setiap hari Airin terima, sumpah serapah dan segala macam membuat Airin tak berdaya. Airin yang baru saja melahirkan mengalami stress yang luar biasa.


Awalnya Ayahnya membenci Zahra setengah mati, kalau saja tidak ada hukum, bisa saja Ayahnya akan membuang Dira bayi begitu saja.

__ADS_1


"Apa aku terlihat baik-baik saja?" tanya Airin getir, dia balik bertanya. Zahra menatap kakaknya nanar, tidak seharusnya dia bertanya hal tersebut. Zahra melihat Dira yang tertidur dengan nyaman di tangannya. Airin benar-benar nampak sangat menyedihkan.


"Kak....sudahlah, kakak jangan terlalu memikirkan apa yang ayah ucapkan, yang terpenting sekarang adalah Dira, dia membutuhkan kakak, kakak harus kuat" Zahra mencoba menenangkan kakaknya.


Airin kembali tersenyum getir, sorot matanya yang benar-benar terlihat tak ada energinya itu kembali menyakiti Zahra, dia merasa luka yang ditanggung Airin benar-benar berat. Zahra menghela nafas panjang.


Malam sudah larut, tapi Airin enggan beranjak dari kamar Zahra. Zahra menidurkan Dira di ranjangnya dan menyelimuti bayi imut itu.


Airin yang semula adalah gadis periang dengan segala talentanya, mendadak menjadi redup. Airin yang supel, Airin yang ramah dan mudah bergaul itu sudah hilang entah kemana. Airin yang suka malam-malam datang ke kamarnya dan cerita sana sini tentang hidupnya, tentang perasaannya pada seseorang yang disebut pacar itu tak lagi sama. Rambut panjangnya berantakan, masih tersisa warna cat rambut agak pirang di sana, Zahra masih jelas melihatnya, terlihat urat-urat nadi begitu jelas di indra penglihatannya. Airin terlihat sangat kurus, bahkan untuk ukuran ibu yang baru saja melahirkan dan menyusui.


"Jika kakak mau tidur di sini, istirahatlah kak, atau kakak ingin mengutarakan apa yang kakak pendam, Zahra siap mendengarkan" usai menidurkan Dira, Zahra duduk di samping Airin dan memegang pundaknya.


"Kakak akan mencari jalan agar ayah bisa berubah, kakak tidak mau kamu memiliki nasib seperti kakak, tolong jaga Dira, jaga Dira untuk kakak" ucap Airin pilu, air matanya meleleh begitu saja.


"Kakak jangan ngomong macam-macam, memangnya kakak mau kemana? kakak nggak akan ninggalin Dira kan?" Zahra merasa ketakutan. "Masih ada Ibu dan aku yang akan bantu kakak kalaupun Ayah tidak mau dengan keberadaan Dira" Zahra menambahkan, kini matanya sudah berair, sudah siap tumpah membasahi pipinya. Sejak Ayah menentang keputusan Airin, sejak saat itulah Airin berubah, dan beberapa kali Airin ingin keluar dari rumah ini. Hanya saja Ibu dan Zahra selalu mencegah, siapa orang yang tega melihat Airin minggat dari rumah dengan keadaan hamil besar? siapa yang akan merawatnya kelak?.


Airin menggeleng, "Kakak ke kamar dulu, kakak agak pusing, biarkan Dira di sini dulu ya, susunya ada di dapur nanti bisa kamu ambilkan di sana" pesannya.


"Iya kak" jawab Zahra agak ragu, dia melihat langkah gontai kakaknya meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


        Tidak seperti biasa, matahari yang sudah meninggi. Ayahnya sudah pergi bekerja, sedangkan Ibunya dan Zahra sedang menjaga Dira di ruang keluarga. Zahra melongok ke kamar Airin, pintunya masih tertutup.


"Tidak biasanya kakak belum bangun jam segini" ujarnya perlahan.


"Iya, apa kakakmu sakit?" tanya Ibunya. Zahra mengangkat bahunya, tadi malam kakaknya hanya bilang sedang pusing.


"Sebentar, Zahra panggil dulu ya Bu"


"Iya" jawab Ibunya, tangannya meraih Dira dan memangkunya. "Kasihan dia belum sarapan" imbuhnya


Zahra mengetok pintu kamar Airin, sekali dua kali tidak ada jawaban.


"Kak....kakak, buka pintunya...." Zahra kembali mengetuk pintu kamar Airin. Tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Zahra mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci tersebut.


Bagai disambar petir, pemandangan yang ada di depan mata Zahra. Hampir saja dia tidak bisa menguasai dirinya.


"Kakaaaaaaakkk!!!" teriaknya histeris. Bu Latif yang saat itu menggendong Dira segera berlari ke sumber suara, betapa mengejutkan apa yang dia lihat.


Kedua perempuan itu hampir pingsan dengan hal yang ada di depan mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2