Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 54 : Runtuh Duniaku


__ADS_3

Beberapa kali Zahra memegangi perutnya yang terasa tak seperti biasanya. Dia merasa sakit saat masa periodenya datang. Zahra memegang perutnya dan sesekali mengatur nafasnya agar hilang rasa sakitnya.


"Sayang ayok sarapan dulu yok," ajak Kawa yang sedang memakai jas saat hendak berangkat kerja. Zahra sedang memegang perutnya, dia berada di kamar mandi.


"Iya bang," Hanna menjawab ucapan Kawa sambil menahan sakit. "Abang duluan saja,"


"Iya, aku tunggu di bawah ya sayang,"


"Iya bang," Zahra meringis dari dalam, menahan agar suaranya tidak terdengar sedang menahan sakit. Dia sedang mengatur keadaannya agar suaranya terdengar baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian Zahra keluar dari kamar mandi dan segera menyusul Kawa ke meja makan yang ada di lantai bawah. Dengan hati-hati Zahra menapaki anak tangga.


Kawa tersenyum melihat istrinya turun, Jawa menarik kursi dan mempersilahkan Zahra duduk di sampingnya. Ternyata Kawa sudah menyendokkan nasi dan lauk pauk untuk Zahra. Zahra menyunggingkan senyum ke arah suaminya.


"Terima kasih bang,"


Kawa mengangguk dan tersenyum.


"Oh ya, apa kamu nggak bosen di rumah terus,?" Kawa melihat istrinya yang sedang menikmati sarapannya.


Terlintas di benak Zahra untuk meminta izin keluar pada Kawa, dia ingin memeriksakan diri tanpa sepengetahuan Kawa.


"Bolehkah aku keluar bang,?"


"Boleh donk, mau kemana?,"


"Jalan-jalan, nanti kalau perlu sama mbok Iyah nggak apa-apa kalau abang khawatir,"


"Nggak masalah sayang, senyaman kamu aja, kalau nyaman sendirian ya nggak apa-apa," Kawa memang sesantai itu, tidak mau membuat istrinya tidak nyaman jika dia terlalu membuat aturan, sedangkan Zahra tahu jika dirinya tak lagi sendirian, semua atas izin suaminya sekarang.


"Iya bang, nanti gimana enaknya saja,"


Kawa sudah berangkat ke kantor. Zahra bersiap mandi dan berganti baju, dia sudah mencari tahu dokter terdekat yang ada jadwal pemeriksaan pagi. Dan akhirnya Zahra menemukannya, dia juga sudah mendaftar online. Karena tidak ingin diketahui oleh siapapun, Zahra memilih untuk naik taksi online saja.

__ADS_1


Sesampainya di tempat praktik yang dituju, Zahra menunggu di bangku antrian tunggu. Nampak cemas di wajahnya, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.


"Nyonya Zahra silahkan masuk," panggil seorang perawat pada Zahra. Zahra bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut dengan perasaan deg-degan. Terlihat seseorang dengan pakaian putih dan Zahra menebak itu adalah dokter kandungan. Wanita berkacamata dan berjas putih itu terlihat ramah dan menyunggingkan senyumnya. Lumayan mengurangi rasa nervous yang dirasakan oleh Zahra.


"Silahkan duduk Bu...," titah perawat pada Zahra, Zahra mengangguk lalu duduk di kursi yang ada di depan dokter tersebut.


Zahra meremas tangannya, terasa sangat dingin.


"Ada keluhan apa Bu,?" tanya dokter dengan ramah.


"Itu dok, setiap periode menstruasi saya merasakan sakit di perut saya, dan akhir-akhir ini malah semakin menjadi,"


"Baik, silahkan berbaring Bu, kita coba cek lewat USG dulu," perintah dokter tersebut dengan lembut, membuat rasa deg-degan di hati Zahra agak berkurang.


Zahra mengikuti arahan dari perawat yang membantu dokter, kini dia sudah berada di atas bed. Perawat tersebut mengoleskan gel di atas perut Zahra.


"Permisi ya Bu," ujar perawat itu, Zahra mengangguk.


Perawat membersihkan bekas gel yang ada di atas perut Zahra.


"Silahkan kembali duduk Bu," perawat mempersilahkan Zahra duduk kembali.


"Baik Bu...dari hasil USG yang saya lihat, bahwa di rahim Ibu tumbuh kista yang ukurannya lumayan besar," ucap dokter menjelaskan dengan halus, tapi sehalus apapun ucapan dokter itu Zahra merasa dunianya sedang tidak baik-baik saja. Zahra menahan perasaannya. "Dan kita tidak tahu apakah itu ganas atau tidak, untuk bisa memastikannya maka harus dilakukan tindakan," imbuh dokter tersebut.


"Maaf dok, saya sudah menikah, dan saya menantikan sebuah kehamilan, seberapa besar kemungkinan saya bisa mendapatkan kehamilan,?" Zahra menggigit bibirnya.


"Untuk itu, saya sebagai dokter tidak bisa memastikan Bu, karena yang namanya peluang itu tetap tergantung pada Tuhan. Hanya saja dilihat dari kondisi ini, kita membutuhkan tindakan selanjutnya,"


Sepanjang perjalanan pulang, air mata Zahra lolos tanpa aba-aba. Apa yang menimpanya seakan menghancurkan hidupnya. Zahra sesenggukan, tangannya mengambil tisu di dalam tasnya, mengusapnya dengan lembut. Tapi matanya memerah.


"Ya Allah...kenapa begini,?" gumamnya. Dunianya terasa hancur, kecewanya terasa sangat besar kali ini. Ingin rasanya dia protes, tapi sama siapa?. Air mata Zahra kembali mengalir.


***

__ADS_1


"Selamat siang pak, ada yang ingin bertemu dengan Pak Kawa," ucap Nadia begitu dipersilahkan masuk setelah mengetuk pintu ruangan Kawa.


"Iya, siapa?" tanya Kawa, dari tadi dia agak khawatir karena Zahra tidak menjawab panggilannya. Apakah istrinya itu jadi keluar jalan-jalan atau tidak.


"Itu pak, salah satu utusan dari perusahaan yang akan investasi di perusahaan ini,"


"Oh baik, persilahkan dia masuk,"


"Baik pak," jawab Nadia, dia segera keluar dan memanggil wanita itu untuk masuk dan menemui Kawa.


Seseorang yang pernah datang ke kantor Kawa, meeting bersama dengan para investor waktu itu. Dan Kawa masih sangat mengenal wajah wanita itu.


"Selamat datang, silahkan duduk," perintah Kawa dengan ramah.


"Terima kasih Tuan," sahutnya. Dengan memakai rok selutut dan blouse warna putih bergaris, wanita itu nampak seksi. "Perkenalkan saya Sonya," wanita itu mengulurkan tangannya, Kawa membalas uluran tangan wanita dengan nama Sonya itu.


"Jadi apa yang bisa kita bicarakan sekarang,?" tanya Kawa.


"Ini Tuan, saya membawa perbaikan kontrak dari perusahaan, maaf jika kemarin ada kesalahan," ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Kawa menerima uluran map dari dari Sonya.


"Maaf Tuan, itu sudah saya revisi sesuai permintaan dari perusahaan Tuan, jadi sekarang saya diutus untuk menunggu anda tanda tangan agar proyek segera berjalan,"


Kawa membaca kontrak tersebut sejenak dengan teliti, jangan sampai ada kesalahan yang merugikannya. Setelah dia yakin bahwa kontrak tersebut sudah benar, dia mengambil bolpoin dan menandatanganinya.


"Terima kasih tuan," ucap Sonya.


"Oh ya...apakah kita pernah bertemu sebelumnya, ehm maksud saya bertemu sebelum anda berkunjung ke perusahaan ini,?"


"Oh...tidak Tuan, hanya saja saya sering mendengar nama anda, ada apa Tuan,?" tanya Sonya sambil menyunggingkan senyum, senyum tak habis-habis dari bibirnya yang merah merona itu.


"Oh, mungkin saya salah orang,"


Pertemuan itu tak lama, dan akhirnya wanita itu pamit setelah mendapatkan tanda tangan dari Kawa selaku pimpinan perusahaan ini.

__ADS_1


__ADS_2