Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 33 : Kini Ku Menemukanmu


__ADS_3

"Abaaaang....pulang nggak bilang-bilang!" teriak Biru sesaat setelah membuka pintu kamar Kawa. Terlihat Kawa yang sedang tengkurap di ranjangnya pun merasa berisik mendengar suara adiknya yang memekakkan telinga itu. Biru melempar tas ranselnya ke atas tempat tidur, tepat di samping Kawa. Kawa yang masih mengantuk merasa bahwa adiknya sudah mengacaukan tidurnya. Namun dia tersenyum sambil mengucek matanya, lalu membalikkan tubuh dan mengganti posisinya menjadi duduk. Dilihatnya Biru dengan seksama, adik perempuannya itu benar-benar sama saja, tomboy. Mengingatkan dirinya pada sosok Mayra.


Biru sontak menghambur ke arah Kawa, memeluknya erat. Lalu melepasnya. Kawa diam saja melihat kelakuan adiknya yang sedikit bar-bar itu. Tak lupa Biru mengucek rambut Kawa hingga semakin berantakan.


"Baru pulang?" tanya Kawa. Biru mengangguk, Biru melepaskan jaket denimnya yang dia gunakan untuk menutup kemeja panjangnya. Gayanya yang tomboy masih sangat kental terlihat.


"Kapan balik?" tanya Biru sambil menyeret kursi dan dia letakkan di depan Kawa yang sedang duduk. Kini mereka berhadapan, Biru menaikkan kedua kakinya ke atas kursi.


"Tadi sore?"


"Terus kapan balik ke sana lagi?"


"Nggak balik" jawab Kawa.


"Hah seriusan bang? terus itu kakak-kakak uhti idola kakak bagaimana?" Biru kepo.


Kawa melemparkan sebuah bantal ke arah Biru, dan Biru berhasil menangkapnya. "Serius bang" Biru berteriak, Kawa bangkit dari tempat tidur dan mengambil segelas air di kulkas kamarnya. Biru memutar pandangan ke Kawa.


"Lah iya memang nggak balik"


"Terus itu uhti bagaimana?" Biru masih mempertanyakan hal itu.


"Ya nggak gimana-mana, kenapa?"


"Ihhh abang, jadi nggak sama dia? atau sama Nadin tuh" Biru menutup mulutnya karena keceplosan.


Kawa menatap adiknya serius, nama itu disebut lagi dan masuk ke pendengarannya. "Dia jomblo" Biru memang sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan Kawa yang entah bagaimana saat mendengar nama Nadin terdengar. Biru tertawa menyeringai.


"Bantu lah untuk acara lamaran nanti" Kawa menimpali, nampaknya dia tidak tertarik dengan pembahasan tentang Nadin.


"Hah? ke Nadin?" dasar Biru yang bebal. Kawa menatap adiknya itu tajam, ingin rasanya dia mengucek-ucek adiknya. "Abang...abang beneran sama uhti itu?" Biru membulatkan matanya.


"Kenapa?"


"Cieeee....udah berhasil membuat luluh ni ye...." Biru masih saja mengejek abangnya. "Congrats bang, I'm happy for you" Biru tersenyum manis dan tulus kali ini.


"Yaa" jawab Kawa singkat, dia kembali duduk di atas tempat tidurnya, kembali menghadap Biru.

__ADS_1


"Jadi kapan lamarannya? pleas ya kak...kali ini yang serius" Biru cemberut, teringat akan peristiwa lamaran Kawa dengan Nadin yang gagal itu.


"Kapan aku nggak serius?" Kawa nampak mengerutkan dahinya.


"Iya juga sih" Biru menggaruk rambutnya, abangnya itu memang terkenal pasti orangnya, apa yang dikatakan pasti juga akan dilakukan. Kebangetan aja orang yang melukai abangnya. "Jadi kapan?" Biru sudah tak sabar.


"Ya nanti, aku juga belum ngomong sama Bunda dan Papa"


"Ealah...kirain udah mateng. Tapi udah jadian kan bang?"


"Kepo!"


"Eh beneran bang, aku serius ini"


"Anak kecil diam aja"


"Yeeeee abang"


***


Kawa diminta turun oleh Ganis karena Papanya sudah pulang, mereka sedang membicarakan perihal pekerjaan yang akan dipegang oleh Kawa. Seperti yang disampaikan oleh Ganis, bahwa Saga memang sedang kewalahan memegang perusahaan, dan dia sangat membutuhkan tenaga baru yang tak lain adalah putranya sendiri.


"Iya Pa"


"Besok biar diatur semua sama Pak Liun" jawab Saga, Pak Liun adalah tangan kanan Saga yang membantu pekerjaan Saga selepas Pak Li memutuskan untuk rehat menikmati masa senja.


"Nah...kalau kerja dekat gini kan Bunda seneng, bisa lihat anak-anak setiap hari" ujar Ganis sambil tersenyum bahagia. "Oh ya Mas...Kawa mau ngomong tuh" Ganis membuka obrolan lainnya.


"Hehm..." Saga berdehem.


"Pa...jadi aku mau ngenalin calon aku ke Bunda, Papa, dan Oma"


"Hehm..." Dahi Saga berkerut, yang dia tahu putranya itu menepikan diri karena patah hati. Berarti ini pertanda bagus jika Kawa sudah bisa move on dari kejadian pertunangan itu.


Ganis mengelus pundak anak laki-lakinya itu sambil tersenyum, dalam hatinya selalu mendoakan kebahagiaan putranya itu, semoga dia tak lagi patah hati karena seorang gadis.


"Kapan mau dibawa kesini?" tanya Saga lugas, tak ingin kecolongan seperti dulu.

__ADS_1


"Nanti aku nanya dulu Pa"


"Iya nak, bawalah kesini, karena bagaimanapun kita harus mengenalnya. Bunda nggak mau saja kejadian kelam terulang kembali"


"Iya Bun, secepatnya"


Kawa pamit kembali ke kamar karena dia kelelahan dan ingin kembali tidur, begitu juga Biru yang selepas dari kamarnya Kawa tadi tak kelihatan batang hidungnya.


"Kemana anakmu satunya?" Saga menatap Ganis.


"Udah pergi"


"Duh anak itu, anak perempuan yang suka kelayapan nggak jelas" gerutu Saga sambil geleng-geleng kepala.


"Ngerjain tugas Mas"


"Jadi siapa calon menantu kita?" Saga kembali membuka pembicaraan mengenai calon Kawa. Ganis mengedikkan bahu. "Jadi kamu juga belum tahu?" Saga mengerutkan dahi.


"Belum" jawab Ganis sambil tersenyum. "Ah kali ini feelingku bagus kok mas, semoga saja"


"Memangnya dia siapa?"


"Gadis yang berasal dari kota di mana Kawa merantau" Ganis tersenyum kecil.


"Kok bisa?" Saga sedikit terkejut.


"Mas ini nanya kok bisa? namanya juga jodoh, lha aku juga dari desa yang nggak tahu apa-apa tentang kota besar ini, lha kok bisa berjodoh dengan kamu mas" Ganis terkikik, Saga tersenyum simpul. Kembali teringat tentang kisah cinta mereka yang unik itu.


"Siapkan yang terbaik untuk acara dia" pesan Saga.


"Tapi sepertinya dia masih nggak mau terlihat bahwa dia keturunan kamu lho mas" Ganis mengingatkan.


"Ok nggak masalah, kalaupun dia mau merintis usaha baru setelah ini aku siap membimbing"


"Nggak keberatan jika dia masih saja sembunyi?" maksud Ganis adalah Kawa masih saja menutupi identitas dirinya secara luas, bahwa dia ingin dikenal sebagai Kawa. Bukan pewaris Arjuna Group.


"Why not? dia memilih jalan hidupnya, selagi bagus ya sudah" jawab Kawa. Ganis yang duduk di sebelah Saga lantas merapatkan duduknya pada Saga, lalu merangsek memeluk suaminya itu. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini anak-anaknya sudah dewasa, dan bahkan sudah akan melangkah ke jenjang yang lebih lagi. Segala cerita sudah mereka lalui, tawa, tangis, suka duka menjadi bagian dari hidup mereka.

__ADS_1


"Kita sudah tua mas" gumam Ganis, sambil melihat wajah suaminya. Meskipun usia semakin bertambah, tapi Ganis melihat suaminya itu masih sama, masih tampan seperti dulu.


"Iya, dan kita menua bersama" Saga mengecup rambut istrinya itu.


__ADS_2