Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 34 : Ku Ingin Melamarmu


__ADS_3

"Apa aku cantik memakai ini?" Biru mematut dirinya di depan cermin. Jika biasanya dia memakai pakaian yang mayoritas celana, hari ini dia memakai kebaya modern warna putih dengan paduan bawahan rok di bawah lutut dengan motif batik berwarna coklat keemasan. Seragam keluarga yang akan digunakan untuk acara lamaran di rumah Zahra.


Keluarga Zahra, terlebih Pak Latif meminta acara dipercepat agar tidak menimbulkan fitnah. Oleh sebab itu, Ganis pun dibuat pontang panting untuk mempersiapkan acara lamaran yang serba mendadak itu. Keluarga Zahra tak menginginkan kemewahan, yang penting sakral.


Sejak kemarin sore, Ganis yang ditemani Oma Rima dan Biru mencari barang seserahan dan meminta salah satu jasa untuk menghiasnya. Biru yang suka ngomel pun akhirnya ngomel tak karuan dengan Kawa yang mengabari semua ini serba mendadak.


Kawa pun tak bisa mengelak, karena ini permintaan keluarga Zahra. Dan yang harus digaris bawahi adalah, tak boleh mewah.


"Bang...sudah siapkah?" Biru berada di depan pintu kamar abangnya itu. Kawa yang telah selesai bersiap pun keluar dari pintu, kemeja batik warna coklat keemasan yang coraknya sama dengan keluarganya itu pun nampak sangat manis dan membuat ketampanan Kawa semakin meroket tajam, dipadu dengan bawahan celana warna hitam. Biru yang melihat abangnya nampak termangu.


Kawa mengibaskan tangannya di depan wajah Biru.


"Kesambet?" Kawa menggoda adiknya itu.


"Abang cakeeep" Biru menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia nampak takjub.


"Modus mau minta duit" Kawa menyeringai., Biru tak peduli tuduhan abangnya, dia benar-benar mengagumi abangnya itu. Dan dia bersumpah, bahwa perempuan yang sudah menyakiti abangnya pasti menyesal.


"Abang sudah siap?"


"Kamu lihat sendiri" Kawa menutup pintu kamarnya dan bersiap turun ke lantai bawah untuk persiapan berangkat ke rumah Zahra bersama keluarganya.


"Untungnya semua siap tepat waktu" Oma Rima nampak bernafas lega melihat semua seserahan sudah berjejer rapi di dalam mobil, sejak pagi sudah dimasukkan ke dalam mobil oleh asisten rumah tangga. Oma Rima yang sama sekali belum pernah bertemu dengan calon cucu mantu pun merasa heran dengan segala ketergesaan ini.


"Kawa...." panggil Oma Rima, wanita itu memanggil cucunya dan menepuk sofa yang ada di sebelahnya, memberikan kode agar Kawa duduk di sana.


"Iya Oma" sahut Kawa.


"Oma belum tahu tentang calon kamu ini, tapi kenapa ini terkesan terburu-buru" Oma Rima melihat cucunya itu. "Kamu tidak sedang membuat keonaran kan?" Oma Rima menyelidik.


"Enggak lah Oma" jawab Kawa. Kawa memahami arah pembicaraan Omanya itu. "Memang orang tuanya saja yang memintanya dipercepat"


"Semoga kali ini kamu tidak salah pilih" Oma Rima menambahkan, tidak hanya Kawa yang merasa trauma dengan kegagalan Kawa bertunangan kala itu, ternyata hal itu juga membekas di benak Oma. "Semoga dia gadis yang baik" ucapnya.

__ADS_1


"Iya Oma, Kawa yakin" Kawa memegang kedua tangan Omanya dan tersenyum meyakinkan wanita itu. Oma Rima memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.


        Semua sudah bersiap di dalam mobil, Rendra pun tak ketinggalan untuk ikut bersama dalam acara lamaran ke rumah Zahra. Segala macam barang bawaan berada di mobil yang berbeda.


Perjalanan beberapa jam seolah menjadi sangat lama, terlebih buat Kawa. Ada rasa gugup yang dia rasakan, sesekali dia menarik nafas panjang untuk membuang kegugupan itu.


"Santai lah bro" ujar Rendra yang ada di sebelahnya.


"Tau tuh...gugup banget abang" Biru menimpali. Kawa melirik ke arah adiknya dan juga Rendra secara bergantian. Bukan karena apa, hanya saja bayangan trauma masa lalu kembali menghantuinya.


"Tenang....semua akan baik-baik saja" Rendra menepuk punggung Kawa.


  ***


Persiapan di rumah Zahra sudah rampung, karena acara yang digelar sederhana, maka tak membutuhkan persiapan khusus. Ruang tamu rumahnya yang cukup luas hanya disulap menjadi tempat lesehan dengan beberapa hiasan bunga.


Zahra sudah bersiap di kamarnya, tak ada make up khusus. Dia hanya memoles wajahnya dengan make up tipis saja, tiga hari lalu Kawa mengirimkan baju untuknya agar bisa senada warnanya. Untungnya Biru yang memiliki ide untuk segera menyiapkan baju lamaran meskipun belum tahu kapan lamaran tersebut. Dan benar saja, keluarga Zahra meminta dipercepat, dan baju seragam pun sangat berguna.


"Bunda cantik" Dira berdiri di ambang pintu melihat Zahra sudah siap, Zahra menengok gadis kecil itu. Gadis kecil yang tak kalah cantik dengan memakai gaun selutut dengan warna senada.


"Bun...ini ada acara apa sih?" tanya gadis itu polos, dia sudah mendekat ke arah Zahra. Zahra mengelus rambut gadis kecil itu lembut.


"Acara lamaran sayang"


"Lamaran itu apa bunda?" celotehnya ingin tahu. Zahra nampak berfikir sejenak, bagaimana dia akan menerangkan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Dira.


"Ehm...lamaran itu acara di mana nanti Om Kawa meminta bunda untuk menjadi istrinya"


"Oh...jadi nanti bunda jadi istri om Kawa? horeeee Zahra nanti punya Ayah" teriaknya girang. Zahra tersenyum manis ke arah gadis kecilnya, dalam hati dia senang melihat Dira bahagia, tapi di sisi lain dia juga sedih, karena Pak Latif meminta Dira tinggal bersamanya nanti jika Zahra menikah.


Terlihat Bu Latif di depan pintu Zahra yang masih terbuka, melihat Zahra dan Dira begitu bahagianya, akhirnya dia bisa melihat Zahra tersenyum bahagia, pancaran senyumnya merekah seperti dulu. Dia lega bisa melihat anak perempuan yang tinggal satu-satunya menjalani hidupnya kini.


Ini bukan pertama kalinya Zahra dilamar oleh seorang laki-laki, hanya saja ini amat berbeda, karena kali ini, laki-laki yang akan melamarnya itu sudah dia kenal, dan memiliki rasa cinta yang sama. Zahra sudah sendirian di kamar karena Dira sudah diajak oleh neneknya keluar kamar, membiarkan Zahra menyiapkan mentalnya.

__ADS_1


        Mobil mulai memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar, sebuah tempat yang tak asing bagi Kawa, tetapi asing bagi keluarganya. Terlebih Saga yang baru pertama kalinya datang kesini.


Mobil perlahan berhenti di sebuah rumah yang tak lain rumah keluarga Zahra. Beberapa keluarga dekat Zahra keluar rumah untuk menerima tamu yang datang, dan Rendra dengan sigap membantu membarakan barang seserahan masuk ke dalam rumah Zahra.


"Duh...ini ya calonnya Zahra?" tanya seorang Ibu setengah baya saat bertatap muka dengan Rendra.


"Bukan Bu, itu calon mantennya masih di belakang" Rendra menunjuk Kawa yang baru saja keluar dari mobil.


"Wuih...cakep banget" pujinya.


"Memangnya saya nggak cakep Bu?" Rendra menggoda.


"Iya, cakep banget, tapi yang sana malah cakep sekali"


Rendra kicep, selanjutnya dia tertawa kecil.


"Selamat datang di kediaman kami" sambut seseorang yang baru kali ini dilihat oleh Kawa. "Perkenalkan, saya adalah Pak RT yang kebetulan ditunjuk oleh keluarga Pak Latif untuk menerima kedatangan tamu hari ini, mari silahkan masuk" ucapnya dengan Ramah.


Oma Rima mengedarkan pandangan, takjub dengan keramahan yang ditunjukkan oleh keluarga Zahra. Gotong royong masih sangat kental terlihat, bahkan Pak RT pun tak segan menyebut jika para tetanggalah yang berjejer untuk membantu di sini. Semuanya segera masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan, mereka semua duduk di bawah. Biru yang baru pertama kali kesini pun agak heran.


"Bang...nggak salah?" tanya Biru.


"Ssssttt" Ganis menyenggol bahu putrinya itu. Biru yang terbiasa melihat gaya hidup Nadin si mantan tunangan Kawa yang hedon, dan kini melihat kehidupan di sebuah desa yang berada di kota kecil itu membuat heran. Abangnya benar-benar memutar haluan, secantik apakah calon abangnya?.


Zahra yang masih berada di kamar pun semakin merasa deg-degan saat mendengar suara di ruang tamu yang mulai ramai orang bercakap-cakap, menandakan jika tamu yang dinanti sudah tiba. Dira kembali masuk ke kamarnya untuk menemaninya.


Dan akhirnya Bu Latif memanggil Zahra agar keluar menemui para tamu, karena acara akan segera dimulai.


"Zahra...mari keluar nak"


Zahra dengan hati yang masih tak karuan segera bangkit, tangan kanannya digandeng oleh Dira, seolah gadis kecil itu menguatkan Zahra.


Semua mata tertuju pada Zahra yang menampakkan dirinya di ruang tamu, dengan digandeng gadis kecil di sebelahnya.

__ADS_1


"Ini bundaku.." teriak Dira dengan senyum mengembang.


Oma Rima, Saga, Biru, dan Ganis kompak melihat ke arah di mana Zahra berada, terlebih saat mendengar celotehan Dira. Selanjutnya mereka saling melempar pandang, terlebih Oma Rima menatap Saga seolah banyak pertanyaan di benaknya.


__ADS_2