Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 19 : Hujan


__ADS_3

Mayra sudah siap dengan kameranya, selain hobby membaca buku, gadis tomboy itu juga hobby fotografi. Tas ransel sudah berada di punggung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jika musim padi yang menghijau dimulai, dia akan menghabiskan waktu di sawah dan memotret hal-hal yang indah menurutnya. Kali ini, dia akan mengajak Kawa untuk menikmati indahnya sawah yang hijau.


"Mau kemana?" tanya Pak Broto.


"Biasa pa..." jawab Mayra sambil menarik kursi, kemudian dia menghempaskan dirinya di kursi tersebut. Tas ransel yang sudah dia kenakan diletakkan di kursi sebelahnya. Dia membalikkan piring dan mengambil nasi dari tempatnya. Tak lupa mengambil lauk pauk dan sayur, kemudian dia sarapan dengan lahapnya.


"Mendung ini, alangkah baiknya kamu di rumah saja" bujuk Papanya.


"Nggak apa-apa Pa, mendung tak berarti hujan kan?" Mayra menjawab sesaat setelah dia menelan makanan. Pak Broto menatap Mayra, anak cewek satu-satunya itu memang suka membantah.


"Kamu harus jaga kesehatan kamu" imbuh Pak Broto, tangannya meletakkan garpu dan sendok di atas piringnya yang sudah kosong. Lalu tangan kanannya meraih gelas kosong. Buru-buru Mayra meraih teko air dan mengisikan gelas Papanya tersebut.


"Siap Pa....Papa nggak usah khawatir"


"Kamu bawa mobil?"


Mayra menggeleng, dia akan naik ojek online saja menuju tempat yang sudah dia sepakati untuk bertemu dengan Kawa.


"Kenapa?" Pak Broto mengerutkan dahinya.


"Nggak apa-apa Pa...lagian nggak bisa juga nanti mobil masuk tempat yang akan aku tuju, aman Pa aman...." Mayra meyakinkan Papanya.


"Tapi ini mendung Mayra...nanti kalau hujan, terus kamu sakit..." Pak Broto masih mendebat.


"Papa...aku berangkat dulu" Mayra meletakkan gelas yang sudah tidak terisi airnya karena sudah diteguknya. "Papa hati-hati ya kalau berangkat kerja...jangan marah-marah melulu, jangan narsis, dan jangan galak sama pegawainya" ucap Mayra sambil berdiri, dia tersenyum dan mendekat ke arah Papanya, lalu mendaratkan ciuman ke pipi Papanya dengan gemas. Pak Broto geleng-geleng kepala melihat Mayra.


"Kamu hati-hati"


"Iya Pa....!" Mayra sudah tidak terlihat lagi.


***


Sepanjang yang dia lihat, hamparan hijau padi yang menyejukkan mata. Mayra berdiri di samping Kawa yang sedang menyapu pandangannya ke arah hamparan sawah.


"Bagus kan?" tanya Mayra. "Kamu sudah pernah kesini belum?"

__ADS_1


"Belum" jawab Kawa singkat, dia masih sibuk menikmati apa yang dia lihat sambil menghirup udara yang menyejukkan.


"Aku setiap tahun kesini hanya untuk melihat dan mengabadikan ini, bagus lah kalau kamu ternyata menyukainya" Mayra tersenyum dan melihat ke arah Kawa.


Mayra mulai menyalakan kamera yang dia pegang dan mengambil gambar yang menurutnya bagus, tak lupa sesekali dia mengambil  pose Kawa dan memotretnya diam-diam.


"Mahal lho kalau aku jadi modelnya" Kawa tersenyum kecil. Mayra menutup mulutnya, ternyata objeknya tahu kalau dia memotret diam-diam.


"Sorry, sekalian aja sama pemandangannya, mahal juga bisa difoto sama aku" Mayra tertawa. "Selain membaca, aku menyukai fotografi" ujar menjelaskan tanpa diminta. Kawa mengangguk.


"Ayo kita kesana" Mayra menunjuk sebuah gubuk yang terbuat dari bambu. Mayra berjalan terlebih dahulu, Kawa mengikutinya. Langit masih mendung, bahkan terlihat lebih gelap dari pagi tadi.


"Mungkin hujan akan turun" Mayra mendongak ke atas. Kawa sudah duduk di gubuk. Mayra berjalan agak jauh lalu mengambil gambar Kawa yang sedang duduk di sana.


"Sudah aku bilang, ini modelnya mahal" Kawa berusaha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mayra masih berusaha.


"Aku sebenarnya suka hujan, hanya saja tubuhku tidak mencintainya" Mayra tersenyum datar, dia mematikan kameranya dan duduk di samping Kawa. Dibukanya tas ransel dana mengeluarkan beberapa camilan.


"Nih makan, enak banget bisa nyemil sambil lihat pemandangan begini" Mayra membuka beberapa bungkus camilan.


Tak berapa lama hujan mulai turun, awalnya hanya ringan, tak berapa lama hujan mulai turun dengan lebatnya. Mayra duduk sambil merapatkan jaketnya agar melindungi tubuhnya.


"Aku suka" ujar Mayra sambil tersenyum. "Sejak kecil aku ingin main hujan, tapi nggak pernah bisa, dan kalaupun hujan juga nggak boleh kemana-mana sama Papa"


"Kenapa?"


Tidak ada jawaban, hanya senyum yang mengembang di bibir Mayra.


"Kita pulang setelah hujan reda" ucap Mayra. Kawa mengangguk. "Apa kamu suka tempat ini?"


"Bolehlah kapan-kapan kita kesini lagi, tempat yang menenangkan buat healing"


"Yap...betul, oh ya ngomong-ngomong rumah kamu sebenarnya mana?" Mayra penasaran, yang dia tahu Kawa adalah pendatang di kota kecil ini.


Kawa masih melihat derasnya hujan, suara Mayra pun dikeraskan saat mengutarakan pertanyaan tersebut, kalah dengan suara hujan.

__ADS_1


"Rumahku?" Kawa melihat Mayra. Mayra mengangguk.


"Rumahku ada lah di suatu tempat" Kawa tertawa kecil, dia tidak ingin seorang pun tahu dia.


"Yah....kamu ini, ya udah kalau nggak boleh tahu, lagian aku juga nggak bakalan rampok rumahmu" Mayra menyeringai. Kawa tertawa kecil mendengar jawaban Mayra.


Tak berapa lama hujan pun reda, Mayra nampak kedinginan. Beberapa kali dia nampak kesulitan bernafas. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya menghalau rasa dingin. Sepanjang berjalan di pematang sawah, dia nampak menggigil.


"Apa kamu baik-baik saja?" Kawa kelihatan khawatir melihat Mayra.


"Oh baik, aku baik-baik saja, hanya sedikit kedinginan"


"Aku antar pulang ya?"


"Nggak...nggak usah, aku naik taksi online saja" Mayra tidak mau membuat Kawa dalam masalah, jika Pak Broto tahu kalau Kawa yang mengntarkan dia pulang, bisa-bisa Kawa akan kena damprat Papanya itu.


"Tapi kamu harus segera sampai rumah kan?" Kawa masih saja khawatir.


"Nggak apa...aku udah pesen taksi nih, nantai sampai di tempat kamu parkir motor tadi pasti taksinya ada"


Benar saja, setelah mereka tiba di tempat Kawa memarkir motornya, taksi sudah menunggunya. Mayra segera masuk ke dalam mobil dan merebahkan tubuhnya.


"Cepat ya pak" pintanya sambil mencoba bernafas normal.


***


Kawa bersiap untuk berangkat kerja, kali ini dia mendapat giliran kerja sore. Nampak Rendra baru saja pulang dari toko dan melepas tali sepatunyadi teras. Dia melihat ke arah Kawa.


"Santai saja, Pak Broto nggak ada, telat juga nggak apa-apa" ujarnya santai, tangannya meletakkan sepatunya di rak sepatu yang letakknya tak jauh dari dia melepasnya tadi. "Dapat telpon kalau anaknya sakit" Rendra menjelaskan.


"Hah?" Kawa terkejut.


"Kenapa terkejut begitu? kamu nggak masuk kerja juga nggak apa-apa sih, ada Alya dan lainnya, aman. Sekali-kali bolehlah bos besar bolos" Rendra mengompori. Kawa mengibaskan tangannya, setelah memakai sepatu, dia merogoh ponsel dari saku celananya dan mengirimkan pesan ke Mayra.


"Aku berangkat dulu" Kawa pamit pada Rendra dan segera menuju toko dengan perasaan yang tidak enak. Sesampainya di toko, Kawa segera melihat ponselnya. Melihat pesan dari ponselnya membuatnya tidak nyaman saat bekerja, ingin rasanya dia segera menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2