
Meskipun belum diumumkan secara resmi, tapi media mulai mengendus jika Kawa adalah salah satu pewaris Arjuna Grup. Pembahasan seru media kali ini adalah dia. Mau tidak mau Kawa pun harus siap dengan keadaan ini. Sontak berita ini membuat gaduh kalangan masyarakat.
"Ini serius?" gumam Mayra sambil menikmati camilan keripik kentang, Mayra menaikkan volume televisinya agar lebih terdengar jelas. Matanya masih fokus pada layar televisi. Di berita tersebut disebutkan jika Kawa lah yang akan menjadi pewaris Arjuna Group kelak. Di mana kini dia sudah mulai memegang kendali salah satu perusahaan besar itu.
"Pa..." Mayra melihat ke arah Pak Broto yang baru keluar dari kamarnya.
"Hehm" hanya deheman yang dia dengarkan. Mayra tahu jika Papanya kemarin ikut dalam pertemuan dengan perusahaan Kawa.
"Beneran ya pa ini?" Mayra menunjuk ke arah layar televisi. Pak Broto melihat ke arah yang ditunjuk oleh putrinya itu. Nampak wajahnya yang masih shock. Teringat kejadian siang tadi. Mayra memperhatikan Papanya.
Ingatannya tentang masa lalu dengan Kawa kembali berkelebat, saat dia meremehkan laki-laki itu dengan sesuka hatinya. Pak Broto mengusap wajahnya dengan kasar.
"Andai saja Papa tahu jika dia adalah pemilik toko yang Papa pegang" Pak Broto menghela nafas panjang, lalu menghembuskan melalui mulutnya, ada tekanan batin yang dia rasakan.
Mayra menatap Papanya, lalu senyumnya mengembang.
"Waktu tak akan pernah kembali Pa, jadi mari kita jadikan pelajaran untuk ke depannya" sahut Mayra bijak, tak ingin merasa sok pintar di hadapan Papanya itu. Tak juga ingin menyalahkan.
Rasa bersalah menggelayutinya, pernah memakinya karena dekat dengan Mayra. Lebih parahnya lagi dia enganggap bahwa Kawa tak sebanding dengan keluarganya. Kini semua berbalik, dia tak ada apa-apanya dengan laki-laki itu.
"Papa...." Mayra memegang kedua tangan laki-laki itu.
"Maafkan Papa, belum bisa menjadi Papa yang baik"
"Papa adalah ayah terbaik" Mayra menenangkan. Laki-laki itu terlihat tersenyum.
"Mungkin setelah ini Papa akan dipecat" ucapnya pasrah, matanya menyorotkan nada putus asa.
"Memangnya Papa tahu darimana?" Mayra tahu jika Kawa tak sejahat itu.
"Entahlah"
***
__ADS_1
"Ini yah tehnya" Zahra meletakkan secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng hangat di meja, depan ayahnya. Ayahnya yang sedang membaca majalah lalu melihat ke arah Zahra, dia melepas kacamata dan meletakkan majalahnya di meja.
"Duduklah" titahnya. Zahra mengangguk dan duduk di hadapan ayahnya.
"Sudah menlihat dan sudah mendengar?" tanyanya.
"Iya yah"
"Ayah masih ingat Airin"
Zahra mendongak dan melihat ke arah Ayahnya, Airin kakaknya yang meninggal karena depresi masih membekas di hati ayahnya, dan di hatinya juga.
"Bagaimana Airin sangat senang memiliki seseorang, dan orang itu kaya, hingga membuatnya hamil dan ditinggal begitu saja, dan akhirnya...." Pak Latif tidak melanjutkan kalimatnya. "Dan sekarang, lihat. Dia bahkan lebih dari berkali lipat kayanya, iya kan?"
Tidaklah salah apa yang dikatakan oleh ayahnya, Kawa memang kaya. Bahkan membuatnya minder, saat pertama kali tiba di rumah Kawa, baginya, itu bukan rumah, tapi lebih mirip istina yang begitu megah. Semua isinya semua barang mewah. Zahra merasa dia sedang tersesat di belahan dunia yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kamu kemarin?" tanya Pak Latif, nada bicaranya datar, ada yang mengganjal di hatinya.
"Bahkan untuk acara begini pun sudah terdengar menyeramkan" trauma yang dirasakan oleh Pak Latif benar-benar menjalar, masih sangat membekas dan melukai hatinya. "Bagaimana jika kamu mengalami nasib yang sama nanti?" gumamnya, menatap wajah Zahra. "Bagaimana jika keluarga mereka tidak sebaik apa yang kamu lihat kemarin?"
Zahra teringat akan ramahnya keluarga Kawa menyambut kedatangannya. Ganis begitu bersemangat menceritakan bagaimana putranya itu akan mempersuntingnya. Ganis juga sangat ramah padanya, dan sama sekali tak terlihat membedakan status sosial mereka. Begitu juga Oma Rima yang sengaja mengajaknya ngobrol berdua, mereka ngobrol lama seolah sudah lama kenal.
"Tolong jaga cucu Oma ya nak, jangan sampai dia terluka untuk kedua kalinya, cukup sekali saja Oma melihatnya terluka karena orang yang dia cintai" ungkapnya dengan wajah sendu menatap Zahra.
"Iya Oma, Insyaallah akan zahra jaga"
"Hah...hampir saja dia menikah, hanya saja takdir menunjukkan bahwa mantan calonnya bukanlah orang yang baik, di satu sisi Oma senang karena dia tak jadi dengan perempuan itu, tapi di sisi yang lain Oma ikut sedih saat melihat dia begitu terluka. Tapi kini, sudah ada kamu, semoga kalian bahagia ya nak" harap Oma sambil merekahkan senyumnya. Zahra mendengar cerita dengan seksama, Kawa sendiri tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
"Semua orang punya masa lalu nak, tapi kita hidup untuk masa depan kan? tidak ada orag yang sempurna di dunia ini, tak perlu ada yang disombongkan" imbuhnya, gurat-gurat kecantikan masih terlihat jelas di wajahnya yang sudah nampak sepuh itu. Zahra kembali mengangguk dan tersenyum.
"Kelak, jika kalian sudah menikah, tinggalah di sini, mendukung suamimu. Kalau memang nggak kerasan, bisa lah nanti menghuni rumah yang lain, pilih sesukamu"
Zahra meneguk ludahnya, dia bukan cewek matre. Dia menegaskan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan keluarga kami ya nak, bukan berniat untuk memamerkan apa yang kita punyai, hanya saja Oma teramat senang cucu Oma mau menikah"
"Iya Oma" Zahra mengangguk. "Oma..." panggil Zahra. Wanita itu melihat Zahra dan tersenyum, tangannya meraih tangan Zahra.
"Apa nak? ada yang ingin kamu utarakan dengan Oma?"
"Maafkan saya"
"Kenapa?"
"Maafkan saya dan keluarga saya, kami hanya keluarga sederhana"
Oma Rima memeluk tubuh Zahra, "Bukan itu maksudnya sayang...tak ada masalah sayang. KIta semua sama, kita sama" Oma Rima mengelus punggung Zahra.
Begitulah Oma Rima dan juga Bundanya Kawa di mata Zahra, mereka sangat baik. Meskipun dengan Saga dia belum pernah berbicara secara khusus, Zahra pun yakin, Papa Kawa itu juga orang yang baik.
"Ayah takut"
"Zahra akan membuktikan jika Zahra akan baik-baik saja yah, Zahra akan bahagia" Zahra meyakinkan. Meskipun keluarganya tidaklah sempurna, entah salah siapa menjadi seperti ini. Tapi Zahra tak ingin berlarut dalam cerita masa lalu.
"Zahra akan mengubah cerita buruk itu yah. Zahra dan keluarga ini akan baik-baik saja"
Selain luka yang mereka rasakan, cibiran orang-orang di sekitar membuat mereka trauma. Gunjingan dari para tetangga saat melihat Airin mati konyol membuat Pak Latif memutuskan pindah hingga di kota kecil ini.
"Nanti kita ziarah ke makam kak Airin ya yah, kita ajak Dira sekalian, biar Dira tahu"
"Bahkan dia belum tahu kalau Airin adalah Ibunya" ujar Pak Latif, Zahra mengangguk. Ini adalah salah satu tugasnya mengatakan jika Airin, ibu kandungnya sudah meninggal.
"Iya yah, kita jalanani satu-satu"
"Ayah ingin bertemu dengan Kawa, segera" pinta Pak Latif. Zahra menatap ayahnya lekat.
"Iya yah"
__ADS_1