
Zahra
Hatinya terasa berdesir, ada rasa bahagia saat melihat seseorang yang ada di hadapannya. Beberapa hari yang terasa aneh tanpa melihat Kawa.
Mereka berada di meja yang sama, saling duduk berhadapan. Kawa memesan minuman, begitu juga dengan Zahra.
"Apakah dia senang?" tanya Kawa memecah keheningan. Zahra mengaduk minumannya, lalu mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyumnya. Kawa ikut tersenyum, baru kali ini dia melihat Zahra senyum lepas di hadapannya.
"Syukurlah" Kawa kembali tersenyum.
"Serindukah ini aku padanya?" tanya Zahra dalam hati, dia berusaha untuk mengendalikan degup jantungnya. Jujur perasaan ini baru satu kali ada dalam hidupnya.
"Bahkan dia ingin mengucapkan langsung padamu" Zahra kembali mengaduk minumannya, dia berkata tanpa melihat mata Kawa, rasanya itu tak akan terjadi, dia merasa tak bisa, bahkan takut jika Kawa akan membaca perasaannya lewat tatapan matanya.
"Oh ya...? ayo...kapan kita bisa main bersama?" Kawa menimpali, ini jawaban yang sama sekali tidak terduga dari Kawa. Membuat Zahra kerepotan untuk menjawabnya.
"Oh itu....ehm..."
"Kenapa?" Kawa segara bertanya, manusia yang jarang-jarang bisa akrab dengan orang itu mendadak ingin selalu berbicara saat bersama Zahra.
"Ya...nanti aku sampaikan kepada Dira"
"Iya, aku menunggu kabar baiknya" Kawa kembali melempar senyumnya, kali ini Zahra sempat melihat senyuman itu sekilas. Beberapa kali dia menghela nafas panjang, tentu saja dia lakukan sehalus mungkin agar tidak terlihat oleh Kawa.
"Kamu suka membaca?" Kawa memperhatikan tumpukan buku yang terlihat dari kantong plastik yang transparan, berada di sebelah minuman milik Zahra.
"Iya" jawab Zahra singkat. "Kalau kamu?" Zahra berbalik tanya. Entah kekuatan darimana dia menjadi banyak bicara pada Kawa.
Kawa menggeleng perlahan, Zahra melihat Kawa lalu tersenyum kecil.
"Aku harap kamu memaklumi orang yang nggak suka baca" Kawa mencoba mengasihani dirinya sendiri agar tidak terlihat buruk di mata Zahra.
"Oh...enggak, itu hak orang, aku cuma nanya saja sih" Zahra kembali menyunggingkan senyum. "Aku suka baca sejak kecil, dan sampai sekarang, karena membaca itu menyenangkan, merasa ada di dunia yang berbeda"
"Oh...iya sih, aku dengar juga begitu"
Zahra mengangguk. Dia melirik ke arah tumpukan buku yang baru saja dia beli tadi.
Kawa...
Tidak pernah dia sangka jika hari ini dia akan bertemu dengan Zahra, perasaan yang merusak suasana hatinya beberapa hari terakhir mendadak kembali hangat dan tertata. Pada saat melihat sorot mata Zahra, pada saat mendengar suara lembut Zahra, seolah rindunya terobati.
"Apakah aku memang merindukannya?" tanya Kawa dalam hati saat melihat gadis itu tepat di hadapannya saat merapikan buku yang tercecer. Beberapa detik tertegun, Kawa akhirnya menyadari jika dia harus merapikan buku yang tercecer.
__ADS_1
"Maaf" ucapnya tulus.
Melihat Zahra yang sudah selesai berbelanja, Kawa mengajak Zahra untuk sekedar minum di sebuah kedai yang tidak jauh dari tempat bazar buku.
"Maaf jika sedikit memaksa" ucap Kawa sambil tersenyum. Tak ada jawaban dari Zahra, tapi dia mengekor.
Mumpung Mayra juga masih asyik berada di dalam untuk memilih buku yang dia suka.
"Mau makan apa?" tanya Kawa sambil menyodorkan daftar makanan dan minuman. Zahra menggeleng, dia tidak ingin makan.
"KIta sudah berada di sini, tak elok rasanya jika aku makan dan minum sementara di depanku tidak" Kawa memberikan daftar menu padanya Zahra.
Tak ada pilihan, benar apa yang dikatakan Kawa, memang rasanya menjadi tidak enak jika kita makan di depan orang yang tidak ikut makan.
"Aku mau minum saja"
"Terima kasih sudah mau menemani duduk dan minum, aku juga minum saja"
Mereka akhirnya memesan jus.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Kawa sambil mengaduk jus jeruk yang dia pesan. Ada rasa penasaran dalam hatinya.
"Sendirian" jawab Zahra singkat, gadis itu masih enggan menatapnya.
"Kamu?" Zahra balik bertanya.
"Sama teman" balas Kawa santai.
"Kucari-cari...ternyata kalian di sini" teriak Mayra dari jarak beberapa meter. Tangannya menenteng sebuah buku yang agak tebal. Zahra dan Kawa menoleh ke arah yang sama, yaitu Mayra yang datang menghampiri. Dia menarik kursi yang ada di dekat Kawa dan Zahra.
"Oh...kenalin, aku Mayra" Mayra mengulurkan tangannya ke arah Zahra, Zahra menyambutnya sambil tersenyum.
"Zahra" balas Zahra ramah.
"Eh sebentar, aku mau pesan minum dulu, haus" Mayra meninggalkan kursinya sejenak dan memesan minuman langsung tanpa memanggil penjualnya.
"Itu?" tanya Zahra.
"Iya, sama dia, teman" buru-buru Kawa menegaskan, dalam hati kecilnya dia tidak ingin Zahra salah paham dengan situasi saat ini. Zahra tersenyum kecil.
"Kamu kenapa nggak masuk sih?" tanya Mayra sesaat ketika dia sudah kembali duduk di meja yang sama. "Padahal seru loh di dalam"
"Banyak banget orangnya, jadi aku pusing" jawab Kawa.
__ADS_1
Mayra melihat tumpukan buku yang ada di meja, matanya berbinar.
"Oh kamu suka baca juga?"
"Iya" jawab Zahra lembut.
"Kapan-kapan kita bisa lah ya nyari buku bareng"
"Boleh..."
Dua gadis dengan karakter berbeda yang ada di depannya, Kawa merasa beruntung memiliki teman yang baik di kota ini.
Hampir satu jam mereka bertiga tertawa dan berbincang, akhirnya mereka harus pulang ke peraduan masing-masing.
"Kamu yakin tidak ingin kita tunggu hingga dapat angkot?" tanya Mayra, Zahra menggeleng sambil tersenyum, memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Sudah tidak usah, aku baik-baik saja dan sudah terbiasa kok, kalian pulanglah dulu, hati-hati di jalan" Zahra melambaikan tangannya.
"Baik, hati-hati juga ya" balas Mayra sambil memakai helmnya.
Kawa mendekat ke Zahra sambil masih menenteng helm di tangannya.
"Atau aku nanti balik ke sini jemput?" Kawa menawarkan.
"Oh enggak enggak...nggak usah" Zahra dengan tegas menolak.
"Atau aku ikut naik angkot saja ya?" Mayra menawarkan diri.
"Eh jangan, sudah....kalian pulanglah, tidak apa-apa...sudah biasa, kapan-kapan kita ketemu lagi. Tuh sudah ada angkotnya" Zahra menunjuk sebuah angkot yang berhenti di depannya.
Akhirnya Kawa dan Mayra menyerah.
"Hati-hati" bisik Kawa.
Zahra mengangguk, dia melihat Kawa dan Mayra dari dalam angkot yang berjalan, lalu tersenyum tipis.
Kawa memakai helmnya dan segera beranjak dari tempat tersebut. Mayra segera naik ke atas motior dan berpegang erat pada tubuh Kawa saat motor sudah berjalan. Kawa terkejut saat Mayra melakukan itu.
"Aku takut jatuh" Mayra sedikit berteriak pada Kawa, seolah tau apa yang dirasakan oleh Kawa. Kawa tidak menjawab. Hari sudah mulai gelap.
"Bukan aku ingin mengambil kesempatan, tapi aku ingin orang yang ada di belakangku ini adalah kamu, Zahra..." batin Kawa sambil terus menatap jalanan. Sementara Mayra semakin mengeratkan pegangannya.
"Tapi aku berterima kasih, sudah berkenan memberikanku kesempatan duduk bersama hari ini" Kawa tersenyum simpul.
__ADS_1
Maafkan author yang yang yang lagi-lagi tidak bisa update dikarenakan sibuk punya tugas membuat modul dan lain-lain. hihihihi. Pengen banget up setiap hari, tapi apalah daya...maaf ya....love love kalian